BEJANA KOSONG

Oleh: Nikmatuniayah, Pulesari 1 H 1438 H               Sombongnya raga ini Yang berasa berakal tinggi Padahal di atas gunung masih ada gunung   Tingginya hati ini Yang berasa beramal ‘tuk orang papa Padahal amalan selalu berkurang kurang jika disebut   Susahnya untuk ikhlas; seperti semut hitam yang meniti batu hitam […]

Continue Reading

PUISI HARAPAN

Oleh: Nikmatuniayah, Semarang 30 September 2015 Aku tidak tahu bagaimana nanti Aku tidak yakin selesai nanti Sepertinya aku ikut angin saja atau barangkali arus saja Walau bagaimana  nantinya pamungkas akhirnya Tapi lebih baik dari pada tidak Aku ikut arus angin baik ini Walau bagaimana ketidaktahuan ini Apakah sampai akhir atau tidak Aku punya keyakinan Seperti ikan […]

Continue Reading

JENDELA SHOLAWAT

Oleh: Nikmatuniayah, Lamper 26 September 2016 Meski tak pantas Aku memang tak pantas Amalku selalu berkurang kurang, karena ria   Tapi aku umatmu ya Muhammadku, Kau dulu sudah berjanji, “Ummati Ummati”   Aku satu dari umatmu yang berjarak Berabad darimu Memohon belas kasihmu Karena aku mengkhasihimu Di sana jendela Sorgamu Lihat aku ditinggal   Ingat aku […]

Continue Reading

Parenting 14 “Menyapih Anak dengan Cara Damai”

Oleh: Nikmatuniayah Anak yang sudah masuk tahun ke dua, mesti mulai disapih dari kegiatan menyusui. Tujuannya agar anak tidak tergantung dengan ibunya dan mulai mengenal lingkungan luar. Macam macam cara yang dipergunakan orang tua jaman dulu. Tapi cara cara yang dipakai itu terbilang kuno, magic, dan tidak mengajak anak berpisah secara damai. Berdasarkan pergaulan dengan […]

Continue Reading

Super Mom 8 “AKHIRNYA DIKURET”

Oleh: Nikmatuniayah Malam ini aku tak bisa tidur. Malam ini adalah penentuan akhir keputusan dokter besok pagi. Bolak balik aku ke kamar mandi, menengok dibalik celana dalamku, masih ada noda darah tidak. Nyatanya masih ada. Betapa gundah gulana hatiku. Aku membolak balik badan dipembaringan. Tentu saja aku tak tidur semalaman. Antara tidur sebentar, bangun, tidur […]

Continue Reading

Syukur

Oleh: Nikmatuniayah, Pulesari 21 Maret 2017 Kamu manusia yang masih utuh Tanganmu dua Kakimu dua Matamu dua Otakmu sehat tidak gila Mengapa merasa gelap masa depanmu? Harga dirimu masih utuh Kamu belum pernah menipu, belum pernah tertangkap karna mencuri Syukuri apa yang ada: Rumah kecil di tepi tebing Pedati tua warisan orang tua Pohon di sekililing […]

Continue Reading