By Nikmah Yuana (dimuat dalam Antologi Alineaku ” Secangkir Kopi & Cerita”, Penerbit Alineaku
Emak adalah produsen Kopi. Yah, bisa dibilang skala rumah tangga, karena Emak buatnya hanya 10 kg per produksi. Kopi yang dibuat bukan kopi murni, melainkan kopi campuran pipilan jagung dan potongan kelapa. Namun aroma yang dirasakan sangat khas kopi ndeso, yang harum dan gurih tidak pekat. Emak membeli biji kopi di Pasar, lalu siang disangrai campur pipilan jagung & kelapa. Emak mengsangrai biji kopi di atas wajan tanah liat, dengan pawon alami (bahan bakar kayu).
Sesekali kulihat Emak meniup-niup api biar bara api tetap menyala. Kadang aku membantunya mengorek-ngorek bahan kopi dengan sutil. Bahan kopi dan campurannya dikorek-korek sampai gosong dengan tingkat kematangan tertentu, yang tahu ya Emak sendiri. Karena setiap kali aku tanya,” Mak, wes mateng urung?” (Mak, sudah mateng belum?)
“Urung” (Belum). Begitu jawabnya. Demikian berulang sampai digantikan Emak, lalu dientas (diangkat).
Berikutnya bahan kopi yang sudah gosong, dimasukkan Lumpang, lalu dihaluskan dengan Alu (Tumbuk). Aku mesti ikut bagian dari proses menumbuk kopi sampai halus. Jaman itu belum ada blender atau mesin kopi. Rasanya berat dan melelahkan anak perempuan usia 10 Tahun.
Habis ditumbuk sampai halus, lalu Emak mengayak kopi dengan ayakan kopi yang berpori-pori halus, hingga didapatkan bubuk kopi yang lembut seperti bedak tabur. Aromanya wangi kopi, warnanya bukan hitam pekat, melainkan hitam kecoklatan. Rasanya gurih dan berampas. Ampasnya inilah yang dipakai untuk lelet rokok. Di Kota Lasem, banyak warung kopi lesehan untuk tongkrongan bapak-bapak, dengan lelet kopi.
Berikutnya lagi aku yang kebagian mengantar kopi-kopi itu ke warung-warung pelanggan Emak. Warung glender yang berada di gang Glender (Turunan). Warung-warung itu berada jejer-jejer di kanan kiri Gang jalan, berada tepat di pertigaan jalan besar Masjid Jami’ dan Jalan Tuban. Warung-warung ini buka 24 jam dengan menu khas: Cumi, Asem-asem Daging, Kelo Mrico, dan Semur. Kota Lasem yang ramai dan menjadi persinggahan sopir-sopir Truk, menjadikan warung selalu ramai malam hingga pagi.
Aku mengantar Bubuk Kopi dibungkus plastik ½ kilo, dengan berjalan kaki, sambil bernyanyi-nyanyi diikuti teman-teman gank aku. Setiap habis mengantar kopi itu, aku boleh mengambil jajanan sebagai upah, biasanya aku ambil pisang goreng. Pisang goreng itu pun kumakan bersama teman-temanku.
“Njaluk Nik…” (Minta Nik) pinta mereka satu-satu. Pisang goreng itu aku cuil kecil-kecil dan kubagi teman-temanku. Sembari makan pisang goreng kami menyeberang ke aloon-aloon Lasem, lalu bermain petak umpet, atau gobak sodor.
Ketika tahun 2000an Warung kopi tumbuh dan berkembang. Aku pulang bersama suamiku di Rumah Emak, dan disuguhi kopi khas Emak. Emak selalu membuatkan kopi untuk suamiku. Dan suamiku senang sekali karena rasanya khas, gurih enak. Kopinya beda dengan kopi yang dijual di Alfamart Indomart. Pulang ke Semarang kami dibawakan kopi. Tiap pagi dan sore, suamiku selalu menyeduh kopi sendiri. Aku tidak wajib menyeduh kopi, karena seduhanku tidak enak he he. Kadang emang kubikin sembarangan biar aku tidak wajib menyeduh kopi wk wk.
Kadang ampas kopi itu dibuat lelet rokok suamiku. Ada-ada saja dia meniru orang-orang desa. Kebiasaan merokok ini kuatur harus di luar rumah atau di Teras. Biasanya suamiku merokok dulu di Jogangan, atau Teras, selesainya membersihkan mulutnya dengan permen mint. Aku membuat peraturan demikian, karena aku punya bayi.
Kebiasaan merokok ini hilang sendiri Ketika suamiku didiagnosa Diabetes. Suamiku masuk rumah sakit karena pingsan, dengan luka kaki yang tidak sembuh-sembuh. Jika kutanya Dokter, apakah luka kakinya bisa sembuh? Dokter selalu menjawab,”Sukar sembuh.”
Dulu aku memaknai dan berharap, akan sembuh dan seperti sediakala. Nyatanya “Sukar sembuh” itu lebih ke “Tidak pernah sembuh”, atau Bahasa halusnya tidak akan sembuh. Karena kenyataannya kaki itu tidak kembali normal, tapi jarinya lepas, dan dikerok lukanya sampai bersih.
“Bapak berhenti merokok ya!” Saran dokter.
Sejak itu suamiku tidak merokok lagi. Namun kadang jika kesal penyakitnya kambuh, suamiku menyalahkan diriku, dibilang “gara-gara aku berdoa ‘suami tidak merokok’, maka dibuat sakit dan tidak merokok”. Padahal aku tidak berdoa demikian, hanya berharap saja suami tidak merokok.
Kini Emakku sudah tiada. Suamiku juga sudah tiada, karena gagal ginjal dan anfaal. Di bilang Diabetes itu yang katanya “Sukar sembuh”, itu baru kusadari, kalau artinya “tidak bisa sembuh”. Artinya penyakitnya semakin mremen (semakin menjadi dan komplikasi).
Di Semarang, atau di kota -kota lain Kopi sekarang menjadi viral. Banyak café – café tumbuh berjamuran di Tembalang atau Banyumanik. Tumbuh dan mesti ramai dikunjungi mahasiswa-mahasiswa. Baik yang kopi murni digiling pakai mesin kopi, atau kopi instan kocok, seperti Nescafe rame banget. Aku pernah tanya berapa cup perharinya, bisa sampai 200an. Wah lumayan banget.
Aku berpikir kalau aku bisa membuat kopi dan menjualnya, bakal kuberi label “Kopi Emak”, asli Lasem. Sayang aku tidak pernah menanyakan komposisi antara Biji Kopi, Biji Jagung, dan Kelapa. Aku juga tidak tahu berapa skala kematangan bubuk kopi matang yang masih kasar. Di antara saudaraku juga tidak ada yang membuat kopi. Emak juga tidak memberitahu kami, resep kopinya.
Mungkin karena dulu aku malu sebagai anak produsen kopi. Kalau aku diminta mengantar Kopi ke rumah orang yang anaknya adalah temanku di sekolah, aku malu sekali. Aku malu ketika mengetuk pintu, mengantar kopi, dan ketahuan menerima uang ribuan. Serasa aku anak orang miskin.
Ternyata dewasa kemudian, kopi tumbuh menjadi kuliner yang sangat diminati dan ikonik. Aku menyesal, dalam bayanganku kenapa aku malu. Kenapa aku tidak belajar mengsangrai biji kopi, menumbuk kopi, dan mengayak kopi. Emak juga tidak mengajariku resepnya.
Aku masih terobsesi Kopi. Aku biasa menulis dengan secangkir kopi. Kopi yang kubuat, kopi instan campur susu sedikit, kadang aku bereksperimen campur Teh sedikit. Bila sore hari aku menyiapkan Kopi susu, dengan camilan, lalu baca Novel. Serasa dunia ini adalah milikku sendiri. Aku menyesap kopi dengan tegukan dan merasakan di lidah dan “merem” menerima syukur. Saat ini adalah saat paling tenang dalam hidupku. Kopi membuat tenang dan merasa me time.
Aku masih berangan kalau saja aku dapat resepnya aku mau produksi Kopi Emak. Kopi bubuk hitam coklat, campuran jagung dan kelapa. Entah survey nanya-nanya Pak Dhe Bu Dhe, atau eksperimen.
