Origamy adalah kucing mujair Jantan penguasa rumahku. Dibilang penguasa rumah karena dialah yang menguasai tetorial rumah. Setiap ada kucing liar masuk rumah, langsung dihising dikejar sampai mampus. Tidak hanya kucing liar, kucing adopsiku si Obey juga diusir dari rumah. Awalnya aku ngga ngeh kukira biasa saja kucing, ada musim kawin keluar rumah berapa hari, lalu pulang kembali ke rumah.
Waktu itu malam hari terdengar meong-meong keras, suara meong bertarung. Kutengok Ory sedang bersiteru dengan Obey. Ory ini punya watak menguasai tempat favorit kucing-kucing lain. Bila ada tempat favorit kucing, misal di atas lemari, di dalam kardus, di dalam Box, dia ambil alih. Sampai Sephia (Kucing betina putih) yang menemukan tempat pertama harus pindah, dan cari tempat baru.
Kali ini tempat favorit Obey, di pojokan ranjang (tempat tidurku). Obey yang biasanya mengalah kali ini melawan. Langsung deh siap siaga, cakar-cakaran, Obey bergeming. Kali ini Ory tanpa ampun mirip Singa, sampai tak geplak (pukul) saking jengkelnya. Saking takutnya Obey sampai pup di ranjang. Karena aku jengkel tak pukul semua, sambil teriak, “Pergi sana, kalau nakal tak buang lho!”
Dengan bersungut-sungut pup itu aku lap pakai tisu, dan saya lap pake kain basah. Ke dua kucing itu lari terbirit-birit.
Esoknya dua hari, tiga hari Obey ngga pulang-pulang. Ory selalu kuberi pengertian untuk menjaga saudara-saudaranya. Aku merasa bersalah habis memukul Ory, kugendong lalu minta maaf.
“Ory jangan galak-galak, disayangi saudarae. Obey diajak pulang ya.”
Satu minggu kulihat Obey pulang, aku gendong lalu kuajak tempat makan. Kusuruh makan, Obey makan sambil sesekali nengok takut ada Ory. Muncul Ory, langsung deh dihising sama Ory, lalu dikejar sampai kebon.
Setelah itu terjadi kucing-kucingan antara Ory dan Obey. Bila Ory tidak kelihatan di rumah, Obey tahu aja datang ke rumah. Lalu Obey cepat-cepat makan sambil tolah toleh. Kelihatan luchu dan kasihan sebenernya. Kadang aku ikut menjaga Obey selama makan, bila kelihatan Ory mau masuk, kututup pintu dapur .
Sejak itu Obey datang sembunyi-sembunyi, pas jam tidur Ory. Ory tidur di atas rak sepatu setelah menguasai area Poppy. Obey berjingkat-jingkat pelan… lalu menuju kotak makan. Dia makan cepat-cepat sambil tolah toleh.
Kali ini Ory kebangetan, masa kucing adopsi orange kecil dihising pula. Si Oyi (kucing oren kecil) meradang sambil mencakar-cakar.
“Meong-meong!!!” dengan suara lantang.
Kusamperi Ory dan kubilang,” Ory ini saudaramu, masih kecil. Jangan digalaki, dijaga. Yang digalaki kucing liar aja ya.”
Seperti mengerti sejak itu Ory selalu jaga pintu di depan. Setelah aku beres-beres rumah, menyapu dan mengepel, dia duduk bersandar dipintu. Seperti duduknya kucing, luchu sih.
Ada kucing betina baru datang warna putih dan orange. Namanya Poppy karena ada poni di kepalanya. Poppy ini awalnya juga dimusuhi sama kucingku di rumah: Sephia, Obey, dan terutama Ory. Tapi Poppy ini kekeuh ngga mau pergi, jadinya dia ikut makan sama-sama di rumah.Meski selalu dihising, dia tetap di rumah. Waktu makan ikut makan, tidur di atas ranjangku. Kalau aku lagi sholat, waktu duduk berzikir , dia naik di atas pangkuanku dan menungguku sampai selesai. Seolah dia mencoba merayuku. Al hasil sekarang dia jadi anggota Family Cat di rumahku.
Waktu Ory dan Obey birahi kulihat ke dua kucing itu bergantian mendekati Poppy. Poppy santuy aja didekati dua cowok. Lama-lama perut Poppy jadi gendut gimbal gimbul.
“Kamu hamil ya Poppy? Anak siapa tuh dalam perutmu: Obey apa Ory?” Dia santuy aja jalan gimbal gimbul. Makannya jadi banyak dan sering. Tengah malam juga mendekati kakiku elus-elus.
“Meong-meong!” Menuju kotak makan.
“Oh kamu lapar.” Kuberi sedikit makan yang sudah tersedia di lemari.
Selang berapa bulan perut Poppy kempis.
“Poppy anakmu? Kamu buang ya di kebon?”
Kukira Poppy baby blues setelah melahirkan. Ketika aku masuk kamar adek (putraku), tiba-tiba dilantai ada baby kitten warna hitam, masih ada tali pusar dan ketuban. Piye ki Poppy apa ngga paham melahirkan bayi.
Besoknya tukangku menemukan bayi kucing tiga ekor di bawah Kasur kamar adek. Kulihat warnanya oren, calico, dan tuxedo, namun yang tuxedo mati.
Kuambil baby kitten warna hitam yang ada di kamar. Sebelumnya aku siapkan peralatan yang sudah disteril ( saya panasi diatas kompor ). Tali pusat tersebut aku gunting , lalu kulap pakai obat merah. Kuletakkan baby kitten kumpul bersama dengan anak-anak yang lain. Baby kitten tuxedo yang mati kubungkus tisu putih, lalu aku kubur di kebon. Dalam semalam aku sudah menjadi bidan kucing dan tukang gali kubur (sedih sih).
Anak-anak kucing itu menyusu, lalu dipindah ke dua tempat, bawah ranjang, dalam lemari. Suatu saat anak kucing itu dipindah Poppy tanpa tahu dimana anaknya. Aku tanya ke Poppy,”Anakmu mbok pindah ning endi? ( Anakmu dipindah Dimana)?”
Aku cari cari ke kolong, dalam lemari. Eh ternyata dipindah ke loteng. Satu anaknya ada yang jatuh dari tangga , dan mati. Berikutnya yang dua juga mati. Mati semua anak kucing Poppy, mungkin karena pernikahan dini he he (sedih sih). Atau Poppy baby blues kurang pintar mengasuh bayi.
Kulihat Poppy santuy goleran perutnya kempes. “Anak-anakmu mana Poppy?” Aku cari-cari anaknya yang tinggal satu -satunya , Ireng . Eh ada di bawah tangga, tergeletak dan mati. Poppy.. Poppy..

By Nikmah Yuana
Cerita dlm Antologi My Pet Alineaku