Parenting Anak Cowok Remaja  

Pengasuhan

By Nikmah Yuana

Parenting anak PAUD atau anak SD sudah banyak. Namun parenting bagi anak usia remaja, terutama anak cowok berbeda.  Parenting tidak melulu bagi anak usia emas, balita, atau anak-anak. Namun parenting bagi anak remaja, khususnya cowok jarang. Kebetulan saya ibu dua anak cowok, yang keduanya sudah melewati masa remaja. Meski pendidikan anak banyak di pondok pesantren, tetaplah kita sebagai orang tua untuk mengasuhnya. Mengasuhnya dalam arti mengajak bicara, bertanya tentang masalah, atau minta bercerita.

Anak cowok berbeda dengan anak cewek yang pada dasarnya lebih kelihatan verbal ekspresinya, banyak bercerita. Anak cowok lebih banyak diam dan tidak banyak drama. Namun bila ada masalah kelihatan kalau suntuk, lebih banyak diam, muka ditekuk, dan mengurung di kamar. Bila menghadapi anak cowok yang seperti ini, biasanya punya masalah dan dia tidak akan cerita. Biasanya saya selaku ibu membiarkan dia mengurung di kamar, atau tidur. Saya mendekatinya dengan mengajak jalan, makan bareng di luar. Momen yang paling tepat pada saat nyetir (sulung yang sudah bisa nyetir) dengan bercakap-cakap. Dengan bercakap-cakap dikendaraan sambil berjalan, lebih dekat dan mengena.  Ibu hanya mendengar cerita meski pendek, atau jawaban pertanyaan yang pendek-pendek pula hehe. Namun dengan bercakap-cakap dia menjadi lebih tenang, dan biasanya besoknya masalahnya selesai.

Berikutnya makan bersama di luar, memilih makanan yang dituju, dan restoran yang rekomended. Resto yang tidak terlalu ramai, layak untuk keluarga kecil. Sembari menunggu makanan disajikan kita bisa bonding. Atau mempererat bonding dengan menonton bersama. Biasanya kita menunggu film yang bagus, terus kita rencanakan nonton bareng. Nah, di momen inilah ayah ibu bisa bonding ketika beli tiket, beli camilan, foto-foto selfie di depan poster.

Bagaimana menghadapi anak merokok? Awalnya saya sebagai ibu sangat protek dan idealis untuk menjauhkan anak dari rokok. Dengan cara memasukkan anak keduanya di pondok pesantren yang ada larangan merokok. Putra saya masuk pondok pesantren dari lulus SD, tentu masih murni dan polos. Tapi apa pasal ketika perpulangan di tengah semester (SMA) saya mendapati dia ( anak sulung) merokok. Sebenarnya saya menjauhkan anak dari rokok karena pengalaman suami yang sakit diabetes dan gagal ginjal. Suami di masa mudanya perokok berat dan hobi Es Teh manis. Sepanjang tahun suami jatuh sakit, sering anfal dan masuk rumah sakit, otomatis tulang punggung ada di saya , ibunya. Saya tidak mau anak saya menjadi serupa dengan ayahnya yang muda ditimpa sakit, dan meninggal di usia relatif muda (48).

Ketika saya mengantar putra sulung ke pondok dengan menyetir sendiri, saya menegurnya dan meminta untuk menjauh dari rokok. Namun yang saya tahu setelah lulus dia tetap merokok, dan sembunyi-sembunyi, di luar rumah. Ngga bagus juga kalau sembunyi-sembunyi, akhirnya saya lebih toleran, dan buat peraturan untuk tidak di dalam rumah, melainkan di teras atau belakang rumah. Kemudia adeknya yang kukira selamat, aku berharap adeknya selamat. Namun, kenyataannya adeknya juga ikut merokok. Hukum merokok haram bagi Muhammadiyah, kami keluarga NU. Memang faktanya dibolehkan di lingkungan NU, karena merokok adalah hiburan satu-satunya, bukan dugem atau miras.

Bagaimana menjauhkan anak dari pornografi? Ketika masih SD saya menjauhkan anak dari HP, selama saya di luar atau pas menjaga suami di RS, HP saya simpan di lemari. Karena saya pernah ngonangi riwayat porn yang dilihat. Ortu mesti memantau riwayat google , dan membatasi dengan program Kid.

Anak cowok yang coli adalah wajar. Saya tidak terlalu mengetes apakah anak cowok coli atau tidak. Sebagai ibu saya juga tidak pernah bertanya, atau kepo, karena itu adalah privasi dan anak-anak sudah dewasa. Saya hanya mendapat ajaran, atau tepatnya mendengar cerita dari suami saya. Dari ceritanya, saya berkesimpulan memang wajar sebagai lelaki. Suami pernah bercerita jika mau pergi ke rumah saya (pacaran/ taaruf) , suami muda coli terlebih dahulu malamya. Ini dilakukan untuk menahan hasrat dan menjaga wanitanya sebelum menikah. Untuk ini sebagai ibu, tugasnya adalah mengamati dan mendoakan. Menagamati tidak terlalu sering/ menjadi candu, dan tetap terarah orientasi seknya sebagai lelaki.

oplus_1059
oplus_1027

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *