By Nikmah Yuana (dimuat dalam Antologi Cerpen Thriller ” Rekontruksi Terakhir” Penerbit Babad Bumi
“Mas aku pulang dulu ya.” Kata Arumi sambil mencium ganas. Setiap kali berjumpa dengan Mas Bagas, guru renang yang bodynya spek itu, Arumi mesti sangat bergairah. Gairahnya menyala, tidak seperti Mas Toni suaminya. Umur Bagas setengah dari Arumi yang 45 Tahun. Meski Arumi 45 tahun, berkat perawatan dirinya kelihatan seperti Perempuan berumur 30 Tahun. Bagas yang baru lulus SI Fisip, baru matang-matangnya 25 Tahun. Usia yang pas dan lagi kuat-kuatnya gairah. Bagas berkulit sawo matang, perawakan sedang, body spek dan cukup manis. Alisnya tebal dan rahang yang tegas. Kebiasaannya nge-gym di Metro seminggu tiga kali, tak mengingkari hasil. Bagas pria yang bagus, kuat, mempesona.
Sedang Arumi sendiri Perempuan karier 45 tahun. Sudah menikah dengan Toni Subagyo 20 tahun belum dikaruniai anak. Arumi sendiri tidak bermasalah, Toni juga sehat, hanya sperma dinyatakan sedikit lemah. Arumi sudah menjalankan terapi pijat, senam, dan makan makanan yang memicu kehamilan, taoge misal. Toni tipikal laki-laki yang kalem, perhatian sama istri, dan sayang banget sama Arumi. Arumi tidak kekurangan kasih sayang. Baru dua minggu dia mengikuti saran teman, untuk ikut club renang yang mempercepat kehamilan. Pertemuan ke dua waktu itu dia pulang terlambat, tinggal dia dan instruktur Mas Bagas. Mas Bagas ini instruktur paling favoorit , disukai emak-emak peserta club. Mas Bagas ini cowok keren dan care. Sof spoken, bicaranya lembut, instruksinya jelas. Karena Mobil jemputan belum datang, akhirnya diantar pulang Mas Bagas.
“Rumahnya mana Mbak?”
“Semarang atas Banyumanik, Perumahan Mega Residen”
“Kebetulan dong rumah aku Pudak Payung, Perumahan Pudak Payung.” Sepanjang perjalanan mereka bercengkrama, bicara remeh-remeh, soal hobi yang sama traveling dan kuliner.
“Aku tuh suka nyoba pergi ke tempat-tempat yang belom, seperti Lombok, Bunaken, atau Raja Ampat dan apa tuh danau yang luas.”
“Danau Toba.”
“Terus sungai yang panjang itu sungai apa di Kalimantan.”
“Sungai Musi.”
Ha ha wk wk keduanya tertawa bareng menertawakan. Singkat cerita keduanya jadi dekat, dan Arumi merasakan bunga bunga cinta yang bergairah. Dia jadi semangat untuk latihan dan berangkat sendiri.
“Kemana Mah?” Tanya Toni yang santai santai membaca koran.
“ Latihan Club, Dah Pah. Muah mua” Katanya sambil ngecup bibir ringan.
“Tumben bawa mobil sendiri.”
“Ya Pah biar aku mandiri nggak nyusain Papa jemput jemput.”
Waktu latihan Club jadi waktu yang sangat menyenangkan bagi Arumi. Tak sabar dia menunggu jadwal latihan, yang hanya seminggu dua kali, senin dan kamis. Apalagi pas latihan, Bagas tak sungkan untuk menyentuhnya, membetulkan letak kaki atau kayuhan tangan.
“Jangan begitu Mbak, jari tangan jangan membuka, tapi seperti mengayuh.” Kata Bagas sambil membetulkan jari jari tangan. Kali ini waktu belajar berjalan di air. Kaki dikepak-kepak di bawah, kepala turun ke bawah. Tanpa sadar Arumi kejedod patung Singa Air Mancur. Reflek Bagas menahannya sehingga kepala Arumi jadi sangat dekat, hanya 1 inci. Desahan nafas Bagas sangat terasa, seperti bau pohon karet . Arumi jadi deg degan menahan nafas.
Sejenak Arumi bersitatap di bawah tatapan Bagas. Bau Arumi seperti bau cemara di pagi hari.
“Cie cie cie.” Kata ibu ibu peserta lain. “ Kita juga mau dong.”
###
Pulang latihan Arumi menghempaskan tubuh ke sofa. Dadanya masih berdegupan, senyumnya kembang kempis.
Di rumah kosong, belum ada Mas Toni, ia cek watshaap Mas Toni bilang pulang telat. Lembur kejar tayang mengejar omzet. Mmas Toni yang menjabat Kepala Produksi PT Kembang Arum terpaksa belum pulang.
Kebetulan belum pulang, gumamnya. Dia masih ingin menikmati rasa berbunga-bunga seperti masih gadis. Bedanya rasa ini lebih hebat, karena dengan Mas Toni dia dijodohkan. Mas Toni baik, perhatian. Namun gairah sama bagas lebih kuat dan luar biasa. Waktu itu untuk kedua kalinya dia telat dijemput, dan hari itu hujan lebat. Dia dibonceng Bagas pulang menantang hujan badai. Sekali-kali petir menyambar, membuat Arumi ketakutan. Apalagi pas lewat tanjakan Gombel, hari gelap, petir menyambar.
Deerrrr !!! Rasanya seperti dipukul genderang , kaget amat!
Arumi membisikkan sesuatu sama Bagas,” Mas Bagas aku takut…”
“Tenang ada aku Bagas Pradipta”.
Deerrrr!!! Petir menyambar lagi.
“Mas aku takuut.” Arumi memeluk Bagas dengan erat. Kepalanya yang basah menyentuh lengan kekar Bagas. Pelukan itu menyebabkan pikiran Bagas kemana, imajinasinya jadi liar.
Tanpa diperintah setang Motor berbelok ke Penginapan Bukit Undah, tepat di atas Gombel.
“Kemana nih Mas.” Tanya Arumi.
“Katanya takuut. Kita ngaso dulu sebentar, nanti hujan reda aku antar sampai rumah.”
Cepat-cepat mereka memilih kamar dan minta kopi panas diantar segera ke kamar. Sambil minum kopi keduanya bercengkrama. Entah setan apa yang berbisik, kedua tangan bersedekap, aroma tubuh yang menguar bau hujan, menambah gairah. Waktu itu Arumi sampai lepas dua kali. Bagas cowok yang tangguh, kuat, tidak mau menang sendiri, melainkan tahu menyenangkan perempuan. Pantas Arumi betah diajak, tidak hanya sekali, dua kali di hotel yang sama. Alasan begitu sampai rumah gampang, ini akhir tahun Toni sangat sibuk. Toni sering pulang larut, dan kecapean sampai di rumah, tanpa sempat bertanya dari mana atau kemana.
“Kamu pintar sekali Mas Bag.” suara Arumi parau, ditelan ciuman hangat.
Bagas tersenyum.
“Darimana kamu belajar, hayoo jangan-jangan kamu suka ja..”
“Huss ngawur, aku hanya sama kamu Arumi (kali tanpa Mbak). Aku kan banyak baca novel Romans British.”
“Haah kamu cowok suka baca novel?”
“Iyaaa ngga percaya. Tengok rumahku.”
“Percaya-percaya. Wanitamu pasti besok sangat bahagia Mas.” Kata Arumi parau lagi disambut dengan ciuman dibalik kuping.
###
Pagi ini Arumi perutnya mual. Dia sangat lelah, rasanya ingin muntah.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Toni.
“Ngga papa Mas. Barangkali cuma capek”.
Sudah dua Minggu ini Arumi merasa mual morning sickness.
“Yang aku kangen.” Rayu Bagas. Bisiknya tepat di sisi kuping kanan.
Arumi hanya senyum bahagia. Begitu sampai di Hotel yang sama, Hotel “Mega Langit” tempat biasa. Hotel dengan kolam renang dan rooftop bar terbaik di Semarang.
Arumi selesai mandi keramas rambut dikeringkan. Bagas baru saja selesai menaruh handuk di tempat. Bagas cowok tertib, tak pernah menaruh handuk , baju lepas sembarangan.
“ Mas …”
“Hmm .” Bagas meraup muka dengan tangan. Segarnyaa…
“Terimakasih ya sayang, kamu luar biasa.”
“Aku sudah dua bulan belum datang bulan.”
“Haa haa bukannya aku selalu pakai pengaman.”
“Itu yang ultah kemarin lupa bawa… terus telat .. masa lupa.”
“Tenang sayang aku pasti tanggung jawab. Tapi aku mau satu-satunya Tanpa Toni.”
###
Malam ini Arumi gelisah. Perkataan Bagas yang mau satu-satunya terngiang-ngiang. Tadi pagi dia sudah test pack positif, yah dia hamil. Ini membahagiakan sekali, yang sudah lama ditunggu-tunggu. Cintanya sama Bagas makin bergelora. Sementara hubungannya dengan Toni semakin garing. Toni baik tapi membosankan, gayanya itu -itu melulu. Toni tarlalu lugu tidak tahu gaya-gaya revolusioner. Sementara dengan Bagas dia bisa berekperimen dan mengekplorasi gaya 360 derajad.
Batinnya rasanya deg -degan, dia sudah menyiapkan racun Sianida 5 mg yang bisa dicampur di minuman kopi. Baunya tak begitu menyengat bagi orang tertentu hanya bau seperti almond pahit.
Toni penyuka kopi, jika duduk santai di Teras dia biasa ditemani secangkir kopi dan biskuit Roma. Biskuit yang enak murah meriah. Rencananya dia akan menyiapkan Kopi spesial sore ini, dia juga sudah menyiapkan sarung tangan putih, untuk menghilangakan sidik jari. Jantungnya berdebar-debar. Dicucinya cangkir warna coklat susu yang akan disiapkan nanti,
“Pah nanti sore tak bikinin kopi spesial ya. Kebetulan mama dapat oleh-oleh Kopi Sulawesi dari Rani, sobat gue. “
“Oh Rani temen SMA kamu. Ngapain di Sulawesi?”
“Liputan , nanti cobain ya Pah.”
“Sama mama dong.” Toni tersenyum sambil membuka laci atas.
Klek suara laci dibuka.
“Ini sarung tangan baru ya.” Katanya sambil memegang sarung tangan putih.
“Eh “ kaget “Anu anu yah sarung tangan baru. “
“Ngga biasanya beli baru, biasanya sampai busuk.”
“ Iyaa lagi pingin yang baru (dalam hati suami baru)”, Arumi mengiris bawang pelan, takut keiris saking gemetarnya.
###
Bagas menunggu Arumi, sore ini tak keliatan batang hidungnya. Dia kangen sekali, sekali nggak ketemu Arumi, tak bisa tidur malam. Pikirannya tertuju Arumi, bayangannya balik ke Arumi. Dadanya yang kuning dan desahannya yang bikin mabok.
###
Arumi memasang sarung tangan putih, aslinya dia gemeteran. Sebagai amatir dia khawatir klihatan dia gelisah.
Tengg !!! suara panci jatuh.
Arumi kaget, dia jenggirat melompat. “ Duh kenapa Dapur juga ngga bersahabat.”
Kompraangg !! Dia menoleh si Abdul Kocheng tetangga ngapain juga masuk dapur.
