A. Gambaran Kecerdasan Emosi Nabi dalam Menghadapi Beragam Karakter Manusia
Nabi Muhammad SAW dikenal Nabi yang berakhlak bagus, bertutur lembut, jujur, sidiq, Amanah, dan fatonah. Terlihat dari kisah pada saat kaum Qurais bersengketa menentukan siapa yang berhak memasang hajar aswad di Ka’bah. Semua pemuka kabilah merasa berhak dan merasa paling penting. Ramai mereka bertikai, akhirnya mereka ingat ada Nabi Muhammad yang dikenal kejujurannya. Nabi Muhammad SAW dipanggil lalu diminta pendapat. Rosululllah mengambil kain hitam yang lebar, hajar aswad diletakan di tengah, lalu masing-masing pemuka kabilah diminta memegang ujung kainnya. Lalu Rosulullah mengambil batu suci tersebut, kemudian dipasang di tempatnya. Nabi Muhammad menjadi buah bibir karena kebijakannya.
Rosulullah dikenal sebagai pribadi yang lembut, bertutur lembut, dapat menahan emosi, dan punya kepekaan empati yang tinggi. Alkisah pada suatu masa jaman Rosul, ada anak kecil yatim piatu yang duduk termenung menangis di malam lebaran. Ketika ditanya anak itu berkata dia tidak miliki orang tua, dan tidak miliki baju baru seperti teman-teman yang lain. Rosulullah mengajak pulang anak itu, dipakaikan baju baru, lalu ,minta ijin pada Sayidah Khadijah untuk mengadopsi anak tersebut.
Pendidikan emosi dan empati dalam Islam menemukan contoh tertingginya pada diri Nabi Muhammad SAW. Beliau bukan hanya mengajarkan konsep, tetapi mendemonstrasikan kecerdasan emosional (EQ) yang luar biasa, memadukan kelembutan hati, kesadaran diri, dan pemahaman mendalam terhadap perasaan orang lain. Pendidikan emosi Nabi bertujuan membentuk karakter yang peduli, seimbang, dan tangguh.
Berikut adalah pokok-pokok pendidikan emosi dan empati Nabi Muhammad SAW:
1. Dasar Pendidikan Emosi Nabi
- Keteladanan (Uswah Hasanah): Nabi mengajarkan manajemen emosi dengan memberikan contoh langsung. Beliau menunjukkan kasih sayang, kesabaran, dan memaafkan, bahkan kepada orang yang berbuat jahat kepadanya.
- Validasi Emosi: Nabi mengajarkan untuk mengakui dan menghargai perasaan orang lain. Contohnya, saat beliau mencium cucunya, dan ditegur oleh seseorang yang tidak pernah mencium anak-anaknya, Nabi menjawab bahwa rasa kasih sayang itu adalah rahmat dari Allah.
- Pengelolaan Marah: Nabi pernah marah, terutama jika berkaitan dengan kemaksiatan, dipersulitnya ibadah umat, atau ketidakadilan. Namun, marah Nabi terukur, konstruktif, dan bertujuan mendidik, bukan meluapkan emosi pribadi.
2. Implementasi Empati dalam Interaksi
Empati Nabi tercermin dalam kemampuannya merasakan penderitaan orang lain (social empathy):
- Memahami Perasaan Orang Lain: Saat melihat anak kecil menangis atau sahabat yang kesusahan, beliau segera merespons. Ketika mendengar anak menangis saat shalat berjamaah, beliau mempercepat shalatnya karena memahami kecemasan ibunya.
- Peka Terhadap Kondisi Sahabat: Nabi menyadari perbedaan kepribadian dan situasi emosional sahabat. Beliau tidak segan berdialog, memberi nasihat, dan menghibur yang sedang sedih.
- Meringankan Beban Orang Lain: Empati sosial Nabi terwujud dalam tindakan nyata membantu, seperti menanggung utang, menghibur yang berduka, dan berbagi apa yang beliau miliki.
3. Metode Nabi Mengajarkan Empati
- Dialog dan Nasihat: Menggunakan pendekatan persuasif dan lemah lembut. Allah berfirman bahwa jika Nabi kasar dan berhati keras, tentulah orang-orang di sekitarnya akan menjauh.
