HADIAH TERINDAH DARI LANGIT

Cerpen

By Nikmah Yuana

Ditulis di Antologi Hadiah Terindah dari Langit

PASANGAN NON ORGANIK

NIKMAH YUANA

Aku memang perempuan yang susyah ketemu jodoh. Dari SMA aku selalu bertepuk sebelah tangan. Setiap cowok yang aku sukai, rupanya mencintai orang lain. Sebaliknya cowok-cowok yang mendekatiku, yang kurasakan tak ada rasa-rasa sama sekali. Jadi ilfill dan risi jika didekat-dekatnya.

Ketika di kampus aku menyukai Ketua Redaksi, namun suatu ketika ketahuan Katingku. Konyolnya tanpa persetujuanku, Katingku itu bilang sama Ketua Redaksi, aku menyukainya. Eh, pulang dari Kos, dia bilang, bahwa Ketua Redaksi tidak mencintaiku. Malunya diriku. Kepala kubenamkan bantal dalam-dalam.

Ketika malam Sertijab Jurnalis ada dua Kating, Sidang Redaksi yang mendekatiku, tentunya di waktu yang berbeda. Dia berjalan mendekatiku, aku menjauh, dia maju lagi, aku menjauh, dia maju lagi, aku menjauh lagi dan lagi.

Sekarang aku cerita tentang jodohku sendiri. Sebelumnya aku belum pernah ketemu, karena dia Kating dari jurusan lain.

“Mas sekarang ada kegiatan apa? Ikut dong lagi gabut kurang kerjaan.” Kataku ketika ketemu dengan Mas Sapto. Kami semua sudah lulus sarjana, dan meniti karir masing-masing.

“Yo Dek nanti malam datang ya. Ada rapat organisasi.” Katanya sambil memberi alamat.

Malamnya aku datang naik ojek. Alamat rumah dekat kampus UNNES. Rumah yang luas lantai 2. Aku masuk ke ruangan, ternyata rapat segera mau dimulai. Sudah ada teman-teman cewek, dan Kating yang duduk di meja bundar. Ada satu cowok gempal kulitnya hitam, memandangiku dengan tajam. “Siapa dia?” Tanyanya sambil memandangku.

“Dek Anik adek kelas. Aktivis HMI juga.”

Selanjutnya aku ikut rapat, dan pulangnya dibonceng Mas Harnomo. “Dek ayo bonceng aku aja.” Mas Har ini kontrakannya satu arah dengan Kos aku, Tembalang.

Esoknya ketika aku mau beli makanan di warung ketemu dengan Mas Harnomo di jalan.

“Dek dapat salam dari Mas Teguh. Dia orangnya baik kok. Kelihatan kasar kalo ngomong, tapi hatinya lembut.” Kata Mas Harnomo sambil menjejeri langkahku. Berusaha meyakinkan calonnya.

Di kampus setiap ketemu dengan Mas Totok, dia juga bilang ,”Dek dapat salam dari Mas Teguh.”

“Ya Mas salam kembali.”

“Dia mau datang ke rumah, diterima ya Dek.”

Sorenya benar saja ada yang datang ke rumah. Dia tampak grogi beberapa kali salah tingkah. Ngomongnya juga sedikit. Selanjutnya kami bercengkrama di Teras. Jika sudah lewat jam 22.00 wib, penjaga berteriak,” Mbak Nikmah jam 10.”

Sudah ya Mas jam tutup.

“Eh iya Dek.” Katanya salah tingkah.

Sudah hari kesekian Mas Teguh menelepon,” Dek habis lebaran ke rumah ibu ya. Besok kalau sudah menikah tak sayang-sayang setiap hari.”

Aku yang masih polos bilang iya iya aja.

Simpel aja. Mengapa aku mau. Karena diyakinkan teman-teman baikku, mereka lebih mengenal dari pada aku. “Mas Ramadhan ini break dulu ya. Fokus ibadah, puasa, jangan telpon.”

“Lho Dek aku kalo kangen piye?”

“Ngga papa Mas break dulu. Fokus puasa.” Kataku pamit sambil menyerahkan buku “Bidadari Surga” ( buku tentang menikah). Aku ingin suamiku besok suami yang mengerti cara berdoa, bukan melulu bercinta mengumbar nafsu belaka.

 Mas Teguh sangat menjaga diriku, tangannya nggak pernah pegang-pegang apalagi peluk. Hubungan kami sangat terjaga. Bila Mas Teguh pingin pergi berdua, makan makan misal. “Assalaamulaikum Dek. Ayo makan bersama.”

“Baik Mas. Mas makan di sana aku makan di sini. Waktunya yang samaan.” Kataku tersenyum.

Aku naik becak bareng sepulang dari Puskesmas, suntik tetanus. Kami berboncengan naik motor sepulang dari daftar KUA. Kami bersalaman ketika usai ijab sah diucapkan. Suamiku menangis, matanya berkaca-kaca.

Usai menikah kami tinggal di rumah kontrakan. Alhamdulillah satu minggu setelah menikah tidak haid, artinya aku hamil. Kakakku aja sampai iri dengan keberuntunganku.

“Kowe bejo men yo nikah langsung nduwe Bayi. Mbakmu nunggu sampai 4 tahun.”

Aku senyum-senyum sambil menggendong Bayi kami, laki-laki. Kami beri nama Opin. Suamiku yang memandikan dan mengganti popok jika pup. Jika malam hari tiba, bayi kami menangis, suamiku yang menggendong sambil nonton Piala Dunia. Waktu itu kelahiran putra kami bareng dengan Pila Dunia Sepak Bola , Tahun 2000.

Ketika aku kerja ke kampus, Bayi kami diasuh Bibi pengasuh. Aku tidak menyiapkan botol ASI, karena aku bisa pulang untuk menyusui saat jeda. Rumah kami antar kampas sangat dekat, 15 menit perjalanan.

Jaman itu cari Bibi pengasuh sangatlah susyah. Harus pintar-pintar ngemong dan kerja sama. Apalagi putraku ini tangisannya kencang macam badai. Bila ada pengasuh baru, dia nangis sekencang-kencangnya bila tak cocok. Melihatnya aja ogah, lalu dia menangis sekencang-kencangnya.

Bila Maghrib tiba, putraku ini mulailah jam Tangis tak henti-henti. Aku menggendongnya dengan kesusahan. Kata tetangga katanya ada yang ganggu. Tengah malam Bayi ini menangis kencang, sampai pintu didodok tetangga.

“Mbak Nikmah MBaak!” Bayiku diambil dari gendonganku, terus dibaluri bawang merah. “Perutnya kembung ini Mbak.”Esoknya tetanggaku berpesan jika Maghrib menjelang taburkan garam di Teras, pintu, kamar anak, pojok pojok rumah, dan Dapur.

Suamiku yang menggantikan aku menjaga bayi ketika aku bekerja. Kebetulan suamiku kerja freelanch. Bayiku diasuh dan jika menangis didorong diikat sepeda mini. Jalan maju mundur berulang-ulang, kata tetanggga sampai aku datang dan menyusui. Yah dialah suamiku yang katanya dijodohkan alias bukan organik.

oplus_3
oplus_34

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *