CERPEN ANTALOGI ” SEPATU BUDI”

Cerpen

By Nikmah Yuana dimuat dalam CERNAK Penerbit Babad Bumi

Budi memandangi sepatunya, Sepatu Bata warisan dari kakaknya. Warnanya sudah kusam, covernya mengelupas. Alas kaki solnya sudah mangap-mangap (terbuka) seperti mulut ikan Buntal. Budi memandangi sepatu Rey di sebelah, tampak selalu baru dan bagus. Sepatu bermerk terkenal warna hitam dan kokoh. “Seandainya Bapakku pedagang seperti Ayah Reyhan, pasti Sepatuku sudah ganti bagus.” lamun Budi sedih.

“Hey Bud ayo Latihan. Sudah dipanggil Pak Santoso tuh.”

“Iyyaa..,” Sahut Budi masih sedih.

Siang ini pulang sekolah Budi dan teman-teman tidak langsung pulang, melainkan Latihan upacara 17 Agustusan dulu, dipimpin Pak Santoso. Budi terpilih sebagai komandan upacara, karena suaranya ngebass dan kencang. Budi senang-senang aja sih dipilih sebagai komandan, hanya saja dia kepikiran sepatunya yang mangap mirip ikan mas Koki.

“Kepada sang Merah Putih, Hormaaat ! Gerak!” seru Budi lantang.

Reyhan, Bagus, dan Mala yang bertugas mengibarkan Bendera Merah putih sudah siap. Mala membentangkan bendera bareng Bagus, bendera itu berkibar dan tampak gagah. Sementara Reyhan menarik tali bendera sesuai dengan irama lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Lagu yang dipimpin oleh Muti dengan mantap dan tepat,” Hiduplaah Indonesiaa Rayaa.”

“Budi suara kamu lembek kurang lantang. Kamu melamun ya tadi, salah salah.” Ujar Pak Santoso mengevaluasi Latihan hari ini. Sebagai guru olahraga, Pak Santoso bertanggung jawab untuk suksesnya Upacara Hari Kemerdekaan Tingkat SD se Kecamatan Lasem. Kebetulan SD Soditan 1, sekolahnya Budi dan Kawan-kawan dipilih sebagai Tim petugas upacara tersebut.

“Ya Pak maaf, lagi ngga enak badan.” Budi menundukan kepala.

“Jaga badan tidak boleh sakit. Lima hari lagi kita bertugas memimpin Upacara Kemerdekaan di lapangan Kecamatan. “ Seru Pak Santoso lagi.

“Siap Pak.”

“Yang lain juga jaga badan, jangan minum es, ngga boleh begadang,” Seru Pak Santoso sambil memandangi anak-anak lekat.

“Siap Pak!” jawab Reyhan, Bagus, Muti dan Kawan-kawan.

Pulang ke rumah sudah sore, Budi langsung mandi dan sholat Ashar. Meski baru SD, Budi tak pernah meninggalkan sholat. Main layangan pun Budi tetap sholat, di mushola lapangan.

Budi mendekati Bapak yang lagi ngaso, minum kopi, dan merokok.

“Pak … Bapak..”

“Hmm apaaa,” Bapak memilin kertas sigaret, diisi tembakau, lalu dipilin menjadi lintingan. Bapak memang meracik sendiri rokoknya, Budi ditugasi beli kertas di aloon-aloon. Rokok racikan ini terkenal, namanya rokok lintingan, lebih enak dan segar, katanya Bapak sih.

“Pak anu .. anuu Sepatu Budi rusak Pak.”

“Kemarin sudah dilem kan?”

“Lepas lagi Paak. Mangap-mangap kayak ikan.Padahal Budi komandan upacara Tujuh Belas nanti Pak.”

“Apa iyaaa.” Bapak menghela nafas,” Jahitan Bapak lagi sepi Lee. Nanti kalauu ada orderan banyak, Bapak belikan sepatu baru. Sabaar yaa.”

Malamnya Budi nggak bisa tidur. Dia begitu sedih karena sepatunya rusak. Kok ya rusaknya tidak tepat sih, wayahe upacara lagi (batin Budi). Karena lelah Budi terlelap. Tengah malam Budi tersenyum, dia bermimpi dapat hadiah sepatu baru dari Bapak. Sepatu bermerk Adidas, yang sama dengan punya Reyhan. Sepatu warna hitam bagus.

Pagi bangun, Budi mendapati kenyataan ternyata hanya mimpi. Tangannya yang memegang kaki ini, eh lha kok cuma mimpi. Dia melongok ke kolong, tampak sepatu robek yang masih sama dengan siang tadi.

Berangkat sekolah Budi papasan dengan dengan Angsa. Tiba-tiba saja Angsa itu nyosor mengejar Budi. Lalu Budi lari sekencangnya-kencangnya, sial . Sepatunya yang semula robek di ujung, sekarang tinggal setengah.

Hampir saja Budi meneteskan air mata , kalau saja dia tak berpapasan dengan Reyhan  diantar Ayahnya naik motor. Reyhan memandang sepatu Budi dengan kasihan. Sebelum masuk kelas, Reyhan minta bicara sama ayahnya. Reyhan minta tolong ayahnya untuk membelikan sepatu baru buat Budi.

“Pah kasihan Budi Pah, sepatunya rusak mangap-mangap separo. Padahal Budi jadi komandan upacara lho Pah. Tolong Paah.” Budi mulai merayu ayahnya. Ayahnya pemilik Toko Sepatu “Maju Jaya” , toko Sepatu terbesar di Kota Lasem.

“Ngga bisaa Reyy. Sepatu-sepatu di Toko itu barang dagangan, ada biaya modalnya.” Jelas Ayah.

“Terus gimana dongg…” sela Reyhan bingung.

“Yah pikirkan dong sama kawan-kawan, bantu dia. Beri pekerjaan atau …”

Belum selesai ayah bicara, Reyhan sudah lari masuk kelas,” Okee Pah Rey sudah punya ide!” teriaknya sambil berlari.

Waktu istirahan Reyhan sengaja mengajak Bagus dan Muti ke pojokan kantin. Mereka membicarakan Sepatu Budi yang robek setengah.

“Kawan-kawan kita bantu Budi yok. Uang saku kita sisihkan setiap hari, separo untuk beli Sepatu Budi.”

“Setuju setuju. “ Seru Bagus.

“Oh ya aku ada ide, kebetulan tetanggaku punya pabrik kacang Entis. Setiap harinya butuh tenaga bantuan untuk ngupas kacang.” Usul Muti semangat.

Pabrik Kacang Entis tetangga Muti memperkerjakan orang-orang untuk mengupas kulit kacang. Kacang itu diambil dari pabrik lalu ditaruh ember, ditakar pakai takaran. Kemudian orang-orang kampung bisa membawa pulang dan dikupas di rumah. Esoknya bila selesai dikupas bersih semua, kacang se ember dikembalikan, ditakar ulang, lalu diberi upah per takaran. Oleh pegawai pabrik kacang bersih itu dicuci, diberi bumbu, lalu digoreng. Kacang kedele, atau kacang entis ditiriskan, dan dikemas dalam plastik. Atas suruhan Muti, Budi mengambil kacang mentah satu ember. Kacang itu dibuang kulitnya lalu esok pagi sekali sebelum berangkat sekolah, disetor ke pabrik untuk diolah jadi kacang goreng.

Sepatu hitam Kasogi harganya 21.500 rupiah di tahun 1990-an. Setiap malam Budi menghitung simpanan, yaitu upah mengupas kacang. Dihitung baru 11.000 rupiah. Budi terpekur sedih, tanggal 17 Agustus, dua hari lagi. Darimana bisa dapat 10.500 rupiah dalam waktu dua hari? Budi gelisah… dia menimbang-nimbang, apa perlu  mengundurkan diri besok.

“Pak pak… sayaa sayaa mau ijiin.”

“Apaaa?!Ijin ijin …” Pak Santoso menangkis galak.

Mak cep Budi membisu. Dia takut Pak Santoso tambah marah.

