CERPEN ANTALOGI “PUCUK DICINTA ULAM TIBA”

Cerpen

BY Nikmah Yuana, Dimuat dalam Antalogi “Romance” Penerbit Babad Bumi

Andre ketua AND The Gank (Gank cowok kece) Fakultas Ekonomi adalah cowok yang tajir. Cakep badan bagus, prestasi oke, dan punya banyak bakat. Nyanyi, ngedance, atau main drama. Kadang dia menjadi bintang iklan kecil-kecilan meski cuma jadi figuran. Andre cowok yang  penuh bakat dan dikagumi banyak orang. Banyak mahasiswi yang mengenal Andre, dan mengaguminya. Namun Andre ngga sembarang nanggepin cewek-cewek kampus. Di fakultas sebelah, Fak Hukum dan Fak Fisip pun Andre cukup terkenal, karena Andre aktif di BEM.

Muti mahasiswi tingkat dua di Fakultas Ekonomi pun diam-diam mengagumi Andre. Iyalah sapa yang tidak mengagumi Andre, cowok cakep tajir, berprestasi. Namun kali ini Muti tak sekedar kagum doang, agaknya dia tertarik dengan si Andre ini. Andre yang tidak mengenalnya sama sekali, Andre yang tidak memandang Muti sama sekali. Namun Muti sering melihatnya, setiap pagi jam 7.00 Wib, Andre mesti sudah nongkrong di depan kelasnya, B12. Seperti ada yang diincar Andre.

“Clara kamu kenal ngga sama si Andre,” Tanya Muti sambil nunjuk-nunjuk Andre dari kejauhan.

“Andre sapa?” Clara clingak -clinguk. “Oh dia? Kenal.”

“Dia liatin kamu terus tuh.” Senggol Muti pelan.

“Ah mana? Biarin aja emang gue pikirin.” Jawab Clara cuek.

Muti diam. Dia melihat Andre dari kejauhan sedang menatap Clara tanpa kedip. Kayaknya si Andre lagi ngecengin Clara deh. Duh seandainya Clara itu dirinya, dia bakalan bahagia dunia akhirat. Namun siapalah Muti, gumamnya. Muti hanya mahasiswi dari daerah yang kumpul dengan mahasiswa tajir di Fakultas Ekonomi. Dia anak PSSB (Program masuk tanpa seleksi) dan beasiswa Supersemar. Kawan-kawan kuliah pergi pakai mobil atau motor, dia jalan kaki. Fashion yang dipakai juga sederhana, hanya warna-warna netral, hitam, putih, dan biru.

Muti ini dekat dengan Clara, si cewek cantik, putih, dan tajir pula. Kemana-mana bawa mobil, jadi Muti kebagian manfaatnya kadang numpang atau sekedar di ajak jalan Clara. Kebetulan Clara cocok dengan Muti, karena Muti pintar, pendiam, dan easy going. Urusan tugas-tugas kampus Clara bisa mengandalkan Muti, termasuk teman yang gampang diajak jalan, karena Muti ngga banyak maunya. Muti juga baik, tidak suka nggibah.

“Hey.. kamu temennya Clara kan?” Tanya Andre tiba-tiba, di suatu pagi pukul 07.00 wib, di koridor kelas B12.

“Yah benar, kakak ada perlu apa?” Tanya Muti heran dan deg-degan, diajak ngomong Andre tiba-tiba.

“Tolong berikan bekel ini untuk Clara ya? Kamu kan temen deketnya Clara?”

“Oke siap Kak.”

Kuliah pertama usai Muti ngaso sebentar sama Clara di kantin. Sambil minum ES Teh  Clara menyalin catatan Muti.

“Ra tadi ada yang nitip nih.” Kata Muti menyodorkan kotak bekel titipan Andre.

“Dari sapa?”

“Kak Andre.”

“Ogah ah. Kamu aja yang makan.”

