PANTAI NDASUN PERMAI

Cerpen

By Nikmah Yuana , dimuat dalam Antologi ” Potensi Wisata Daerah”

Kota Lasem adalah Kota Tua. Kota Batik dan penghasil ikan dan garam. Banyak ikan segar di Kota ini, bener-bener segar karena baru ditangkap. Ada dua pasar, Pasar pagi dan Pasar sore. Kalau mau iwak anyaran (Ikan baru) belilah di Pasar sore, berada di Lokasi aloon-aloon Lasem. Namanya Pasar Gambiran yang buka pukul 15.00 wib sampai dengan Maghrib. Makanan siap saji juga ada, ada soto, lontong Tuyuhan, dan Tahu Dek.

Sebagai Kota pantura, banyak Pantai di sini. Ada Pantai Binangun, Pantai Karang Jahe, Pantai Dampo Awang, Pantai Caruban, dan yang terbilang masih baru Pantai Ndasun. Pantai Ndasun berada di dusun Ndasun, melalui Kota Pecinan. Ada Lawang Ombo, Rumah Merah, dan Kali Babagan.

Pantai Ndasun termasuk Pantai baru dibuka oleh warga, masih perawan. Jalannya masih makadam, dan pantainya belum dibangun Gedung-gedung. Hanya ada warung gedek (bambu) yang berbaris rapi sekitar ada empat warung. Warung ini melayani nasi pecel, gorengan, Es Kelapa muda dll. Lumayan sudah ada kamar mandi tempat bilas dan ganti. Hanya Namanya masih perawan, jadi belum terlalu luas dibandingkan Pantai Karang Jahe yang sudah lebih dulu komersil.

Pantai ini baru dibuka satu tahun. Aku pun baru tahu lebaran tahun ini 2025. Aku pergi Bersama anak dan keponakan ke sana naik mobil, nyetir sendiri. Dari Desa Soditan berjalan ke arah Ndasun melalui kampung Cina, lalu Kali Babagan, dan jalan lurus sampai Dusun Ndasun. Dari sini masih  lanjut mengikuti arah panah jalan makadam, sampai ke jalan yang berpasir, menuju Pantai Ndasun. Parkirnya cukup luas, kalau bawa mobil, semisal dari luar kota masih bisa masuk.

Lalu kita akan dihadapkan dengan pasir Pantai yang lumayan bersih, tidak hitam seperti di Pantai Kota Semarang. Banyak pohon Cemara yang terhampar di sisi kanan Laut Ndasun. Cemara -cemara ini berjajar rapi, jika berfoto asal pintar ambil angle, hasilnya serasa foto di Pantai Cemara Jogja. Ada pohon cemara yang rebah, aku duduk foto rebahan, hasilnya sangat bagus. Mirip Angel Karamoy di Bali he he.

Pantai ini termasuk jinak, hanya ada karang kecil, Kelomang, atau Ubur-ubur. Kulihat anak-anak kecil bermain Ubur-ubur yang temangsang di Pantai. Mereka bermain Ubur-ubur dengan cutek (kayu kecil).

Aku hampiri anak-anak itu. Takut kalau mereka merusak Ubur-ubur.

“Dek jangan diganggu.”

Anak-anak kembali berlarian masuk laut. Kedalaman laut ini juga aman bagi anak-anak. Aku masuk ada sepinggang lah. Ombaknya juga tidak besar, hanya sesekali menghempas. Bila berdiri di kedalaman laut dengan kaki telanjang, lama-lama kaki seperti terseret.

Aku berjalan terus sampai ke sisi kiri, ada Batu-batu pembatas yang tujuan untuk membendung ombak. Ada seluas seratus meter sepertinya.

“Lek Anik ke sana Yok.” Adikku memanggilku supaya pindah menuju batu batu bendung. Aku berjalan ke sana menyusuri air laut sampai di sana, naik batu-batu dan duduk. Adikku sudah siap dengan kamera memotret diriku. Hasilnya sangat bagus, nggak kalah dengan Pantai-pantai ternama.

Bila Lelah bermain air bisa mengaso duduk-duduk di bawah pohon Cemara. Ada banyak kursi duduk Panjang yang disediakan warga. Kulihat ada beberapa keluarga yang sudah mengambil tempat. Aku pesan kelapa muda enam, gorengan bakwan dan pisang. Dimakan sambil melihat pemandangan laut sangat enak dan menyenangkan.

Tiket masuknya murah hanya 5000 rupiah. Suasananya panas tapi tidak menyengat. Kalau orang seperti aku sih panas ngga papa, kuat. Kulihat anakku juga menikmati kuliner di Pantai Ndasun ini. Setelah mandi bilas kami berlima kembali pulang ke rumah. Sebelumnya jangan lupa mampir ke aloon-aloon dulu, nanti ada Rumah Oei, yaitu Rumah cina jaman dahulu.

Rumah Oei adalah Rumah Cina tempo dulu, yang direnovasi jadi penginapan. Pintu, tangga, kayu terlihat ornamen huruf Mandarin. Depan disediakan kafe coffee dan makanan ringan. Bicara tentang kopi, di Kota Lasem juga ada Kopi kentel , Namanya Kopi Lelet. Kopi ini berampas, dan ampasnya bisa dilelet ke rokok. Sambil merokok bisa terasa aroma kopinya.

Aloon-Aloon Lasem dibangun seperti layaknya kota lama Semarang, berhias lampu-lampu keraton. Lampu-lampu berlekuk dicat ijo. Ada bundaran juga buat duduk-duduk atau selfie. Ada kursi-kursi Panjang mirip kota lama Semaranglah. Bedanya jika kita berjalan 500 meter akan kita temui Toko-toko cina. Pusat Batik, Batik Tulis Lasem Beruang . Batik ini yang terkenal adalah Tiga Negri,  dengan motif cina dan warna merah maroon.

Jika kalian koceknya terbatas, bisa beli Batik Tulis yang satu warna, atau dua warna, harganya lebih terjangkau. Pilihannya banyak dengan motif khas Lasem, warna merah maroon.

Di aloon-aloon kalian bisa beli jajanan. Banyak penjaja di sana. Kalau mau selfie juga oke banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *