Rudi cowok introvert yang lumayan tampan. Dia pintar, mandiri, dan tampan. Kurangnya hanya satu dia pemalu, introvert parah hingga tak punya teman. Teman pun Cuma satu, Alvin teman akrabnya dari SMA. Berkali-kali dia gagal jadian karena sifat pemalunya yang parah. Kali ini Rudi bahagia bukan kepalang, cewek idamannya dari SMA kini jadian. Belum lama sih, baru enam bulan. Namun angka enam bulan itu sebuah prestasi bagi Rudi, biasanya nggak sampai sebulan diputus. Makanya dia bahagia banget, apalagi pacarnya cantik dan Raya terkenal di Kampus FE Undip.
Rudi senyum-senyum.
“ Rud ngapain lho, dari tadi senyum-senyum kaya kesambet. Dari tadi kuliah ngalamun senyum-senyum kaya orang gila.”
Masih senyum -senyum.
“Rud!”
“Nggaaak….. aku lagi bahagia nih.”
“Apaan?”
“Nih pacar aku , cantik.” Kata Rudi sambil nunjukin foto cewek dari gallery HP.
“Bukannya itu Raya?”
“Eh lho kok kenal?”
“Siapalah yang ngga kenal Raya. Cewek cantik putri Akuntansi.” Tanya Alvin lagi,” Kapan jadiannya?”
“Ada deh.” Rudi senyum-senyum lagi. Dunia ini serasa milik berdua. Bulan depan Raya ulang tahun, dia sudah memikirkan hadiah apa yang tepat buat Raya. Hadiah yang diidam-idamkan Raya.
Dua bulan ini Rudi sedang giat-giatnya cari uang. Dia ikut makelaran jual property Ray White Semarang Kota. Dia ingin dapat uang banyak dengan cepat. Dia sudah berhasil menjual dua rumah, kurang satu lagi cukup. Rudi berencana membelikan Raya iPhone 17 sebagai Hadiah. Hadiah Istimewa dan mahal.
Tepat 14 Juni Rudi membungkus iPhone 17 dengan kertas kado pink.
Hari ini mereka jalan-jalan ke Maerokoco di Semarang. Mereka sudah melewati rumah-rumah adat Salatiga, Rembang, Brebes, Demak, Kudus, Banyumas, dan Kabupaten Semarang. Lelah berputar Rudi mengajak Raya duduk -duduk di tepi danau., Kebetulan lagi mendung, jadi cuaca ngga berasa panas.
“Selamat ulang tahun Sayang,” Kata Rudi sambil menyodorkan kado .
“Apa ini Ayang?”
“Bukalah…”
Tak sabar Raya membuka kado itu, dan…”Wow iPhone 17 ! Terimakasih Ayang.” Raya berteriak kecil. Dia senang sekali.
“Untukmu Ayang, spesial. Janji jangan selingkuh.”
“Janji… aku akan setia untukmu.” Kata Raya sambil menjektikan jari kelingking.
“Habis ini kita ke Mall baru yuk, The Park.” Ajak Rudi.
Di Mall mereka bertemu dengan Alvin. Alvin sedang cari peralatan gunung, sleeping bag. Asyik-asyik sedang memilih-milih, lewat Rudi dan Raya.
“Sedang cari apa kau Vin”
“Ini sleeping bag, punyaku rusak bolong dimakan tikus. “
“Ini Raya yang kuceritakan waktu itu.” Rudi mengenalkan Raya di hadapan Alvin. Alvin menjabat tangan Raya, keduanya bercakap-cakap.
“Sebentar ya..” Rudi meninggalkan sebentar, dia mau cari kompor portable, perlengkapan gunung yang masih kurang. Sebentar lagi ada events ngecamp bareng komunitas.
Belakangan ini Raya sulit dihubungi, slow respon. Jika dihubungi via wathshaap centang satu. Rudi jadi galau. Padahal dia sudah yakin kali ini hubungannya bakal berhasil. Dia sudah menjaganya, effortnya ngga main-main. Ikut main property dengan capaian bisa beli iPhone 17 adalah capaian tertinggi di tahun ini. Bosnya ikut senang dia bakal dapat bonus akhir tahun.
“Kenapa kau tampak murung Rud?” Tanya Alvin di Sabtu pagi lapangan Jogging Track Undip.
“Kenapa Raya menghilang ya, mulai susah dihubungi.”
“Sibuk kali, biasakan mahasiswa skripsian.”
“Biasanya juga sibuk revisian, kayak kita juga kan?”
“Ngapa ngga kamu samperin di kelasnya. Kulihat tadi dia di Ruang B12.”
Rudi bergegas menuju Ruang B12, kuliah masih berlangsung. Jadi dia berniat menunggu Raya keluar kelas.