Dengan menarik nafas panjang dia menyeduh kopi yang sudah disiapkan, campur sianida 5 mg. Diaduk pelan, sambil dicium baunya seperti almond pahit.
Nah sudah siap. Dibawanya secangkir kopi, selagi membawa nampan, karena grogi tiba-tiba saja kaki belibet, hampir saja oleng jatuh. Air di cangkir tumpah sedikit, jatuh membasahi tumit.
“Aduh.” jeritnya pelan. “Tenang-tenang ya, kamu tenang Arumi, sebentar lagi kamu akan hidup bersama Mas Bagas, cowok keren rahang kokoh, jago ciuman. Rahang yang kokok, bahu yang bidang, tenpat bersandar yang paling nyaman sedunia. Arumi mulai tersenyum senyum untuk mengurangi kegugpan.
“Mas ini kopinya, spesial lho Mas. Saya kasih gula aren biar nendang.”
“Taruh meja dulu Ma. Nanggung nih.” Katanya sambil bongkar Motor kesayangan.
“Aku ke belakang sebentar ya Mas.”
Sepuluh menit kemudian dia dengar suara dua orang bercakap-cakap.
Penasaran Arumi ke luar Teras, dan melihat Bagas sedang minum kopi itu.
Arumi melongo, mau berkata benar takut Toni tahu. Mulutnya hanya bisa melongo, dan tangannya berusaha meraih itu kopi.
“Kata Toni ini buatan kamu. Enak sekali Kopi robusta dicampur gula aren.” Kata Bagas, cowok yang kini sangat dicintainya menghabiskan, sambil lidahnya membersihkan sisi bibir.
“Iya enak.”
Dia melirik suaminya, kenapa kopi itu diminum dia? Tahu gitu aku buatin sendiri Mas untuk tamu.”
“Halah belum aku jamah kok. Lagi pula pekerjaanku masih nanggung.
###
Pulang dari rumah Arumi Bagas merasa pusing, mual. Perutnya mulas, paginya dia Diare hebat.
“Arumi hallo.”
Suara telpon Bagas, nggak biasanya Bagas nelpon.
Aduh gimana ini, dia lagi bercakap depan Toni. “Sebentar ada telpon penting dari Bos.”
“Arumiii halloo,” Suara Bagas lemah.
“Ya Mas Bagas..” Arumi deg degan panik. Dia berharap semoga racun itu kurang ampuh, alias hanya keracunan biasa, bukan racun mematikan.
“Aku aku sayaang kamu Arumi . Jaga anak kita baik baik ya.” Suara hilang.
###
Paginya terdengar kabar, Bagas mati keracunan.
Siang Polisi datang menangkap suaminya, Mas Toni. Diketahui barang bukti cangkir menunjukkan sidik jari Toni terakhir. Rupanya Toni mempersilahkan kopi dengan mengambilkan cangkir kopi dari meja. Toni ditangkap sebagai pembunuh dan dipenjara.
Esoknya headline berita Suara Kota menuliskan berita yang lagi viral:
“SEORANG PEMUDA MATI KERACUNAN DI BUNUH DENGAN RACUN SANG SUAMI KARENA CEMBURU”
Titimangsa: Semarang, 23 Juni 2025
Bionarasi :
Nikmah Yuana adalah nama pena Nikmatuniayah. Alumnus S1 FE Undip ini sejak SMA sudah bergerak di bidang jurnalis. Kali ini dia mendirikan Rumah Baca Sampun Maos pada tanggal 17 Agustus 2016. Nikmatuniayah juga menjuarai Best Paper di bidang akademik. Di bidang penulisan dia sudah menerbitkan tiga buku populer: Dosen Kentir Belajar Nyetir; Cinta Di Balik Kelambu Hemodialisis; Ayo Mondok. Dia juga ikut sebelas event menulis buku antalogi dengan media Aleniaku. Kali ini dia adalah Dosen di Politeknik Negeri Semarang, dan penggerak Read Aloud di Kota Semarang.
