BY Nikmah Yuana
Dimuat dalam Buku “Kenangan Bersama Kakekku dan Nenekku” Penerbit Antologi
Karena aku anak ke tujuh dari ibu anak ke empat, dan Bapak anak ketiga, aku belum pernah menangi kakek nenek baik dari pihak Bapak atau Emak. Aku sendiri anak ke tujuh, aku tidak mengenal kakek nenek, jadi tidak tahu rasanya memiliki kakek nenek. Namun aku merasakan memiliki kakek dari Pak Dheku, yaitu Kakak pertama dari ibuku. Dia sudah seperti kakekku sendiri karena, tua yah tua he he. Kakek kan harus tua yaa. Dialah kakekku, yaitu Pak Dhe Zuhdi yang mendiami rumah induk, yaitu rumah kakek nenekku.
Pak Dhe Zuhdi sudah berusia 60 Tahunan ketika aku usia SD, ya seingatku begitu. Dia Adalah kakek (Pak Dhe ) yang hebat, karena Beliau Adalah imam masjid Jami’ Lasem. Bagiku sangat keren!
Pak Dheku, yang kuanggap kakekku selanjutnya aku tak menyebut kakek lagi yaa.
Pak Dheku seorang ulama kampung di desa Soditan. Rumah induk kami berada di samping Pondok Pesantren Al Hidayah, Lasem. Pondok Pesantren tua yang dipimpin oleh KH Ma’sum, murid dari Kiai M Kholil Bangkalan Madura. Sedang rumahku sendiri berada di depan persis kediaman ndalem Mbah Ma’sum.
Pak Dheku seorang imam masjid besar, yaitu Masjid Jami’ Lasem Rembang. Masjid terbesar di kota Lasem, tempat bersemayam Wali Sayyid Abdurrahman, yang dikenal dengan nama Mbah Sambu. Setiap dini hari Pak Zuhdi sudah berjalan ke Masjid Jami’ yang lokasinya di Jalan Besar Lasem. Badannya yang sudah bungkuk, berjalan terbungkuk-bungkuk. Jalannya cepat dan semangat. Bila pergi ke Masjid mesti melewati depan rumahku. Pak Dhe mengimami sholat shubuh. Siangnya jan 11.00 Wib beliau sudah berjalan ke Masjid dengan terbungkuk-bungkuk, namun gesit. Berjalan dengan alas kaki Teklek (bakiak), suaranya terdengar tek tek tek.
Sorenya jam setengah tiga sudah berjalan ke Masjid lagi untuk mengimami sholat Ashar. Lanjut menjelang Maghrib dan Isya dihabiskan di Masjid Jami’.
Awalnya aku tidak tahu kalau Pak Dheku imam masjid, saya tahunya ketika Ramadhan tiba. Ramadhan tiba ada tugas sekolah yang harus minta tanda tangan Imam ketika sholat berjamaah atau sholat tharawaih. Aku ikut antri di belakang, ketika di depan baru tahu. Lho Beliau kan Pak Dheku, Pak Zuhdi. Namun aku diam saja, tidak bangga-banggain Pak Dhe dihadapan teman-teman. Yang pasti aku bangga di dalam hati. Wah, ternyata Pak Dheku orang besar.
Habis Maghrib aku ngaji Qur’an di Pondok Pesantren Al Hidayah putri. Yang mengajar kami adalah Ustadhah Hj Azizah Ma’sum, putri dari KH Ma’sum. Ngaji di sini termasuk susah dan gurunya galak he he. Bagi kami anak-anak pengajarannya sangat keras disiplin. Membaca Al Fatihah saja harus tartil sampai satu bulan lebih. Belum lagi membaca huruf Qof, A’in, harus betul. Qolqolah harus betul!
Isya lanjut ke rumah Pak Dheku. Sebenarnya aku mau minta tanda tangan sholat shubuh, karena tadi aku malas antri. Aku minta langsung dari beliau di rumah. Eh malah aku diceramahi. Aku diam saja tunduk. Pak Dheku memberi aku kitab Fikih dengan Bahasa Arab.
“Nik iki diwoco ya, diapalke. Mengko setor sama Pak Dhe.” (Nik ini dibaca, dihafalkan, nanti setor sama Pak Dhe).
“Nggih.” Aku menjawab takjim.
Wah aku malah dikasih tugas. Selanjutnya aku diminta hafalan surat-surat pendek. Dasar aku pemalas, mungkin karena sama Pak Dhe sendiri, hafalannya lelet. Yang kuingat lekat hanya satu hadis “Innamal a’malu bin niyat” (Sesungguhnya setiap pekerjaan harus diniati karena Allah).
Pak Dhe juga tidak galak atau streng, karena beliau sibuk. Dan aku keponakannya Perempuan yang pemalas tapi disayang ha ha.
Pak Dhe ini punya anak laki-laki (Mas sepupu) yang sangat pintar, sering juara kelas. Hanya sayangnya badannya ringkih sering sakit-sakitan. Aku mesti kerumahnya untuk menanyakan Pelajaran yang sulit padanya. Mas sepupuku, Namanya Mas Budi sangat pintar Kimia. Setiap ada PR Kimia atau Matematika, dialah yang kuandalkan untuk tempat bertanya. Ketika SMA aku jadi ikut juara kelas he he. Aku diberi kartu simbol Kimia, dan aku harus menghafalkan. Kakakku Mas Budhi ini sekarang jadi Dosen di ITB.
Kembali ke Pak Dhe, Beliau orangnya tenang tidak banyak cakap. Yang banyak cakap dan galak adalah istrinya. Aku lebih suka Pak Dhe orangnya kalem. Jika bertutur pelan soft spoken, tidak meledak-ledak.
Pak Dhe suka bertanam, kebunnya sangat luas. Dia menanam pohon pisang, jambu, Delima, Mangga, Sawo, Sirsat, dll. Jika ada kumpul keluarga besar kami keponakan-keponakan kumpul di kebun halaman belakang. Kami semua naik pohon jambu klutuk. Meski aku perempuan sendiri aku tak kalah dengan Mas Azis, atau Mas Tatang, keponakan sepantaranku. Mas Azis dan Mas Tatang orangnya cakep mirip orang Arab. Waktu itu aku sangat mengagumi dan ikut bangga miliki Mas sepupu yang ganteng-ganteng. Tapi mereka semua tidak menganggap aku, aku yang perempuan selalu dibully, dijahilin. Aku tidak pernah menangis malah dalam hati senang dijahili Mas sepupu yang ganteng-ganteng.
Berita kepulangan Pak Dheku yang kuanggap kakekku, karena Pak Dhe paling tua, aku tidak menangi. Waktu itu aku sudah kuliah SI Eknomi di UNDIP semarang. Namun ajarannya sangat berguna hingga sekarang. Hafalan surat-surat pendek yang disimak sangat membantuku untuk sholat lima waktu.
Ingatanku tentang kakekku yaitu Pak Dheku ketika beliau berjalan terbungkuk-bungkuk ke Masjid Besar Lasem. Beliau selalu istiqomah tidak pernah absen dari jamaah sholat lima waktu di Masjid Jami’ sepanjang hidup. Suatu amalan yang sangat konsisten dan luar biasa. Semangatnya ketika berjalan dengan bakiak, suaranya tek tek , mengingatkan aku pada istiqomah (konsisten). Aku mengaguminya!