Hari minggu ini Budi nekat pergi ke pasar Lasem. Dia hendak membeli sepatu dengan membayar separo dulu. Sampailah Budi ke deretan Toko Sepatu. Ada beberapa Toko Sepatu, Budi masuk dan melihat-lihat. Toko Sepatu “Maju Jaya” tampak paling maju dan keren. Kalau toko lain biasa, sepatu ditumpuk-tumpuk, toko ini lain. Berderet sepatu dipajang di etalase, urut jenis dan ukuran. Budi memilih-milih ada Sepatu Kasogi, lumayan bagus.

“Ada apa Dek mau pilih sepatu? Mau sepatu yang mana, kakak pilihkan.” Kata pelayan toko aktif.

Budi jadi malu malu…

“Anu anu… Sepatu buat upacara bendera.”

“Oh Sepatu hitam, ada di dalam, mari saya antar.”

Di dalam Budi mendapati temannya Reyhan sedang mengelap Sepatu-sepatu, lalu memasukkan ke dalam kotak Sepatu.

“Hey Rey ngapain di sini?”

“Hei jugaa inii aku sedang bekerja,” Kata Reyhan sambil memasukkan sepatu ke kotak Sepatu. Lalu kotak-kotak itu ditumpuk , dibawa ke atas lemari.

Budi menemukan Sepatu pilihannya. Dengan takut -takut dia berbisik ke pelayan, “ Mang boleh bayar separo dulu.” Budi menyerahkan uang satu lembar sepuluh ribuan, dan selembar seribu. “Nanti separonya lagi aku bayar minggu depan.”

“Eh anak kecil utang. Ngga bisa.. ngga boleh utang.” Jawab pelayan toko, Mang Ali tegas. Dengan tidak menoleh, dan meninggalkan tempat posisi Budi .

Dengan gontai Budi meninggalkan Toko Maju Jaya. Kakinya lesu, sandal pun diseret-seret. “Kapan Bapak punya uang buat beli sepatu.” Dia menatap langit.

“Budiii tungguuu!” Seru Reyhan berlari-lari. Dia membawa kotak sepatu yang dipilih Budi tadi. “Ini buat kamu, sepatumu.”

Budi mulutnya terbuka tak percaya. “Beneran ini sepatu buat aku.”

“Ya betul sebenernya Kawan-kawan dah patungan ngumpulin uang saku buat tambahan beli sepatu. Ini pas terkumpul 10.500 rupiah,” Kata Reyhan sambil menyerahkan uang kekurangan.

“Terimakasih Reyhan, terimakasih Kawan-kawan.” Budi mengambil kotak Sepatu itu lalu berlari kembali masuk toko. Dia membayar sepatu ke pelayan, lalu dibungkus.

Hari 17 Agustus pukul 10.00 wib…

“Kepada sang Merah Putih, Hormaaat Geraaak!!” Seru Budi lantang dan bangga. Di kakinya bertengger sepatu Kasogi warna hitam dengan gagah. Muti pun memimpin lagu Indonesia Raya dengan mantap. Reyhan, Bagus, Mala mengibarkan Bendera Merah Putih dengan hati senang dan lapang.

BIONARASI

Nikmatuniayah adalah Dosen negeri di Politeknik Negeri Semarang. Nama pena, Nikmah Yuana ini juga founder Rumah Baca Sampun Maos ( sejak 16 Agustus 2016), dan Lapak Baca Taman Tirto Agung (sejak Agustus 2024). Nikmah Yuana menulis Blog di sampunmaos.com, seorang Conten creator Youtube Sampun Maos, music dan film. Nikmah Yuana adalah penulis scenario Film, Puisi, Cerpen, dan Antologi. Nikmah Yuana membuka Class Room buat anak-anak belajar akting dan film. Nikmah Yuana bertekad memberdayakan budaya Nusantara Indonesia, dengan musik angklung .

Buku yang sudah terbit : Dosen Kentir Belajar Nyetir; Cinta dibalik Hemodialisis; Ayo Mondok. Nikmah Yuana sudah menulis 14 buku Antologi ber ISBN. Dua di antaranya Cernak “Pulang kampung” dan Cerpen Thriller “Rekontruksi Terakhir” dari Penerbit Babad Bumi. Ibu berputra dua ini memiliki motto: Hidup untuk berjuang, Berjuang untuk Hidup.

FOTO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *