By Nikmah Yuana , dimuat dalam Antologi ” Perempuan Hebat” Penerbit Antologi
Emak Adalah Perempuan hebat. Perempuan setengah baya, cantik diumurnya dengan tujuh anak. Emak membesarkan ke tujuh anaknya dengan damai. Emak nggak pernah marah atau teriak-teriak. Bila menyuruh anaknya pelan tidak pake bentak-bentak. Bila anaknya bilang “ngosek” (entar), Emak sabar menunggu. Bila anaknya lupa he he, akhirnya pekerjaan itu dilakukan Emak sendiri dengan sabar.
Emak juga paling sabar dengan suami. Emak tidak pernah terdengar rebut dengan bapak. Ketika Bapak marah, Emak membawa anak-anaknya nonton ketoprak Tengah malam, Emak diam saja. Pulangnya Emak didamprat Bapak, dan semua lampu dimatikan Bapak. Kami berlima tidur dalam kegelapan. Bapak sangat galak, dan Emak amat penyabar. Suatu penyatuan seperti kutub utara dan kutub Selatan, api dengan ES.
Ketika Bapak pulang kerja capek, makan di meja hanya ada sambal, Bapak marah-marah dan cobek itu dilempar pecah jadi dua. Emak hanya diam dan tenang. Ketika Emak buat kue lebaran sendiri, yaitu kue semprit dan mawaran. Biasanya Emak membuatnya sampai sore menjelang Maghrib. Mungkin Bapak ada perlu, dan belum digubris (diiyakan) sama Emak, Bapak marah-marah. Tepung yang masih di tampah dibuang sama Bapak sambil . Emak hanya diam dan besoknya sudah baikan sama Bapak.
Emak juga pejuang rupiah. Macam-macam usaha dilakukan, jualan warung, Jastip belanjaan pasar, Kreditan, Jualan kopi dan jajanan. Pertama jualan warung. Emak buka warung di Teras rumah. Jualan macam-macam: sembako, beras, minyak goreng, gula, jajanan dll. Warung ini tak lama kemudian tutup, karena Emak kehabisan modal dihutangi pelanggan-pelanggan yang tidak mau bayar. Emak itu orangnya ngga enakan, mesti kalah dalam penagihan. Masa kadang yang disuruh nagih Mbakku yang masih sekolah SD, yah kalahlah ngga kembali. Ini cerita kakakku yang sering disuruh minta bayaran tagihan. Termasuk usaha Kreditan juga, awalnya banyak yang hutang Emak senang sekali. Namun ketika jatuh tempo orang-orang susah ditagih.
Jasa Titip belanjaan Pasar juga gagal. Pedagang-pedagang warung itu titip belanjaan sayur mayur, daging, ayam, telur, tahu tempe, atau buah sama Emak. Makanya Emak kalo ke Pasar bawa Dunak (Tas belanja dari bambu) yang digendong di punggung. Emak berjalan ke Pasar dan pulang membawa sebagor belanjaan yang di gendong di punggung, belum lagi yang ditenteng tangan kanan kiri. Bisa bayangkan betapa berat, dan repotnya Emak. Namun Emak sangat tabah dan kuat. Usaha ini juga lama kelamaan mandek (berhenti) gara-gara Pedagang warung suka curang. Antara yang dibayar dan belanjaan yang diambil tidak balance. Emak kehabisan modal dan berhenti.
Emak jualan kopi yang dibuat sendiri di rumah. Emak membeli bahan baku biji kopi, kelapa, dan jagung. Biji kopi itu disangrai dengan pipilan kelapa, jagung, dan karak. Karak ini Adalah nasi sisa yang dikeringkan. Kopi ini disangrai diatas tungku pawon. Setelah masak gosong, Kopi ditumbuk di lesung. Aku suka disuruh membantu menumbuk kopi. Lalu Emak sendiri yang menyaring bubuk kopi hingga halus. Sorenya aku yang ditugaskan mengantar kopi ke warung-warung di jalan besar. Kadang ada orang yang membeli di rumah, atau aku sendiri yang mengantar ke rumah-rumah pelanggan. Rupanya kopi ini berjalan hingga terus sampai aku SMA.
Di pagi hari Emak jualan jajanan Gatot dan Tiwul. Gatot, Tiwul, dan uler-uler ini dibuat sore hari beramai-ramai Bersama masku. Ketika membuat uler-uler inilah kami berempat terasa gayeng beramai-ramai. Adik masih kecil belum dilibatkan. Sorenya Masku diminta jualan Telo ( Ketela rebus) di area Pondok Pesantren. Jika aku minta uang saku sekolah Madrasah (sekolah agama Islam ) siang hari, disuruh Emak minta Masku.
Jadi aku mesti mencari Mas Abu ke Pondok untuk minta uang saku. Kadang dijawab “belum laku” atau kepalaku dijitak karena ngeyel. Kadang disuruh ambil Telo yang masih sisa di baskom.
Emak tidak pernah marah. Emak tidak pernah ngomel-ngomel atau mencubit, yang biasanya dilakukan ibu-ibu tetangga. Emak sangat sabaar. Pernah aku sangat bandel, disuruh tidak segera mengerjakan, Emak hanya menahan tangis mbrebes mili. Sejak itu aku kapok ngga bandel lagi sama Emak.
Emakku berpendidikan Sekolah Agama, Emak bis abaca dan nulis. Emak juga pintar mengaji. Tiap pagi subuh Emak mesti baca zhikir hingga matahari terbit.
Emak selalu berkebaya, ya pakaian sehari-harinya kebaya dan jarit. Bila ke luar rumah memakai kerudung seperti Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien. Emak selalu berkerudung, cantik, kulit kuning, dan kulitnya bersih tidak ada flek atau jerawat.
Ketika bayiku pertama lahir di Tahun 2000, Emak datang dan siap mengurus bayiku. Pagi sekali jam 05.00 sudah siap dengan ember air hangat. Bayiku dimandikan, dibedong,dibedaki sampai mblero mblero. Kemudian Emak menyiapkan air panas buat diriku untuk mandi. Emak juga mengurusku, dan menyisiri rambutku.
“Ben ketok ayu mengko bojone seneng” Katanya. (Biar kelihatan cantik, suami jadi suka)
Bayi keduaku yang lahir tahun 2003 juga diurus Emak. Emak mengurus bayiku dimanikan, dibedaki, lalu digendong. Sebelahnya putra pertamaku yang sudah dimandikan pengasuh (Bibi) juga dibedaki.
Ketika suamiku sakit dan dirawat di Rumah Sakit , Emak ikut menjaga putraku . Bersama pengasuh Emak merawat putraku hingga berangkat sekolah TK. Bayiku dibawa bibinya.
Pulangnya Emak masih menunggui aku dan suami di rumah. Emak selalu mendoakan kami di pagi subuh. Jika suamiku berteriak-teriak kesakitan di malam hari, kadang aku ketakutan. Emak hanya menasehatiku,” Ora popo kowe fokus wae ning pekerjaanmu lan anak-anakmu. Bojomu rak sah mbok piker, kuwi urusane Gusti Allah”.
Inilah nasehat yang kupegang hingga kini. Emak meninggal dengan tenang. Sakit di Rumah sakit masuk ICU sebentar. Emakgerak-gerak minta pulang. Dengan ambulance kami anak lima membawa ke Lasem rumah beliau. Sampai rumah kami berlima gentian mengaji Al Quran tanpa berhenti sampai Emak menghembuskan nafas yang terakhir.
