By Nikmah Yuana (dimuat dalam “Tangis dalam Perut” Antologi , Alineaku)
Sore ini kami, aku, suamiku, dan dua putraku menguburkan janin yang telah mati dalam kandungan. Janin usia 3 bulanan, masih berbentuk gumpalan darah sekepalan tangan orang dewasa. Bakal bayi itu kami namakan Dek Oka, kepanjangannya Orang kaya. Kami menyebut bayi kami sejak dalam kandungan, putra pertama Opin, orang pintar. Putra kedua Osa, orang yang sabra. Dek Oka ini putraku yang ke tiga, setiap mau tidur mesti anak tengah, Osa mengelus-elus perut dan bilang “Dek Oka bobok”. Kami melatih putra kami dengan panggilan sejak dalam kandungan, tak peduli laki atau perempuan. Karena kami sepakat tidak melakukan test rogent, lebih eman-eman ke babynya dan juga suprais buat kami. Nah Dek Oka ini telah mati dalam kandungan, dikuret tiga hari yang lalu.
Begini ceritanya, suamiku menyandang diabetes akut. Mulai dari treatment obat oho, suntik , dan bolak balik ke rumah sakit bila anfal. Bila anfal atau tidak sadar diri, pingsan biasanya ada tindakan baru. Jari kakinya dipotong, Nah kali ini suamiku anfal. Dari tadi sore muntah terus, katanya mual. Saya bawa ke rumah sakit terdekat, Rumah Sakit Banyumanik. Waktu itu saya masih hamil 3 bulan, mendampingi suami di Rumah Sakit. Sore saya keluar cari makan, dan rencana mau beli makalah Femina untuk dibaca-baca, selagi masih menunggui di IGD. Begitu pemeriksaan selesai saya membantu dorong bed beroda menuju ke kamar rawat inap. Tiba-tiba rasanya di dalam perut sepertinya ada yang turun. Namun saya abaikan, karena fokus aku di suami.
Setelah pemeriksaan suami dinyatakan gula tinggi 500, dan harus di bawa ke rumah sakit Kariadi. Malam itu juga aku mengikuti suamiku dibawa ambulance ke rumah sakit, sementara mobil aku dibawa tetanggaku. Masuk IGD Rumah Sakit Kariadi, suasana mencekam. Terdengar suara alat deteksi jantung tut tut tut tuut , dengan misteri. Gambar grafik yang naik turun, menggambarkan denyut jantung suamiku, kadang aku membayangkan bila grafik itu semakin melandai dan datar. Aku sangat ketakutan. Untuk mengurangi rasa takut, aku jalan-jalan masuk ke dalam bilik bayi. Bayi-bayi dalam tabung yang dilahirkan premature, juga ada bayi dengan kelainan, atau lemah jantung. Aku melihatnya dengan sangat kasihan, jadi bersyukur bahwa aku sudah dikarunia dua jagoan yang ganteng ganteng.
Paginya dinihari suamiku dipindah ke ruang rawat inap, yaitu Ruang Rajawali lantai dua. Tahun 2006 waktu itu belum ada lift, jadi naik turun tangga. Aku menunggui suamiku dengan hamil 3 bulan, dan naik turun tangga, karena admin perawat di lantai 1. Belum lagi bila keluar cari makan, mesti turun tangga dan naik lagi lantai 2. Sore itu aku ke kamar mandi nia mau mandi, tiba-tiba ketahuan di celana muncul bercak darah. Aku sangat ketakutan, aku takut ada apa-apa dengan calon baby. Aku pamit sama suamiku bilang mau periksa ke bidan.
“ Kamu jaga baik-baik ya. Saya ngga bias nunggui lagi, mau periksa hamil, takut kenapa-kenapa.”
Suamiku akhirnya membayar OB untuk menjaganya dan mendampingi di rumah sakit.
Aku pulang dengan was-was, mampir periksa ke Bidan. Waktu di periksa aku lega, karena katanya masih ada denyut jantung baby. Aku pulang sendiri di rumah, sebab dua putraku biasa aku titipkan ke rumah sodara bila suami ke rumah sakit, nunggu sampai pulang.
Paginya temen-temen menyambangi aku, Bu Imut membawakan makanan yang siap dimakan. Namun selama tiga hari aku masih mengeluarkan darah/flek, aku semakin cemas. Aku minta diantar kakak ke dokter spesialis kandungan, Pak Moedrik di Ungaran. Di sana aku diperiksa dan diberi obat, dan katanya,” Buk tunggu satu hari ya. Bila satu hari masih keluar darah langsung ke rumah sakit Banyumanik.”
Selama satu hari itu aku di rumah kakakaku, dua putraku di sana, senang dikira aku baik-baik saja. Malam ini adalah malam penentuan, aku sangat cemas sekali, bolak balik aku ke kamar mandi memeriksa, apakah masih ada bercak darah/ flek.
Aku cemas antara mempertahankan atau menggugurkan. Aku berharap ada keajaiaban.
“Mbiyen yo ono koncoku, bayike dipertahanke, tapi bayike lahir cacat.” Kata Mbak iparku.
Pagi subuh ternyata masih ada flek darah, jadi aku diantar ke rumah sakit Banyumanik. Diperiksa sama Dokter Moedrik ternyata kandunganku tidak bias dipertahankan, harus dikuret. Sementara kakakku bantu mengurus administrasi, harus ijin suamiku yang notabene masih di rawat di Rumah Sakit Kariadi.
Kakakku menjelaskan via telpon,” Dek saran dokter Anik harus dikuret, diijinkan ya.”
Kata suamiku di sana,” Yo wes Mas rak popo yang terbaik buat Dek Anik.”
#####
Di kamar operasi aku takut sekali dan cemas. Sebelumnya aku tidak pernah dirawat di Rumah Sakit, kalua sakit paling Flu biasa atau Diare. Agaknya dokter tahu aku sangat cemas, diajaknya aku ngobrol, ditanya: kerja di aman, anaknya berapa, sekolah dimana. Terus aku tidak sadar dibius, dikuret.
Begitu dipindah ke kamar, tahu aku sudah tidak mengandung lagi, ketemu Mbakku aku jadi menangis seru. Disabarkannya, katanya ini yang terbaik. Ya Tuhan sekarang posisiku di Rumah Sakit Banyumanik menunggu baik, dan di sana suamiku di Rumah Sakit Kariadi sendirian.
Pelajaran hidup yang sangat penting dan tak terlupakan.
###
Kami mengubur Dek Oka dalam kuali dan di kasih bunga bunga. Suamiku sudah pulang, memimpin doa diamini kami bertiga.
“Dek Oka baik-baik di surga ya,” Kata putra keduaku Osa yang sebenanya sangat menantikan adeknya lahir selamat.