“Rayaa!” teriak Rudi, tangannya melambai ke rah Raya. Raya mengenakan outfit putih, kulot hitam cantik banget.
“Apaan sih pake nyamperin segala.” Sungut Raya kesal, terpaksa ikut duduk di sebelah Rudi.
“Habis kamu menghilang sih. Dihubungi centang satu, selingkuh Elo?” Tanya Rudi
“Aku sibuuk! Bulan depan mau sidang.”
Sudah sebulan ini Rudi jalan sendirian tanpa Raya. Hidup jadi sepi. Iseng-iseng dia ingin nongkrong ke kafe Tekodeko Koffiehuis, café kopi tempat dia dan Alvin biasa nongkrong.
Baru sampai pintu dia melihat Raya dan Alvin duduk hadap-hadapan. Penasaran dia mengambil lewat pintu samping, lalu ambil duduk di sisi sayap kanan, persis dibalik Pratisi tempat duduk Raya dan Alvin.
“Kapan kamu putusin Rudi, sayang?”
“Aku ngga tega Vin, kalau kamu aja yang bilang gimana?”
“Janganlah! Kau aja yang bilang, kutunggu.”
“Sampai waktu yang tepat ya.”
Raya benar -benar sudah menghilang. Dengan kesal dia samperin Raya di Ruang B12. Eh, kok Alvin bisa tahu ya jadwal kuliah Raya, dia aja kurang tahu ada kelas tambahan di B12.
“Rayaa!” Teriak Rudi
“Aku minta putus!” Kata Raya tiba-tiba , dan segera pergi dari hadapan Rudi.
Rudi berjalan dengan galau, dipandanginya HP nya yang retak . Dia pilih HP- nya retak demi pacarnya minta iPhone 17. Dia kerja keras jual rumah hanya untuk membeli iPhone 17. Ternyata iPhone 17 tidak cukup untuk mengikat cinta.
Malam di kasur kontrakan dia rebahan. Dipandanginya dinding yang penuh dengan poster poto berdua dengan Alvin di Gunung. Mereka sudah mencapai puncak lima gunung: Puncak Mahameru, Puncak Gunung Slamet, Puncak gunung sumbing, Puncak Ogal Agil, dan Puncak Hargo Dumilah.
Alvin memang lebih keren. Badannya tegap kaya Bima, ganteng, anak orang kaya lagi. Dibandingkan dia yang masa depan ngga jelas, hidup masih ngontrak yatim piatu. Jam dinding berdetak dua belas kali, dia belum tidur. Matanya masih melek, hatinya mendidih, nggak adil! Ini ngga boleh terjadi (batin Rudi). Dia mengepal tangan kuat-kuat! Di luar suara kucing berantem menambah malam jadi kelam.
“Dah lama kita ngga muncak ya Vin.”
“Gaas.”
“Gimana habis semesteran, satu minggu lagi. Target berikutnya Rinjani yuk.”
“Ok siap, aku siapkan perlengkapannya, kau perbekalan.”
“Ok sipp.”
Rinjani adalah gunung yang eksotis, menyuguhkan air terjun Segara Anak, danau kawah dengan air biru jernih kehijauan di ketinggian 2.010 mdpl Tempat favorit untuk berkemah dan memancing. Keindahan alam vulkanik yang spektakuler mulai dari sabana luas hingga danau kawah. Terdapat jalur pendakian eksotis beberapa jalur seperti Sembalun untuk mencapai puncak ketinggian 3.726 m.
“Sudah siap semua?” Tanya Rudi.
“Aman.”
Tepat pukul 01.00 WITA Rudi dan Alvin mulai start mendaki. Perjalanan bisa 3 hari , 2 malam dengan tujuan Plawangan/kawah, ke danau, hingga ke puncak. Terdapat jalur 6 resmi pendakian gunung Rinjani: Sembalun, Senaru, Torean, Aik Berik, Timbanuh, dan Tete Batu. Mereka sudah menuju jalur Torean dan Timbanuh, yang merupakan dua rute ekstrem yang menonjol. Rute ini menyajikan tebing curam, punggungan sempit, dan jurang yang menantang adrenalin.
Jalur Torean terkenal dengan pemandangan magis yang menyusuri Lembah, Sungai air panas, dan tebing-tebing tinggi yang menjulang. Jalur ini sangat curam dan membutuhkan keahlian khusus, karena beberapa sisinya langsung berbatasan dengan jurang dan Sungai. Sedang jalur Timbanuh merupakan jalur ekstrem yang ditandai dengan trek sempit dan tebing yang sangat terjal.
Sekarang posisi di Kawasan Cemara Nunggal, area tebing ekstrem menuju puncak Rinjani.
“Eh kabarnya di sekitar sini orang-orang pendaki suka melihat yang aneh-aneh.”
“Aneh-aneh bagaimana?” Tanya Alvin sedikit ketakutan.