- Pemberian Penghargaan: Nabi memberikan apresiasi pada perilaku baik dan empati.
- Metafora “Satu Tubuh”: Nabi mengajarkan bahwa persaudaraan Islam itu ibarat satu tubuh; jika satu anggota badan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit.
4. Contoh Konkret Empati Nabi
- Kisah Abdullah bin Mas’ud: Ketika sahabat menertawakan kaki kurus Abdullah bin Mas’ud, Nabi tidak ikut tertawa, melainkan menegur mereka dan memuji kemuliaan Ibnu Mas’ud di hadapan Allah, mengajarkan untuk tidak merendahkan orang lain.
- Sikap Terhadap Anak Yatim & Miskin: Nabi sangat lemah lembut dan memprioritaskan kebutuhan mereka.
- Memaafkan Penduduk Thaif: Meskipun dilempari batu, beliau tidak membalas dengan kejahatan, melainkan mendoakan kebaikan bagi mereka.
Pendidikan emosi dan empati Nabi SAW bertujuan membentuk manusia yang seimbang (wasathiyah), mengelola emosi diri, dan menyebarkan kasih sayang (rahmat) ke seluruh alam.
B. Sikap Empati Nabi terhadap Anak-Anak, Perempuan, Kaum Lemah, dan Para Pendosa
Sikap empati dalam Islam merupakan pantulan dari jiwa pemurah atau dermawan. Dalam sebuah Hadits Nabi disebutkan, bahwa Rasulullah adalah seorang yang paling pemurah (HR Bukhari dan Muslim). Dalam Hadits lain disabdakan, yang artinya “Allah akan melindungi para hamba, manakala para hamba itu melindungi sesamanya.” Dalam Hadits lain yang sangat populer juga disebutkan, bahwa ciri seorang Muslim ialah ketika mencintai sesamanya sebagaimana mencintai dirinya. Sikap pemurah itu menumbuhkan empati. Setiap Muslim agar menjadi insan yang mampu merasakan derita sesamanya dan tumbuh rasa solidaritas sosialnya.
Ajaran tentang ta’awun juga menumbuhkan empati. Ta’awun ialah sikap suka menolong atau berkerjasama dengan orang lain dalam hal kebajikan. Allah berfirman yang artinya, “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan” (Qs Al-Maidah: 2). Ajaran ini sangat mulia karena setiap Muslim diajarkan untuk mau berta’awun dengan siapapun dalam hal-hal yang baik, sebaliknya jangan bekerjasama dalam segala keburukan.
- Sikap Nabi terhadap Anak-anak
Nabi Muhammad sangat menyayangi anak-anak. Ada sepuluh sahabat cilik yang menjadi bestie Nabi, yaitu Zaid bin Haritsah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Masud, Zaid bin Sabit, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Abdullah bin ’Amr bin Ash, Anas bin Malik, dan Habib bin Zaid.
- Sikap Nabi terhadap Perempuan
Rosulullah sangat menghormati perempuan, contoh Asma binti Abu Bakar yang menyiapkan bekal Nabi pas hijrah. Asma dijuluki dua sabuk, karena Asma membantu Nabi dengan sabuknya sendiri pada waktu melakukan perjalanan .
- Sikap Nabi terhadap Kaum Lemah
Sikap Nabi terhadap kaum tidak tercela, sama budak, nenek-nenek, atau ras kulit hitam. Kebaikan Nabi bersama Bilal mantan budak sangat terpuji. Bilal sangat bersemangat mengumandangkan adzan, begitu terdengar Rosulullah langsung bangun dan berangkat sholat berjamaah.
- Sikap Nabi terhadap Para Pendosa
Sikap Nabi terhadap para pendosa tidak tercela, tidak ada balas dendam. Bahkan mantan pendosa seperti Muawiyah dan Hindun menjadi muslim yang taat sesudahnya. Mereka ikut berjuang dalam perang Nabi dalam garda depan.
.
C. Pengelolaan Marah, Sedih, dan Gembira: Teladan Nabi dalam Mengatur Emosi secara Proporsional
Pengelolaan emosi Nabi Muhammad SAW (marah, sedih, dan gembira) didasarkan pada prinsip keseimbangan (tawazun), wahyu, dan keteladanan akhlak mulia. Beliau menunjukkan bahwa manusia fitrahnya memiliki emosi, namun harus dikendalikan agar tidak berujung pada kezaliman atau tindakan yang tidak diridhai Allah.
Berikut adalah pengelolaan emosi Nabi Muhammad SAW berdasarkan hadits dan sirah:
1. Pengelolaan Amarah (Anger Management)
Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang pemaaf dan tidak mudah marah untuk urusan pribadi. Beliau hanya marah jika batasan Allah dilanggar.
- Membaca Ta’awudz: Beliau mengajarkan untuk membaca “A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan) karena marah bersumber dari setan.
- Diam: Saat marah, Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam”.
- Mengubah Posisi Tubuh: Rasulullah menganjurkan jika sedang berdiri saat marah, duduklah. Jika masih marah, berbaringlah. Ini untuk meredam api amarah.
- Mengambil Air Wudhu: Marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, maka padamkanlah dengan air (wudhu).
- Menahan Diri (Tidak Melampiaskan): Kisah saat dakwah di Thaif menunjukkan Nabi tidak membalas dengan keburukan meskipun mampu, melainkan mendoakan kebaikan.
2. Pengelolaan Sedih (Sadness)
Nabi SAW mengalami kesedihan manusiawi, seperti saat wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib (‘Amul Huzni), atau saat putra beliau, Ibrahim, wafat.
- Menangis Tanpa Meratap: Nabi SAW menangis, namun tidak melolong, tidak berteriak, dan tidak menyalahkan takdir. Beliau bersabda, “Mata boleh berlinang, hati boleh bersedih, tapi kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Allah”.
- Mendekatkan Diri pada Allah: Mengatasi sedih dengan meningkatkan shalat, membaca Al-Quran, dan berdoa.
- Mengingat Hikmah: Meyakini bahwa setiap kesulitan akan mendatangkan kemudahan dan merupakan bagian dari ujian keimanan.
3. Pengelolaan Gembira (Happiness)
Kegembiraan Nabi Muhammad SAW disalurkan secara wajar dan tidak berlebihan.
- Senyum dan Canda: Nabi sering tersenyum, bahkan canda tawa beliau selalu jujur dan tidak menyakiti hati orang lain.
- Bersyukur dan Bersujud: Ketika mendapatkan kabar gembira yang menyenangkan, Nabi SAW seringkali langsung sujud syukur kepada Allah.
- Berbagi Kebahagiaan: Saat gembira, beliau membagi kebahagiaan tersebut dengan sahabat dan keluarga, serta meningkatkan sedekah.
Inti Pengelolaan Emosi Nabi:
Emosi Nabi Muhammad SAW selalu terkendali, adil, dan produktif—yaitu untuk perbaikan, bukan untuk perusakan atau kezaliman.
Gambar 1 Menyayangi anak-anak
(Sumber : Sampun Maos 2024)
D. Strategi Menanamkan Empati dan Sensitivitas Sosial pada Peserta Didik
Rasa empati perlu ditanamkan pada diri anak sejak dini. Nah, ada beberapa cara melatih empati anak yang dapat dilakukan. Dengan mengajarkannya berempati, diharapkan anak memiliki kemampuan untuk menempatkan diri, memahami perasaan orang lain, dan mengontrol emosinya dengan baik.Segala sesuatu yang Anda ajarkan akan memengaruhi kemampuan anak dalam bersikap, termasuk menumbuhkan rasa empati terhadap sesama. Melatih empati anak dapat dilakukan dari hal-hal kecil yang biasa dilakukannya.
Cara Melatih Empati Anak
Umumnya, anak baru memahami konsep empati saat ia berusia 8–9 tahun. Namun, pada usia 5 tahun, anak udah dapat menyatakan perasaan tentang bagaimana dirinya ingin diperlakukan sekaligus bagaimana sebaiknya ia memperlakukan orang lain.
Pada usia ini pula, orang tua sudah bisa mulai mengajarkan anak mengenali dan mengelola emosinya agar rasa empati dalam dirinya dapat terbentuk. Berikut ini adalah beberapa cara melatih empati pada anak yang dapat dilakukan:
1. Ajarkan anak mengenali emosi
Anak dapat memahami dan mengelola emosinya dengan baik saat ia mampu mengenali perasaannya. Sebagai orang tua, Anda dapat membantu Si Kecil mengenali perasaannya dengan berbagai cara.
Misalnya, ketika Si Kecil menangis karena tidak boleh main hujan-hujanan saat demam, Anda bisa mengatakan, “Bunda paham kamu sedih karena tidak bisa main hujan, tetapi kamu masih demam, Nak. Nanti sakitnya malah tambah parah.”
Anda juga bisa mengajaknya bermain tebak-tebakan dengan menyediakan kumpulan stiker bergambar ekspresi emosi dasar, seperti sedih, marah, atau senang. Minta Si Kecil memilih salah satu stiker yang menggambarkan perasaannya saat itu, lalu minta ia untuk menceritakan alasan memilih ekspresi tersebut.
2. Penuhi kebutuhan emosional anak
Pengalaman emosional antara orang tua dan anak sangat penting untuk perkembangan empatinya. Interaksi positif dan menghargai perasaan anak akan membuatnya merasa aman, terlindungi, dan dicintai sehingga anak akan lebih peka terhadap kebutuhan emosional orang lain.
3. Berikan contoh berempati
Melatih emosi anak akan sulit jika orang tua tidak memberikan contoh empati yang tepat kepada anak. Misalnya, ketika ada temannya yang mau meminjamkan pensil saat ia tidak membawa pensil ke sekolah.
Katakan kepadanya bahwa melakukan hal yang baik membuat orang lain merasa tertolong. Dengan begitu, anak akan memahami bagaimana tindakannya dapat memengaruhi orang lain.
4. Posisikan diri anak sebagai orang lain
Melatih anak berempati dapat dilakukan dengan cara mengajaknya untuk memosisikan dirinya sebagai orang lain. Misalnya, saat anak merebut mainan orang lain, tanyakan bagaimana perasaannya saat mainan miliknya direbut oleh temannya. Anda juga bisa menggunakan cerita di buku atau film favorit anak. Pilih salah satu karakter, lalu posisikan Si Kecil dalam karakter tersebut untuk tahu bagaimana reaksinya. Tanyakan pada Si kecil bagaimana perasaannya apabila ia mengalami salah satu kejadian dalam film tersebut.
5. Ajari anak sopan santun
Memasuki usia 5 tahun, Anda dapat melatih empati Si Kecil dengan cara mengajari nilai kesopanan. Berikan pengertian kepadanya mengenai pentingnya menunjukkan rasa peduli dan hormat kepada orang lain. Misalnya, saat Si Kecil menginginkan sesuatu, ajari ia untuk mengucapkan kata “tolong”. Ajari pula kebiasaan mengucapkan “terima kasih” setelah diberi sesuatu oleh orang lain. Selain itu, jika ia melakukan kesalahan, ajarkan untuk mengatakan kata “maaf”.
6. Libatkan anak dalam kegiatan amal
Melibatkan anak dalam kegiatan amal dapat dilakukan untuk melatih empatinya. Anda bisa mengajak Si Kecil mengemas pakaian atau boneka untuk disumbangkan atau mengajak anak memilih mainan miliknya untuk diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
Berikan pengertian kepada anak bahwa bantuan yang diberikannya dapat membuat orang lain bahagia.
7. Ajarkan anak menghadapi emosi negatif
Siapa pun, termasuk anak-anak, dapat mengalami emosi negatif seperti marah, cemburu, sedih, atau kecewa. Anak yang diajari menangani perasaan tersebut dengan cara positif cenderung memiliki kecerdasan emosi dan empati yang kuat.
Sebagai contoh, ketika Si Kecil merasa marah atau sedih, ia bisa menuangkan kesedihan atau amarahnya pada aktivitas yang baik, misalnya menggambar atau menulis tentang emosinya.
8. Jadilah contoh yang baik bagi anak
Orang tua merupakan teladan bagi anak. Oleh karena itu, penting untuk memberikan contoh yang baik, termasuk dalam melatih empati anak. Misalnya, ketika Si Kecil sedang sedih, berilah ia dukungan atau pelukan. Si Kecil pun akan merasa nyaman dan mengenali rasanya diperhatikan orang lain.
Contoh lainnya adalah akui kesalahan yang Anda lakukan. Meski terasa sulit, segera minta maaf kepada Si Kecil saat Anda berbuat salah. Dengan begitu, anak akan belajar untuk memahami bahwa siapa pun bisa membuat kesalahan, tetapi yang terpenting adalah memberanikan diri untuk meminta maaf.
Melatih empati anak diperlukan proses yang tidaklah singkat, karena perlu waktu bagi anak untuk memahami dan menerapkan hal tersebut. Bila Anda merasa kesulitan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog anak agar bisa mendapatkan solusi yang tepat.
G. Referensi
A Nuha (2020, Januari, 7) . Belajar Empati dari Nabi. https://web.suaramuhammadiyah.id/2020/01/27/belajar-empati-dari-nabi/
Abduh Yamani, Muhammad. (1419 H). Khadijah binti Khuwailid. Jakarta: Pustaka Al Kausar
Indie, Bayu dkk (2019). The Great Prophet Muhammad – Meneladani Manusia Pilihan Allah. Jakarta: Pustaka Lebah
Novia, Rina & Syafrudin, Yudha (2009). Abdullah bin Mas’ud . Jakarta: Zikrul Hakim
Novia, Rina & Syafrudin, Yudha (2009). Zaid bin Haritsah. Jakarta: Zikrul Hakim
Novia, Rina ( 2008). Ali Bin Abi Thalib. Jakarta: Zikrul Kid
Mahmud Thahmaz, Abdul H. (1419 H) Aisyah binti Abu Bakar. Jakarta: Pustaka Al Kausar
Said Ramadhan A, Muhammad (1999). Sirah Nabawiyah. Jakarta : Robbany Press
BIODATA PENULIS
Nikmatuniayah, SE. MSi. Akt.
(Politeknik Negeri Semarang )
Nikmatuniayah lahir di Kota Lasem Rembang pada bulan Februari 1973. Pendidikan yang ditempuh Fakultas Ekonomi S1 dan S2 di Universitas Diponegoro Semarang. Nikmatuniayah menikah dengan Teguh Yuana pada tanggal 18 Agustus 1999. Sebagai ibu rumah tangga dia dikaruniai dua anak laki-laki yang ganteng. Nikmatuniayah adalah Dosen negeri di Politeknik Negeri Semarang. Nama pena, Nikmah Yuana ini juga founder Rumah Baca Sampun Maos ( sejak 16 Agustus 2016), dan Lapak Baca Taman Tirto Agung (sejak Agustus 2024). Nikmah Yuana menulis Blog di sampunmaos.com, seorang Conten creator Youtube Sampun Maos, musik dan film. Nikmah Yuana adalah penulis scenario Film, Puisi, Cerpen, dan Antologi. Nikmah Yuana membuka Class Room buat anak-anak belajar akting dan film. Nikmah Yuana bertekad memberdayakan budaya Nusantara Indonesia, dengan musik angklung .
Di bidang akademik Nikmatuniayah menulis buku mata kuliah ber – ISBN : Akuntansi Biaya, Sistem Informasi Akuntansi, SAK EMKM bagi UMKM, Etika Bisnis dan Profesi, dan Akuntansi Zakat. Yang terbaru adalah buku ISBN Sistem Akuntansi Pemerintah. Dia pernah memenangi sebagai Best Paper pada SNAPP di Bandung 2013, Seminar Nasional Akuntansi di UB Malang 2015, Best Paper 2 di SNAV 8 Palembang 2019, dan Best Presenter di Sentrikom Polines 2024.
Buku yang sudah terbit : Dosen Kentir Belajar Nyetir; Cinta dibalik Hemodialisis; Ayo Mondok. Nikmah Yuana sudah menulis 14 buku Antologi ber ISBN. Dua di antaranya Cernak “Pulang kampung” dan Cerpen Thriller “Rekontruksi Terakhir” dari Penerbit Babad Bumi. Ibu berputra dua ini memiliki motto: Hidup untuk berjuang, Berjuang untuk Hidup.