“Ngga boleh nolak rezeki tahu Ra.”

“Ih amit-amit nanti aku dipeletnya lagi.”

Sejak itu Andre selalu nitip kotak bekel, Clara selalu menolak, dan yang makan Muti. Padahal menurut Muti kotak bekelnya enak, Mie Telor, Nasi goreng Ayam, atau Nasi Rendang daging Sapi. Lumayanlah buat Muti bisa menghemat pengeluaran, bergizi lagi. Makanya Muti selalu excited dan menunggu kotak bekel itu.

“Eh Mut pulang kuliah nanti jalan ya.” Ajak Andre suatu ketika.

“Eh eh jalan kemana Kak,” Tanya Muti deg degan , diam-diam dia diajak jalan sama cowok idola mahasiswi Ekonomi.

“Yah jalan aja, puter-puter Simpang Lima, ke Gramed baru makan.”

“Bo boleh Kak.”

“Ok siap ya nanti pukul 16.00 wib ku tunggu di gerbang luar.”

Sore di Simpang 5 cukup adem. Angin sepoy sepoy menampar muka Muti, sekali-kali rambutnya tersibak.

“Muti aku boleh tanya-tanya nggak.” Kata Andre selonjoran.

“Boleh.” Muti menunduk sebenarnya dia deg-degan. Hatinya bahagia bisa jalan sama Kak Andre, cowok impiannya.

“Ceritain dong Clara itu gimana. Hobinya apa, Sukanya apa.” Kata Andre lagi. Matanya menatap Muti lekat-lekat. Diih Muti jadi tambah grogi salting.

“Oh tentang Clara..” Ternyata tujuannya untuk menanyakan Clara. Ketiwasan Muti kegeeran. Lalu Tarik nafas, hela nafas, Muti menceritakan Clara:  hobi Clara yang suka makan seblak, nonton Drakor, dan suka koleksi Tas branded.

Tidak sekali Andre ngajak jalan Muti hanya untuk bertanya tentang Clara. Selesai dari Simpang 5, Andre mengajak ke Gramedia. Ternyata Andre suka baca buku, sama dengan Muti. Muti yang koceknya pas-pasan senang dong diajak jalan ke toko buku. Matanya berkilat-kilat tanda semangat. Senyumnya lebar, tanda bahagia.

“Eh Mut kamu boleh pilih satu.”

“Beneran Kak?”

“Iyaa..”

“Kisaran berapa Kak.”

“Bebas.”

Muti mengambil novel NH Dini, “Pertemuan Dua Hati”.

“Kamu suka juga NH Dini ?” Muti mengangguk kesenangan. Dipegangnya buku itu erat-erat seolah-olah takut lepas. “Aku suka NH Dini, Mira W. atau Mara GD.”

“Aku  lebih suka novel thriller, Agata Cristie, Paula Hawkins, Ruwi Meita”, jelas Andre sambil membayar di kasir.

Pendekatan yang dilakukan Andre sama Clara agaknya belum membuahkan hasil. Meski Andre nitip CD film Romance untuk Clara, Nasi goreng sea food, dll Clara tetep cuek. Yang makan Nasi goreng sea food ya Muti, yang nonton Film Romance  jadinya juga Muti.

Suatu sore di belakang Gedung perpustakaan, Muti dan Clara sedang mengerjakan tugas. Di sebelah-sebelah juga banyak mahasiswa yang kumpul-kumpul mengerjakan tugas, proker, atau ngaji holaqoh kecil-kecil. Gedung perpustakaan kampus Pleburan ini sangat besar dan luas. Di sisinya tersedia koridor melingkar yang bisa dipake kongkow atau duduk-duduk. Perpustakaan Besar ini tempat bertemunya mahasiswa Teknik, Ekonomi, Fisip, dan Hukum.

“Ra kamu kok cuek aja sih sama Kak Andre. Padahal apa kurangnya Kak Andre, cakep, tajir, berprestasi lagi.”