“Manusia berkepala Babi. Ada juga yang melihat makhluk-makhluk tak kasat mata. Serem pokoknya.” Kata Rudi menakut-nakuti.
Suasana malam yang sangat ekstrem, dingin, dan mencekam. Tiba-tiba berhembus angin kencang, kabut tebal dengan suhu sangat dingin. Area ini sangat gelap, suara burung malam menyengat. Rudi sudah menyiapkan semuanya. Satu bulan ini dia sudah browsing dan survei jalur pendakian yang ekstrem. Dia sudah pernah ke sini sebelumnya, dia sudah bohong bilang ngga pernah muncak Rinjani. Dia sudah dua kali ke sini, dia tahu ceruk mana tempat hilangnya pendaki yang dikabarkan hilang di kedalaman 400 meter.
Malam semakin mencekam. Tiba-tiba saja angin bertiup kencang seperti keinginan Rudi. Entah kalau ada kemauan jahat, setan pun ikut mendukung. Kabut tebal di depan mata, pandangan jadi terbatas. Rudi sudah mengukur berapa langkah menuju Tebing curam berbahaya itu, sangat akurat dia sudah mencobanya berulang kali dengan mata terpejam. Dengan pelan pasti dia menyenggol pundak Alvin supaya merepet ke tepi.
“Aku nggak bisa lihat. Kita berhenti aja Rud.” Dengan gemetar Alvin usul.
“Terus aja aku sudah pengalaman, aku bohong sama kamu. Aman.”
Semakin menepi dia memepet Pundak Alvin, tepat di Tebing Curam berbahaya, dia dorong Alvin dengan kencang.
“Aaaahhhhhh……” Teriak Alvin ditelan kegelapan.
Selanjutnya untuk menghapus sidik jari di permukaan sarung tangan, dia menyemprotkan larutan alkohol dan air dengan perbandingan 1:1. Dengan ukuran yang tepat tak tersisa, dia mengganti larutan alkohol dengan air mineral. Plan berikutnya, dia menjatuhkan diri, sehingga kepalanya terantuk batu. Dia yakin, sebentar lagi rombongan berikutnya akan datang menolong.
“Sudah siuman?”
Rudi mendengar suara dokter bertanya pada perawat. Sekarang posisi di RS Bayangkari Lombok.
“Di mana aku? Siapa aku?” Tiba-tiba saja Rudi jadi amnesia. Dia dirawat dua minggu di sana, lalu pindah ke RS Wongsonegoro Kota Semarang. Sudah enam bulan dia dirawat amnesia. Selain pura -pura trauma, teriak-teriak dia juga berlaku seperti orang amnesia.
Sepanjang itu tiap pagi dia berjalan ke Ruang Lobby mencari koran pagi. Secara sembunyi-sembunyi dia mengikuti berita di koran. Sepanjang 6 bulan ini, Alvin diberitakan sebagai orang hilang di pendakian. Jasadnya belum ditemukan, dan akhirnya diberhentikan pencarian.
Langkah selanjutnya Rudi pergi ke klinik operasi wajah illegal di Surabaya. Rambut lurus dibikin keriting. Muka dibuat tirus, dan hidung bertambah mancung. Wajah Rudi menjadi beda dengan sebelumnya. Orang pasti tidak mengenal Rudi yang sekarang. Melalui kurir dia mengganti identitas KTP nembak.
Di Bandara Ahmad Yani, perjalanan ke Jepang, dia lolos kerja di Jepang.
“Boleh lihat identitas, bersama dengan Bapak siapa?” Tanya petugas
“Agus”. Dengan tenang pria itu mengeluaran koper dari scanner area Security Check Point, lalu menuju ruang tunggu.
Pesawat lepas landas, seorang pria berhidung mancung dan rambut keriting, membaca berita criminal online detikNews Radar Semarang;
“Seorang gadis disiram air keras di Joging Track Universitas”
Titimangsa: Semarang, 15 Juni 2026 (Penerbit Babat Bumi – TRiller)
Bionarasi :
Nikmah Yuana adalah nama pena Nikmatuniayah. Alumnus S1 FE Undip ini sejak SMA sudah bergerak di bidang jurnalis. Kali ini dia mendirikan Rumah Baca Sampun Maos pada tanggal 17 Agustus 2016. Nikmatuniayah juga menjuarai Best Paper di bidang akademik. Di bidang penulisan dia sudah menerbitkan tiga buku populer: Dosen Kentir Belajar Nyetir; Cinta Di Balik Kelambu Hemodialisis; Ayo Mondok. Dia juga ikut sebelas event menulis buku antalogi dengan media Aleniaku. Kali ini dia adalah Dosen di Politeknik Negeri Semarang, dan penggerak Read Aloud di Kota Semarang.
