Siang -siang istirahat di warung Bu Kantin , Ratna dan Lala sedang istirahat makan soto di sekolah. Kantin Bu Ami di belakang Gedung sekolah, ada masakan soto dan gorengan. Kalau pagi tersedia jajanan pasar, seperti cenil, wingko, getuk, wajik, jenang, atau klepon. Siang hari waktunya istirahat siang tersedia soto ayam panas-panas, murah Cuma limang ewu (lima ribu rupiah”.
“Eh La ngomong-ngomong ujian musik bulan depan, kau maju apa?” Tanya Ratna sambil menyeruput Es Teh yang tinggal seperempat. Sambil ngode Bu Ami, Ratna ngacung jari sembari teriak,” Eh Bik Es Teh tambah satu dong! Masih haus Nih!”
Lala masih menikmati soto, sambil gorengan bakwannya digigit tipis-tipis. Gorengannya enak sekali, super renyah, dan krispi. Lala ngga punya uang lagi, uang sakunya pas enam ribu. Lima ribu buat soto, seribu untuk gorengan bakwan.
“La …Lala… diajak ngomong diiem aja.” Tegur Ratna.
Lala masih diam , lalu menjawab dengan enggan, “ Aku ngga tahu mau jawab apa.”
“Iyaa bulan depan mau maju musik apa?” berondong Ratna lagi.
“ Hmm Tak tahu aku. Alat musik aku ngga punya, gitar, pianika, harmonika, suling, apalagi organ.”
“Kalau aku mau maju Pianika, baru dibelikan Bapak di Kota Semarang.” Kata Ratna lagi.
Anak-anak yang lain juga baru sibuk merencanakan alat musik yang mau dipakai ujian Kesenian. Kantin Bu Ami jadi ramai dan riuh dengan suara anak-anak kelas 6, kelas Lala.
******
Di Rumah, Lala masih sibuk membantu pekerjaan Bapak. Mengukur kain lalu memotong kain, Bapak yang menjahit. Bapak adalah penjahit rumahan, kelas kecil, pelanggan pun baru sedikit. Lala masih memikirkan bagaimana cara ngomong ke Bapak.
“Pak.. Bapak …..”
“ Apa Nduk?” Tanya Bapak masih dengan memacal (mengayuh pedal) mesin jahit. Bapak menjahit dengan mesin jahit manual merk butterfly. Keringatnya masih menetes di dahi dan pelipis Bapak. Bapak sudah bekerja keras, namun sejak harga pakaian jadi jadi murah, bapak jadi berkurang pelanggannya.
“Bulan depan Lala ujian musik Pak. Lala maju musik apa ya Pak?”
“Sabar Nduuk… nanti kalau jahitan Bapak sudah ramai bapak belikan Pianika.”
“Tapi kapan Pak? Keburu Lala ujian… Belajar musik juga ngga bisa sebulan Pak!” Lala merajuk dan masuk kamar. Lala menelungkup di Kasur, menangis. Bingung, stress memikirkan alat musik apa, sementara alat musik tak punya. Masa pakai panci Emak.
*******
Kali ini Lala main ke rumah Ratna. Bapak Ratna seorang pedagang yang cukup berada. Mainannya banyak, Lala suka menghabiskan waktu bermain bersama Ratna. Lala pinjam mainan sesuka hati, balasannya Lala harus bantu Ratna mengerjakan PR. Lala tidak keberatan, karena mainan Ratna bagus-bagus; boneka, masak-masakan, alat masak dari plastik, mobilan, dan raket. Tunggu-tunggu itu apa, seperti piano kecil.
“Itu barang baru dari Kota Semarang, mana ada mainan seperti itu di Kabupaten Pati.” Seru Ratna bangga!
“Aku pinjam ya Rat?”
“Boleh, tapi ngga boleh dibawa pulang, harus main di sini.”
Lala memainkan piano mainan itu dengan lagu “Ibu Kita Kartini”, dia cukup hapal not nya. Mainan piano ini adalah replika dari piano kayu, nadanya ada rendah , sedang, dan tinggi. Suaranya juga mirip suara piano asli, hanya tidak bisa disetel macam-macam suara (violin, suling, atau gitar).
Sejak itu Lala sering main ke rumah Ratna. Jika di rumah Ratna dia bermain piano kecil itu. Jika di rumah dia punya cara lain. Lala anak pintar banyak akal, kok dilawan! (Seru Lala dalam hati)
Untuk menghafalkan letak not-not itu, Lala menggambar deretan tuts piano dengan kapur sebanyak 16 Not. Do Re Mi Fa Si La Si Do, Re Mi fa Si La Si Do. Lala memainkan not itu dengan membayangkan dan menyanyikan nadanya. Lagu “Ibu Kita Kartini”
Ibu Kita Kartini
Putri Sejati
Putri Indonesia
Harum namanya
Ibu Kita Kartini
Pendekar Bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk Merdeka
Wahai Ibu Kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
Demikian selama satu bulan Lala giat berlatih dengan piano bayangan di rumah. Dia menggambar dengan kapur, menyanyi keras, lalu dihapus. Besoknya menggambar lagi, lalu dihapus, karena lantai rumah harus bersih disapu tiap sore. Tugas Lala lah yang menyapu rumah di sore hari. Katanya anak wedhok harus rajin menyapu, kalau lantai rumah kotor kelak suaminya mbrengosan (bercambang).
******
Ini malam sebelum ujian besok. Lala gelisah. Dia takut besok gagal, bagaimana kalau besok dia lupa nada. Bagaimana kalau besok dia grogi gemetar.
Tapi, ah bukannya dia rajin latihan. Setiap hari sepulang sekolah. Dia pun sudah hapal not dan letak jari-jarinya.
Pagi di sekolah tak terasa jam kelas kesenian bersama Pak Joko. Pak Joko guru kesenian yang terampil, kulitnya putih juga ganteng he he. Semua murid perempuan suka Pak Joko, karena ganteng he he.
Teman-teman sudah pada maju ujian musik. Ada yang pakai suling, pianika, dan gitar. Ratna maju pakai pianika, katanya dibelikan bapaknya di Pasar Johar Semarang. Nama lengkapnya Cundhamani Naretna, huruf C maju duluan. Sedangkan nama lengkap Lala, Nur Laila masih menunggu. Baru sampai huruf K.
Lala semakin gelisah, anak-anak yang belum ujian di luar kelas, menunggu dipanggil. Sedangkan anak-anak yang sudah bebas buru-buru ke Kantin Bu Ami, pasti pada makan soto dan minum Es Teh. Hmm segar membayang soto dan Es Teh, Lala jadi pingin kabur ke kantin. Dia bingung nanti mau maju musik apa? Masa maju pakai musik bayangan, piano yang digambar kapur seperti di rumah? Nggak lucu.
“Nur Laila…!” Pak Joko memanggil namanya.
Lala seperti ngga dengar saking gugupnya.
“La Lala! Dipanggil Pak Joko. Giliranmu !” Seru Ratna sambil menepuk pundak Lala keras.
Lala jenggirat kaget. Gugup!
Keringat dingin berleleran..
“Aku aku.. bingung Rat.. mau maju apa?”
“Organ katamuu..” Kata Ratna cengengesan. “Dengar di Meja Pak guru sudah disediakan keybord, gitar, bagi yang tidak punya . Bisa dipinjam.”
“Kenapa kau ngga bilang dari tadi. Aku gemetaran dari tadi.”
“Sengaja, biar kamu stress!” Kata Ratna ngeprank.
“Nur Lailaaaa!” Seru Pak Guru
“Iya Pak siap.” Lala masuk tergopoh.
Lala mengambil keyboard yang tersedia di meja, keyboard itu pakai batere jadi ngga perlu dicolok Listrik. Lala menyiapkan diri, lalu duduk siap.
Aneh tiba-tiba jari-jarinya meloncat-loncat sendiri mengikuti nada lagu “Ibu Kita Kartini” . Ajaib jarinya reflek menari …
1 2 3 4 5 3 1 6 1 7 6 5
4 6 5 4 3 1 2 4 3 2 1
(2x)
4 3 4 6 5 6 5 3 1 3 2 3 4 5 3
4 3 4 6 5 6 5 31 3 2 4 7 2 1
Dan pengumuman Nur Laila memperoleh nilai A. Lala senang bukan kepalang!
TITIMANGSA
Semarang, Sabtu 13 Juni 2026 (Cernak Penerbit Babat Bumi)
BIONARASI
Nikmatuniayah adalah Dosen negeri di Politeknik Negeri Semarang. Nama pena, Nikmah Yuana ini juga founder Rumah Baca Sampun Maos ( sejak 16 Agustus 2016), dan Lapak Baca Taman Tirto Agung (sejak Agustus 2024). Nikmah Yuana menulis Blog di sampunmaos.com, seorang Conten creator Youtube Sampun Maos, music dan film. Nikmah Yuana adalah penulis scenario Film, Puisi, Cerpen, dan Antologi. Nikmah Yuana membuka Class Room buat anak-anak belajar akting dan film. Nikmah Yuana bertekad memberdayakan budaya Nusantara Indonesia, dengan musik angklung .
Buku yang sudah terbit : Dosen Kentir Belajar Nyetir; Cinta dibalik Hemodialisis; Ayo Mondok. Nikmah Yuana sudah menulis 14 buku Antologi ber ISBN. Dua di antaranya Cernak “Pulang kampung” dan Cerpen Thriller “Rekontruksi Terakhir” dari Penerbit Babad Bumi. Ibu berputra dua ini memiliki motto: Hidup untuk berjuang, Berjuang untuk Hidup.