“Aku kan ngga cinta sama dia. Cinta kok dipaksain.”

“Emang sapa Ra cowok yang kau mau.”

“Ada deeh.”

“Halah main rahasia-rahasiaan… sapa Ra.” Muti menghentikan tulisannya. Pulpen di taruh, matanya menyelidik menatap Clara tajam.

“Fuad….”Jawab Clara senyum-senyum.

“Haa kamu suka Fuad?” Muti ngga habis pikir, Clara malah menyukai Fuad. Cowok kelas genap Angkatan 97. Cowok paling pintar dan pendiam. Cukup ganteng, hanya saja Fuad cowok cuek. Aslinya dari Kudus, tipikal cowok pendiam taat beragama.

Dunia ini memang susah diprediksi. Kak Andre yang cakep tajir melintir, cocoknya sama Clara, cantik putih, kaya. Eh malah Clara jatuh cinta sama Fuad teman sedaerahnya, satu SMA . Fuad yang pintar tapi pendiam, l. Bagaimana mungkin Clara bisa jatuh cinta sama Fuad. Sementaranya dirinya yang mencintai Andre,  bertepuk sebelah tangan.

Pagi ini senin pukul 07.00 wib di Teras B12. Andre menunggu Muti. “Muti… tolong berikan bekel ini untuk Clara ya?” coo

“Baik Kak siap.”

“Eh Mut nanti sore nonton yuk, aku lagi gabut nih, bete.”

“Bete kenapa Kak.”

“Banyak tugas..”

“Halaah paling karena Clara belum mau, iyaa kan Kak.”

“Iya sih.”

Kali ini film “Dead Poets Society” sangat bagus. Muti sangat terharu dengan jalan ceritanya, seorang anak pemalu lugu yang sekarang jadi semangat dan pemberani. Andre pun puas menonton, dia mendiskusikan temanya dengan Muti sepanjang perjalanan pulang. Sebuah film yang sangat mengesankan. Cerita tentang seorang guru visioner yang mengajar di sekolah anak laki-laki.

“Filmya bagus ya Mut.”

“Iya Kak, apalagi pas Mr Keating diusir dari sekolah. Anak-anak menyobek buku satu-satu, berdiri di atas meja, benar-benar pembaharuan.” Kata Muti berapi-api. Muti jadi bersemanagat, jika tersenyum tampak manis. Matanya bercahaya menyiratkan sinar kehidupan. Diam-diam Andre memperhatikan.

By the way… makan dulu Yuk Mut, biar pulang kamu ngga kelaperan.

“Boleh Kak, di mana.”

“Di Plaza yuk, kita makan Soup buntut.”

Di Rumah makan Muti melihat Kak Andre makan dengan lahap sekali. “Kak aku boleh tanya Kak?”

“Hmm tanya aja.” Jawan Andre sambil menyeruput tulang.

“Kak Andre masih suka ngga sama Clara?”

“Nggak lagi,” Jawan Andre enteng.

“Kok Kak Andre masih suka nitip bekel buat Clara?”

“Ya itu buat kamu. Kamu yang makan kan?”

“Haaaa.” Muti heran. “Jadi selama ini Kakak tahu aku yang makan?”

“Iyaaa.”

“Kenapa Kak?”

“Yaaaa karenaa aku sukaa kamu.” Jawab Andre enteng.

Malamnya Muti jadi baper, apa benar Kak Andre suka dirinya.Bukannya dia suka Clara. Clara memang tidak menanggapinya, tapi Muti nggak yakin dicintai.

Andre masih suka ngajak jalan Muti.  Pulang kuliah dari Kampus Pleburan, ke Simpang Lima, Toko Gramedia, atau jalan-jalan ke Kota Lama Semarang. Menyusuri jalan Gajah Mada, Hotel Majesty, Pasar Johar, Kantor Pos, Taman Titik Nol, lalu masuk Kota Lama. Kota Lama Semarang makin ramai dengan pengunjung. Pengunjung berfoto-foto di titik-titik view foto seperti: Taman Sri Gunting, Gereja Blenduk, dan Rumah Tua akar pohon. Paling favourit adalah rumah akar pohon. Akar pohon yang menembus tembok tua dan tembok tua , dengan jendela tua. Lokasi ini biasa dipakai prewed.

Andre sedang mengajak jalan-jalan di Lorong rumah akar pohon. Dilihatnya ada sepasang kekasih yang lagi foto prewed.

“Bagus ya gaunnya, cantik lagi,” Andre melihat dengan tersenyum.

“Iya Kak cantik,” Muti jadi cemburu tiba-tiba. Ih mengapa dia jadi cemburu, bukannya Andre bukan sapa-sapa lagi.

Andre menoleh ke samping, dia tahu Muti cemburu. Dia jadi tersenyum terkekeh, dia tahu Muti sangat mencintainya. Diam-diam dia juga memperhatikan Muti, dia menyukai Muti. Banyak hobi yang sama, pandangan yang sama, film yang sama, Andre yakin dia cocok dengan Muti. Bukan karena dia ditolak Clara, melainkan dia baru sadar, dia mencintai Muti. Kemarin dua bulan Magang dia tidak bertemu Muti, sengaja untuk menguji cintanya. Apa benar dia mencintai Muti. Ternyata dua bulan Magang di Yogya tanpa komunikasi, dia jadi kangen sama Muti. Dia rindu dengan senyum Muti yang manis. Muka Muti yang coklat estetik, hidung mbangir dan rambut kemerahan. Justru wajah seperti Muti ini akan awet muda dibanding Clara.

“Ihhh cemburu yaaa,” Goda Andre ngekek.

“Siapa pula yang cemburu.” Muti menunduk. Dia gelisah salting. Dipilin-pilinnya tangannya , berkeringat dingin. Dia gugup.

“Tuhh kan cemburu.”

“Ah haa Kak Andre ini lhoo bikin bingung deh,” Muti tambah salting.

“Maksud aku itu pengantin ceweknya kalau kamu, Mutiii… manis.. jadi cantek sekaleee.”

“Apaaa?’ Muti mendongak bingung. Dipandanginya Andre yang senyum-senyum jahil.

“Yaaa minggu depan aku ajak ke Mamah Papah aku. Habis ujian skripsi aku langsung mau melamar kamu sayang.” Andre menatap Muti lekat-lekat. Dipandanginya mata Muti yang tidak berkedip. Muti menunduk, gelisah salting.

“Kan kita wisudanya bareng, ngga masalah kan?” Andre S1 Ekonomi, Muti D3 Akuntansi. Benar mereka bisa wisuda bareng, tak ada alasan Muti menolak dan menunggu.

“Gimana ?” Tanya Andre lagi .

“Hmm ..” syusah Muti untuk ngomong mengiyakan. Mulutnya kelu karena malu. Dia tersenyum dan mengangguk.

Titimangsa: 7 Oktober 2025

Bionarasi:

Nikmah Yuana adalah nama pena Nikmatuniayah. Alumnus S1 FE Undip ini sejak SMA sudah bergerak di bidang jurnalis. Kali ini dia mendirikan Rumah Baca Sampun Maos pada tanggal 17 Agustus 2016. Nikmatuniayah juga menjuarai Best Paper di bidang akademik. Di bidang penulisan dia sudah menerbitkan tiga buku populer: Dosen Kentir Belajar Nyetir; Cinta Di Balik Kelambu Hemodialisis; Ayo Mondok. Dia juga ikut sebelas event menulis buku antalogi dengan media Aleniaku. Kali ini dia adalah Dosen di Politeknik Negeri Semarang, dan penggerak Read Aloud di Kota Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *