KUPU-KUPU MALAM

Cerpen

Judul:   KUPU-KUPU MALAM

Nama Penulis :   Nikmah Yuana

Nama untuk sertifikat : Nikmatuniayah

Isi cerita SONGLIT: (Di muat dalam Cerpen Antologi Songlit Penerbit Babad Bumi)

Suasana Publishing Media Post di malam deadline! Semua super sibuk, bagian pengeditan mempercepat pekerjaan, Tim layout bersikeras menyelesaikan pekerjaan tepat pukul 21.00 wib. Besok pagi  pukul 05.00 wib,  Media Post harus upload website Koran pagi, sehingga tepat pukul 08.00 WIB pembaca setia sudah siap menikmati. Bahder ketua Tim Liputan utama mengejar deadline , pukul 20.00 wib harus masuk layout. Tiga kali ditolak sama Pimred, membuat Bahder gusar dan was-was. Tak biasanya dia ditolak berkali-kali. Kali ini Tim Liputan Utama mengangkat tema MBG, agak riskan sih. Tapi tema ini usulan dari netizen, apalagi situasi sekarang lagi genting. Banyak kasus keracunan akibat MBG Dimana-mana.

“Bay ayo cepat close ..” Ardi mengusik, matanya melotot menatap laptop. Disampingnya Bahder yang dipanggi Bay, tenang menggeser mouse ke kiri lalu ke kanan.

“Kok kamu bisa tenang sih Bay, aku aja keringet dingin.”

“Sebentar lagi .. dikit nih,” Bahder membaca ulang lalu klik, kirim. “Nah Done.

“Syukuur.” Ardi menghela nafas lega. “Healing Yuk.”

“Kemana?”

“Bagi kita kaum jomblo nih wajib cari hiburan, biar ngga stress . Ke Club yuk, Club Butterfly, ada primadona cantik. Kau pasti syuka, Anneke.”

“Aku ngga pernah gituan.”

“Sekali aja yuk, minum-minum aja.”

“Okay… hanya minum ya.”

Club Butterfly sangat ramai. Bartender siap melayani dengan minuman tersedia, tamu-tamu terutama laki-laki yang masih penat hendak cuci mata.

“Bang minum satu biasa ya.” Ardi memesan minuman , kepalanya goyang-goyang mengikuti irama beat music. “Kau minum apa Bay, gue yang bayar?”

“Cola dingin.”

“Hah yang bener ? ngga mau cobain wine baru nih keluaran terbaru dari Rusia”.

“Gue masih pening”.

“Ok , Bang Cola dingin satu ya,” Dia berbisik sama Bartender “orang baru he he.”

Muncul seorang perempuan berbalut gaun merah rose, mendatangi Ardi lalu ngobrol. Sejenak Ardi berbisik perempuan yang bernama Anneke itu,” Anne kau temani kawanku yang satu ini ya. Orang baru kau ajari dia ya wk wk.” Ardi menepuk bahu Bahder kuat-kuat.

“Hey kau kemana?”

“Bersenang-senang ha ha. Kau sama Anneke Kawan, dia cantik baik, ramah, Kau pasti nyaman sama Dia.”

“Ayo Mas kita ngobrol di kamar aja lebih privat,” Anne tersenyum sambil menggandeng tangan Bahder lembut.

Di kamar Anneke menuang minuman ke gelas kecil. Bahder hanya memandanginya . Ketika lengan itu terangkat , dia melihat ada tanda lahir di pergelangan tangan Anne , mirip kupu-kupu. Ingatan Bahder kembali ke masa lalu, baginya hanya ada satu perempuan yang memiliki tatto alami kupu-kupu, yaitu Langit Jingga. Langit teman masa kecilnya yang paling sering nangis. Main petak umpet kalah nangis, main kelereng kalah nangis, apalagi balapan layangan, nyangkut di pohon nangis. Kalau nangis ngga berhenti-henti, hanya Bahder yang bisa membujuknya  diam. Kadang bila papanya kewalahan, Bahder dipanggil untuk menenangkan Langit dari tangis.

Langit yang biasa dipanggil Lala ini  cantik dan manis. Ada pipit di ujung garis smile, kalau tertawa sangat memesona. Ibunya meninggal ketika melahirkan Langit, Preeklampsia, tidak tertolong. Beruntung bayi Langit bisa diselamatkan. Namun hal ini membuat ayah Langit frustasi, kadang bila stress muncul, ayah langit marah-marah, dan Langit dianggap anak sial.

Seperti sore ini angin tampak baik. Beberapa laying-layang meliuk-liuk diangkasa., Meski Perempuan, Langit suka  layang-layang, katanya dia suka langit biru.

Tangan kecil Lala mengayun menarik ulur benang , terlihat tanda lahir yang mirip kupu-kupu. Bahder selalu perhatikan itu, dia tak bakal lupa dengan tattoo kupu-kupu dipergelangan Langit.

“Yah nyangkut deh,” Lala mendesah. “Ambilin dong Kak.”

“Tinggi banget.”

“Ayoo tolongin Lala Kak Baba.” Lala menjuluki Bahder Baba, dia mulai nangis. Kalau sudah gini Bahder nggak sampai hati. Dia naik ke pohon Mangga yang tinggi itu,  meski tangan kakinya digigit semut Rang-rang.

Kembali ke kamar Anneke menyalakan saklar pengharum, wangi pohon Pinus. Mereka ngobrol-ngobrol asyik. Bahder jadi nyaman, tak terasa malam beranjak.

“Mau service lebih Mas?” Anneke beranjak naik ke ranjang siap membuka kancing atas.

“Jangan-jangan aku belum terbiasa. “ Bahder ketakutan.

“Okay…. Kita ngobrol dulu ya.”

Setelah itu mereka jadi akrab. Bahder sering ke Club Butterfly hanya untuk ngobrol-ngobrol dengan Anne. Namun setiap ditawari service lebih, Bahder bilang belum siap. Entah kenapa setiap kali dia memegang tangan Anne, dan melkihat tattoo kupu-kupu itu dia teringat seseorang gadis kecil di masa lalunya.

Waktu itu sore hari, Langit yang menginjak usia 10 tahun,  mendatangi rumahnya dengan menangis sesenggukan. Langit bercerita bahwa ayahnya hendak menikah lagi dengan Perempuan yang dikenalnya di kota. Besok mereka hendak pindah ke Jakarta, kota metropolitan. Lala menagis keras sambil memeluk Bahder erat.

“Kak Baba janji ya bakal nungguin Lala. Kalau dah gede Lala akan cariin abang ke sini. Sekarang Lala harus ikut ayah, pindah sekolah ke Jakarta.”

“Ya Lala manis, Abang janji bakal nungguin Lala. Abang akan sekolah tinggi, nanti Abang jemput Lala ke Jakarta.” Mereka saling menautkan jari kelingking tanda saling janji setia.

Kembali ke kamar Club Butterfly, Anneke menyalakan saklar pewangi Pohon Pinus.

“Seperti wangi yang disuka gadis kecilku di masa lalu,” Gumam Bahder sambil menghirup lekat. Ingatannya kembali ke Langit yang menurutnya wangi minyak telon yang dipakai, mirip wangi pohon pinus.

Tiba-tiba saja dompet Anne terjatuh. Bahder memungutnya, menyembul sebuah poto lama, poto anak perempuan dan anak laki. Bahder terjingkat, bukannya poto itu dia juga punya. Poto dia dan Langit ketika bermain bersama, ayah Bahder yang ambil. Ayah Bahder yang berprofesi wartawan tentu kemana menenteng kamera. Bila ada film lebih dia suka memotret anak-anaknya atau kawan main, termasuk Lala.

“Iniii poto siapa?”

“Poto akuu dan kakakku Baba.”

Bahder kaget , Lala tahunya nama dia  Baba.

Lalu Anneke mengaku nama dia yang asli adalah Langit Jingga, Anneke nama panggung. Semenjak ikut ayah ke kota, ibu tirinya tidak terlalu baik. Ayahnya sakit keras dan meninggal ketika Langit masih SMA kelas 2, tepat dia usia 17 th. Karena ibu tirinya tidak bekerja, Langit dijual sama Mami di Club. Sekarang di usia 23 Tahun dia masih menjadi kupu-kupu malam, lalu pindah ke Semarang. Dia hendak mencari kawan masa kecilnya , Baba yang sekarang entah di mana.

“Aku Baba,” aku Bahder pelan. “Cowok kecil itu aku ‘Bahder Prakoso’.”

Bahder bercerita ayahnya pindah ke Jakarta naik jabatan. Dia juga mencari-cari keberadaan Langit. Sekarang dia mengikuti jejak ayahnya dengan menjadi Redaktur di Media Pos Semarang.

Pulangnya Bahder banyak diam. Berkali-kali drivel Grab menanyakan ini itu tidak dijawab. Dia melamun … Di dasbord ada suara lagu kenangan “Mungkinkah” Broery Marantika dari Radio.

Di Lembah yang berlumpur

Dan bernoda

Disanalah kini engkau berada

Mengapa, oh mengapa?

Aku tak percaya

Dulu pernah aku mengagumimu

Sekarang pun tetap mengaharapkanmu

Mengapa? Oh mengapa

Tak perlu bertanya

Andaikan mungkin

Ingin daku mengajak kau kembali

Seperti waktu itu

Tingalkan saja

Dan lupakan

Semua yang terjadi

Anggaplah angin lalu

Bahder memegang ponselnya, ada nomor yang dia save “Langit”, nomor baru. Dia wattshap Langit (Anneke), minta share lock.

“Bang minta putar balik. Kita ke Jalan Gajah Mungkur ya Bang, belakang Hotel Grasia.”

“Siap Mas.”

Perjalan seperti lambat. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Sebentar Bang nanti mampir ke Jewelery ya.”

“Mau cari apa Mas?”

“Cincin.”

“Mas mau lamaran ya?”

“Insyaallah Bismillah minta doanya Bang.”

Bahder mampir ke Toko Mas asli Bagong di jalan Krobokan . Dia memilih satu cincin yang manis dan pas. Dia bayar pake ATM dari saldo hasil kerjanya unlimited, cukup untuk biaya engagement dan wedding nanti. Dia sudah menabung banyak, dia tak bisa jatuh cinta, Semua gadis cantik di kantor menurutnya B aja. Dia masih terngiang wajah gadis kecil langit yang memeluknya dan minta janji. Dia baru sadar dia hanya mencintai Langit. Tak ada Wanita lain selain Langit.

“Yang mana mas?” Tanya pramuniaga senyum-senyum.

“Yang ini Mbak ada guratan desain kupu-kupu. Minta tolong dicoba Mbak, sepertinya pas deh sama kayak jari punya Mbak.”

Mbak pramuniaga mencoba satu dan ternyata pas . Cincin ditaruh di kotak merah lalu dibungkus rapi.

Bergegas Bahder kembai ke mobil, driver masih setia menunggu.

“Ayo Pak gaas. Keburu larut malam.”

“Siap.” Driver bergegas menancap kopling dan gas. Mobil berjalan melewati lampu di pertigaan Tugu Muda. Mobil melaju dari Gereja Katedral, lalu melewati RS Kariadi, dan terus menuju jalan Gajah Mungkur. Tepat di Hotel Grasia  jantungnya berdetak kencang, sebentar lagi dia sampai di rumah kontrakan Langit.

Ting tong…. Bahder memencet Bel tak sabar.

Langit membuka pintu matanya masih mengantuk. Dia hanya mengenakan piyama tidur putih.

“Mas Baba.. nekat kamu Mas, ini malam sudah larut.” Langit menatap tanpa kedip.

Bahder menatap mata Langit lekat , malam ini terbalut piyama Langit nampak cantik sekali. Wajah asli sendu, bibir tipis, rambut tergerai.

“Aku aku .. mau melamar kamu Lala,” Buru -buru Bahder membuka kota perhisan dan mengulurkan cincin itu ke jari Langit.

“Mas yang benar? Aku aku… sudah…..”

“Aku tahuuu.” Bahder menutup bibir Langit dengan jari. “Aku mengagumimu… Langit. Sejak dulu… hanya kamu yang gue cintaa.”

“Ma makasyih Mas,” Langit menangis… seperti biasa dan ini mengingatkan Bahder dulu Langit hobi menangis.

Di rumah sebelum tidur dia menyetel video “Mungkinkah” Broery Marantika dari youtube .

Dulu pernah aku mengagumimu

Sekarang pun tetap mengharapkanmu

Mengapa? Oh mengapa

Tak perlu bertanya

Andaikan mungkin

Ingin daku mengajak kau kembali

Seperti waktu itu

Tingalkan saja

Dan lupakan

Semua yang terjadi

Anggaplah angin lalu

Dia mendengar lagu itu berulang kali sampai tertidur.

Titimangsa: Semarang, 20  September 2026

BIONARASI

Nikmatuniayah adalah Dosen negeri di Politeknik Negeri Semarang. Nama pena, Nikmah Yuana ini juga founder Rumah Baca Sampun Maos ( sejak 16 Agustus 2016), dan Lapak Baca Taman Tirto Agung (sejak Agustus 2024). Nikmah Yuana menulis Blog di sampunmaos.com, seorang Conten creator Youtube Sampun Maos, music dan film. Nikmah Yuana adalah penulis scenario Film, Puisi, Cerpen, dan Antologi. Nikmah Yuana membuka Class Room buat anak-anak belajar akting dan film. Nikmah Yuana bertekad memberdayakan budaya Nusantara Indonesia, dengan musik angklung .

Buku yang sudah terbit : Dosen Kentir Belajar Nyetir; Cinta dibalik Hemodialisis; Ayo Mondok. Nikmah Yuana sudah menulis 14 buku Antologi ber ISBN. Dua di antaranya Cernak “Pulang kampung” dan Cerpen Thriller “Rekontruksi Terakhir” dari Penerbit Babad Bumi. Cerita selanjutnya masih di Babad Bumi: Amnesia, Denting Nada Lala dll.  Ibu berputra dua ini memiliki motto: Hidup untuk berjuang, Berjuang untuk Hidup.

FOTO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *