By Nikmah Yuana (dimuat dalam Antologi “Lelah Ini Punya Cerita” Penerbit Alineaku
Tuhan aku lelah tapi aku masih ingin hidup. Kadang … rasanya mau mati saja, atau tatkala nyetir kendaraan biar ini tabrak tabrak saja. Tapi aku masih ingin hidup, cerita dimulai dari sini.
Aku barusan patah hati, tak kukira aku patah hati. Sebenarnya aku belum mencintai benar-benar, namun ketika dia mendekati aku dan dia berhasil bikin aku jatuh cinta, aku mencintainya sangat dalam. Kukira aku akan mendapatkan cinta yang benar-benar diperjuangkan seperti yang ada di buku -buku. Nyatanya aku hanya dipupuk cinta setengah jalan dan ditinggal dengan menikahi gadis lain, sahabatku sendiri. Ironisnya bahkan aku jadi sangat mencintainya, dan rela berbagi kelak jika bersama. Kukira dia juga mengefort gadisnya, sama seperti diriku yang janda. Hanya karena aku janda dan tidak perawan. Alasannya seperti yang dikutip dari hadist Nabi,” pilihlah perawan, karena mulut perawan itu manis”
Seketika hancur hatiku, patah hatiku. Aku merasa dibuang, tidak berharga. Sesama perempuan aku kalah karena aku tidak perawan dan janda.
Aku menghabiskan banyak kegiatan hanya untuk melupakannya. Kegiatan demi kegiatan aku ikuti, Taklim hari Selasa, Kamis, dan Jumat. Senam aerobik Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Apalagi ketika waktu Maulid tiba. Deretan jadwal Maulid dari hari 1 sd 12, dan hari besar di Masjid tempat yang berbeda. Pulang-pulang aku sudah kelelahan dan tinggal tidur. Kadang saking lelahnya aku tidak sempat berganti baju, aku tidur pakai baju Taklim yang sama. Atau saat aku melipat baju-baju bersih, di tengah-tengah aku bisa tidur di atas tumpukan baju-baju.
Pernah aku pergi sholawatan ke Jalan Setiabudi, masuk lagi di belakang gedung Diklat Jateng. Aku mengikuti map karena Masjid yang disebut masih asing bagiku. Ternyata aku keblosok jalan satu arah perumahan gang buntu. “Asem!” aku mengumpat!
Di depan kulihat ada Driver Grab yang menurunkan penumpang, yang tadi kuikuti. Aku turun dan bertanya,”Pak ini jalan bisa terus ke sana?” Kataku sambil tanganku menunjuk depan, sebab kalau putar balik, bakal susah. Jalan gang-nya lumayan sempit, hanya bisa dilalui satu mobil.
“Ini gang buntu Buk.” Kata Driver itu.
“Gimana Pak puter baliknya?”
“Mundur aja bu sampai permukaan.”
Busyet! Padahal sudah masuk terlampaui jauh. Terpaksa deh aku jalan mundur dengan menengok spion terus. Mundur terus dan terus….. akhirnya sampai permukaan. Lega rasanya.
Aku melanjutkan jalan sambil tanya -tanya orang. Akhirnya sampai, ealah ternyata masjidnya di belakang ADA Setiabudi wk wk. Tahu begitu aku lewat jalan belakang ADA tadi .
Untuk menambah penghasilan harian aku jualan Ayam dan Bebek potong. Ada yang pesan Bebek 2 ekor, rumahnya di depan Lapangan Merbau Banyumanik. Aku pernah ke sana waktu mengantar pesanan lebaran kemarin.
Aku jalan menyetir mobil sendiri sambil ingat-ingat Gang masuknya. Kayaknya ini deh Gang di dekat Gereja, aku jalan terus dan terus , baru merasa aneh. Kok tidak seperti kemarin ya rumah-rumahnya, kayaknya salah masuk Gang deh. Sepertinya Gang yang aku masuki kurang satu gang lagi. Hadeeh, puter balik jalannya sempit. Aku optimis jalan terus, dan rencanaku mau belok ke kiri, dengan harapan nembus ke Gang Lapangan Merbau. Nah, ini dia aku turun dan turun. Rumah-rumah yang di sisi kanan seperti di atas tebing.
Kok jalannya semakin menyempit, nyaris buntu. Aku turun tolah toleh, barangkali ada orang yang bisa kumintai tolong.
Ada anak kecil yang sedang bermain.
“Dek ayahnya di mana?”
“Tidur!”
Owalah sedang tidur siang-siang. Aku turun sambil mengukur jalan sempit di depan. Jalan sempit ini menanjak, di sebelah kanan kiri ditutup semak belukar.
Ada ibu-ibu lewat rupanya yang punya rumah.
“Ibu yang punya rumah ini?” Posisi mobilku menutup pintu rumah.
“Yaa”. Jawabnya datar.
“Terus aja, bisa kok lewat.”
“Bisa bu? Sepertinya sempit. Avanza bisa?”
“Truk kecil aja bisa kok Mbak. Itu ngga jauh kok, Rumah putih itu sudah sampai jalan besar”
Aku beranikan diri menyetir naik, dan bismillah sambil lihat spion kanan kiri. Jalan menanjak terus dan terus, sampai rumah putih. Lho baru sebentar keluar Gang, kelihatan Lapangan Merbau. Aku ketawa sendiri, ternyata jalan nanjak sempit tadi tembus langsung ke jalan besar Lapangan Merbau.
Kemana-mana memang aku menyetir sendiri. Kehampaan kurasakan menjelang Maghrib tiba. Pulang dari kantor, Maghrib tiba di pertigaan lampu Bangjo. Sambil menunggu lampu kuning, perasaan senyap itu kerap muncul. Perasaan kehilangan, Mati Rasa. Dan begitu azdan Maghrib berkumandang, perasaanku nggregel. Aku merasa dipanggil Tuhan, hanya Tuhanlah tempat aku bersandar. Aku mengadu, yah hanya kepada-NYa. Karena Rasa ini tak bisa kuceritakan ke siapa-siapa.
Pernah pula ketika aku pulang aerobik sore, menjelang Maghrib, di pertigaan Bangjo Masjid Muhajirin. Selalu Maghrib dan pertigaan Lampu Merah.
Waktu itu Radio pas menyiarkan lagu “Bidadari Surga” lagu yang dipopulerkan Ustad Jefry ( Uje). Aku mendengar sambil menyetir dan aku menangis. Aku menangis sampai terdengar sesenggukkan. Aku gampang menangis, makanya ketika menyetir mobil sendiri, bisa kutangis-tangiskan. Aku menangis sampai perjalanan 1 Km .
Sekarang aku sangat lelah, kakiku berkurang daya tapaknya. Masa emasku sudah habis. Aku masih berjuang untuk melupakannya. Aku selalu berdoa untuk melupakannya, tapi aku masih mengingatnya. Semakin kuat untuk melupakan, wajahnya masih membayang di kenangan.

