Emak ibarat Cahaya Mentari pagi. Cahayanya lembut, menerpa angin sepi-sepoi. Udara terasa sejuk seperti bernaung di bawah pohon Mahogani. Emak berputra tiga, dan memiliki putri empat. Aku anak perempuan setelah putra bungsu, tepatnya aku anak nomor enam.
Emak perempuan berhati lembut. Berjiwa lapang dan super sabar. Perasaanku sepanjang hidupnya aku tak pernah menangi (mengetahui) beliau marah. Tugasku cuma satu belajar, dan dasar aku kutu buku, suka banyak baca buku. Jika aku sudah membaca buku, bisa berjilid-jilid buku. Sambil duduk di kursi, rebahan di Kasur, atau membaca di Teras. Nah, jika aku mulai membaca buku begini, aku bebas tugas, karena Bapakku mengira, aku sedang belajar he he.
Emak adalah istri yang sabar, setia menemani bapak, meski Bapak galak wk wkw. Bapak kelihatan galak karena suka menghukum aku. Emak juga tukang masak yang handal . Bila waktunya memasak bancaan (kenduren) atau berkat (Nasi Box yang diantar ke tetangga -tetangga), Emak paling jago bikin bumbu. Emak juga suka masak jajanan di sore hari. Ada Telo goreng, Getuk, Gemblong, Naga Sari, Kue Jagung, Kolak, atau bubur. Jika aku sakit, maka Emak akan memasak bubur sumsum kesukaanku. Oh ya jajanan tadi dibuat banyak, dan nantinya akan dijual keliling sama Mas Abu (kakak no 5). Sedangkan aku berangkat sekolah Madrasah Diniyah sore hari. Untuk dapat uang saku, aku mesti minta uang receh Mas Abu jika dagangan sudah laku. Kadang aku dimarahi Mas Abu karena belum laku, aku sudah rewel minta uang jajan. Lalu diambilnya pisang goreng atau ketela godok untuk ganti uang saku he he.
Ketika aku jatuh sakit waktu kecil, aku digendong bapak naik Metro mini ke Kabupaten Rembang, untuk berobat ke dokter. Jika sakit begini, Bapak mesti baik-baik sama aku, ramah, dan perhatian. Pulang berobat nantinya aku mesti minum obat yang diseduh dalam sendok oleh Bapak. Bapak orangnya disiplin, aku harus manut jika minum obat. Pernah kuingat aku diminum obat tetes PPO , dicampur obat tubruk. Padahal PPO itu obat luar/ obat oles/ mirip minyak kayu putih. Namun demikian anehnya, kok ya sembuh. Malamnya Emak menjagaku, badanku dipijit-pijit. Inilah kenangan yang tidak bisa kulupa sepanjang jaman.
Sekarang aku sudah kuliah, kuliah semester satu di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro (1991). Aku mulai adaptasi, dan mengikuti banyak kegiatan ekstra. Banyak kegiatan yang kuikuti, sehingga aku menjadi sibuk. Kadang liburan pun aku masih mengikuti kegiatan di luar kota, seperti Makrab atau Sertijab. Ibuku sampai menyurati aku untuk pulang ke rumah Lasem.
Pernah saking banyaknya kegiatan aku kelehan, dan aku jatuh sakit. Badanku meriang dan pegal-pegal. Rasanya Demam, badan seperti dilolosi (ditarik) . Aku memutuskan pulang ke Lasem, naik Bus Indonesia jurusan Semarang- Surabaya.
Sampai di rumah yang kutuju pertama adalah Emak. Emak yang memiliki senyum, seperti Cahaya bulan. Emak yang tenang dan lembut seperti Cahaya Mentari pagi. Emak yang gemulai, hampir tak pernah marah.
“Mak awakku loro kabeh.” Kataku sambil rebahan. (Mak, badanku sakit semua)
Emak tersenyum lalu aku dipijitin dan dikeroki. Mengenai kerokan ini Emak sangat lihai, tidak terasa sakit, namun mantap. Kerokan itu dibuat bergaris-garis mengikuti arah urat punggung. Habis itu punggungku diblonyoi (dibalur) minyak kayu putih. Badan rasanya panas, hangat . Oh ya kerokannya pake uang logam ya, jaman dulu pake uang logam 100 rupiah.
Anehnya setelah dikeroki aku jadi ngantuk lalu tertidur. Lalu Emak masak jangan (sayur) Namanya Kelo Mrico (Merica) yang sangat pedas. Bila makan aku kepedasan, hidung sampai meler-meler. Inilah tujuan Emak, dia sengaja masak kuah panas pedas agar hidungku keluar ingus. Besoknya badanku terasa enak dan sembuh. Ajaib kan.
Emakku ini mendidik, menghantar aku sampai menikah. Sehari sebelum menikah Emak memberi nasehat satu kalimat namun sederhana maknanya, kunci langgeng buat membangun rumah tangga.
“Nak didemek wong Lanang meneng wae. Wong Lanang kuwi nafsune gede, Awan-awan yo kadang njaluk, layani sing apik.” Begitu nasehat Emak di suatu siang. (Kalau dijamak suami kamu diam saja turuti, Karena orang Laki itu nafsunya besar. Siang-siang juga kadang minta jatah, layani yang baik).
Aku mengikuti nasehat Emak, dan selalu kuingat dalam rumah tanggaku. Urusan ranjang tidak pernah menjadi masalah , aku bisa mengimbangi.
Hingga tiba suamiku jatuh sakit. Suamiku terkena sakit diabetes, kakinya terluka. Awalnya suamiku dibawa temannya ke Tabib, dan kami dikasih obat puyer yang bisa diminum, dan dibubuhkan ke kaki bekas luka. Setiap pagi kaki suamiku harus direndam dalam air hangat godokan daun Pacar dan buah pinang. Air rendaman itu berwarna merah. Habis berendam kaki yang luka dibubuhi puyer, lalu dibebat dengan kain putih. Kadang kain putih ini sampai berdarah-darah. Emakku ini setia menemaniku di rumah kontrakan. Kadang aku cemas, bingung, dan takut sewaktu-waktu suamiku anfaal.
“Bojomu ki rak sah mbok pikir, pasrahke sama Gusti Allah. Sing penting anakmu keurus.” Nasehat Emak. (Suamimu ini ngga usah kamu pikir, serahkan sama Tuhan. Yang utama anak-anakmu diurus yang benar)
Emak juga ikut mendoakan keluarga kami. Setiap subuh Emak mesti baca-baca wirid dan mendoakan kami. Emakku juga pemberani dan sakti. Beliau tidak takut binatang liar seperti Ular. Pernah di dapur kami datang Ular sepanjang 2 meter, dan berdiameter 10 cm. Dengan tenangnya Emak diam tetap masak, menggoreng tempe di atas kompor. Padahal Ularnya berada di bawah kompor.
“Tenang wae, rak sak kaget opo mbengok-mbengok. Tenang nanti Ularnya engko rak metu dewe no.” Saran Emak pasti. (Tenang saja ngga usah panik atau teriak. Tenang saja, nanti Ular nya pasti keluar sendiri). Benar saja selesai masak kita tengok Ular besar itu sudah menghilang.
Inilah kesaktian Emak. Emak juga suka wira usaha, jualan kaki lima. Jualan yang pernah dilakukan adalah: Buka Warung Kelontong, Jualan sayur mayur, Jasa Titip, Jualan kopi, atau jajanan. Emak gue juga tahan banting, ganti-ganti usaha tanpa mengeluh. Warungnya tutup karena kurang modal banyak diutang orang. Dasar Emak orang ngga enakan, masa yang nagih kakak perempuanku dan ini sering tidak berhasil. Emak juga sering ditipu, kala terima Jasa Titip belanja di Pasar. Barang dagangan diambil tukang warung, di-bon dan tidak dibayar. Al hasil Emak kurang modal, dan gagal.
Namun Emakku ini tak pernah mengeluh dan curhat sama anak-anaknya. Aku tahu cerita kebangkrutan ini dari kakak Perempuan yang ditugasi Nagih. Selalu gagal tidak dibayar, dan Emak pun diam saja. Ah Emak-Emaak…
Nikmatuniayah lahir di Kota Lasem Rembang pada tanggal 14 Februari 1973. Pendidikan yang ditempuh Fakultas Ekonomi S1 dan S2 di Universitas Diponegoro Semarang. Nikmatuniayah menikah dengan Teguh Yuana pada tanggal 18 Agustus 1999. Sebagai ibu rumah tangga dia dikaruniai dua anak laki-laki yang ganteng. Nikmatuniayah adalah Dosen negeri di Politeknik Negeri Semarang. Nama pena, Nikmah Yuana ini juga founder Rumah Baca Sampun Maos ( sejak 16 Agustus 2016), dan Lapak Baca Taman Tirto Agung (sejak Agustus 2024). Nikmah Yuana menulis Blog di sampunmaos.com, seorang Conten creator Youtube Sampun Maos, musik dan film. Nikmah Yuana adalah penulis scenario Film, Puisi, Cerpen, dan Antologi. Nikmah Yuana membuka Class Room buat anak-anak belajar akting dan film. Nikmah Yuana bertekad memberdayakan budaya Nusantara Indonesia, dengan musik angklung .
Di bidang akademik Nikmatuniayah menulis buku mata kuliah ber – ISBN : Akuntansi Biaya, Sistem Informasi Akuntansi, SAK EMKM bagi UMKM, Etika Bisnis dan Profesi, dan Akuntansi Zakat. Yang terbaru adalah buku ISBN Sistem Akuntansi Pemerintah. Dia pernah memenangi sebagai Best Paper pada SNAPP di Bandung 2013, Seminar Nasional Akuntansi di UB Malang 2015, Best Paper 2 di SNAV 8 Palembang 2019, dan Best Presenter di Sentrikom Polines 2024.
Buku yang sudah terbit : Dosen Kentir Belajar Nyetir; Cinta dibalik Hemodialisis; Ayo Mondok. Nikmah Yuana sudah menulis 14 buku Antologi ber ISBN. Dua di antaranya Cernak “Pulang kampung” dan Cerpen Thriller “Rekontruksi Terakhir” dari Penerbit Babad Bumi. Ibu berputra dua ini memiliki motto: Hidup untuk berjuang, Berjuang untuk Hidup.
