Judul: BODYGUARD
Nama Penulis : Nikmah Yuana
Nama untuk sertifikat : Nikmatuniayah
Isi cerita ROMANCE: (Dimuat dalam antologi cerpen Romance Penerbit Babad Bumi – SEpt 2026)

Bunga Lestari cewek semester enam di kampus Merdeka, sebuah kampus swasta ternama di Kota Semarang. Kampus Merdeka berada di Semarang bawah, tepatnya jalan Pandanaran Simpang Lima. Kampus swasta bonafide di tengah kota, tepat di tengah Kota Semarang, searah dengan Simpang lima sayap kanan, Tugu Muda di sayap kiri. Bunga Lestari yang kerap dipanggil Lesty, ini selain mahasiswa berprestasi juga super model. Dia mengikuti agency ternama, Agency Happy Ladies yang melahirkan artis-artis berbakat. Sudah banyak iklan yang dibintangi Lesty, kosmetik, Tas, atau pun skincare. Jadwal manggung modeling juga padat, kemana-mana selalu didampingi Affin, penjaga sekaligus driver pribadi. Affin ini anak dari pembantunya, Bik Amah yang sudah mengikuti Lesty dari lahir. Bik Amah datang dari desa Mamanya, Surakarta. Semenjak ditinggal suaminya, Bik Amah mengabdi di rumah Lesty, bantu-bantu masak, bersih-bersih, dan Affin putra satu-satunya sudah diajak sejak umur 10 tahun. Affin ini sejak kecil bermain dengan Lesty, dan ikut menjaganya selagi ibunya sibuk masak di dapur atau pergi ke pasar.
Affin kenal betul tabiat Lesty yang manja dan ngambekan. Tapi dia tahu Lesty kecil ngga pernah benar-benar ngambek, hanya untuk mencari perhatian Bibiknya atau Affin. Mamanya sibuk mengurus bisnis Toko Kain, apalagi papanya yang kerja di luar kota, datang hanya satu bulan sepekan, atau bahkan dua tiga bulan. Affin selalu menjaga Lesty dengan penuh sayang, seperti adiknya sendiri. Sedang Lesty punya kakak, namun kakaknya yang jaraknya 10 tahun seusia Affin, sibuk sendiri. Sejak SD kakaknya ikut sekolah bola, dan sering ikut turnamen ke luar kota. Aldo kakaknya, menyerahkan penjagaan sepenuhnya kepada Affin, apalagi kini Aldo punya pacar, Kirana. Dia lebih banyak bersama Kirana dari pada Lesty atau di rumah.
“Setelah mampir ke Toko Kain kita kemana Nona?” Sejak kecil Affin memanggil Lesty nona.
“Kita ke Agency Happy Ladies, aku mau tanda tangan kontrak baru. Ada rumah produksi yang menawari aku main film pendek. Lumayan gajinya gede.”
“Siap Nona.” Affin memutar haluan ke kanan menuju arah Agency Happy Ladies. Begitu Affin mendapat SIM A, dia ditunjuk Papa Haris untuk mengantar Nona Lesty kemana saja ia mau, ke kampus, Mall, Café, Agency, atau sekedar nongki-nongki bersama circle. Affin siap mengantar kemana saja, dia menyetir dengan halus dan waspada. Lesty sering tertidur karena kelelahan seusai shooting.
Beberapa hari kemudian setelah Lesty membintangi film pendek dia tampak bersemangat, dan berseri-seri. Dia sering menyanyi kecil di bathup, atau di Teras. Affin sering mendapati Lesty senyum-senyum sendiri.
“Nona tampak bahagia sekali. Ada apa gerangan? Menang lotre kah?” Tanya Affin selidik.
“ Huss kamu Affin Sukanya bercandya. Aku lagi berbunga-bunga tahu?” Jawab Lesty ceria. Matanya berbinar-binar senyum-senyum kaya orang gila eh he.
“Why??”
“Kamu tahu talent yang jadi pasanganku? Kak Roy semalam menembakku video call. Duuh senengnya… mana orangnya super duper cakep.”
“Hah si Roy? Katanya kamu ngga suka sama dia. Kau bilang sombong, cuek…”
“Nggak nggak Affin , aku bohong. Sebenarnya aku jatuh cinta sama dia, dia baik, jagain aku.” Terang Lesty sambil memejamkan mata.
“Oooh…,” Affin hanya ber oh oh, tak sangka dalam hati dia cemburu juga. Tidak-tidak, ngga boleh. Bisa-bisa dimarahi ibuk.
Malamnya Affin mengerjakan tugas kuliah, selain jadi bodyguard Lesty, dia juga kuliah sore di Kampus swasta dekat rumah. Kampus swasta untuk karyawan di Jalan Sirojudin, Kampus Pandanaran. Kampus ini membuka kelas di sore hari, khusus untuk karyawan. Sejenak Affin melamun. Semenjak Lesty jadian sama Roy hatinya serasa hampa. Awalnya dia merasa biasa aja, bekerja sebagai penjaga sekaligus driver. Tak sangka dia menaruh hati sama Lesty, majikannya sendiri. Sejak kecil mereka main bersama, karena kakak Lesty Aldo sering turnamen ke luar kota.
Pulang kampus Affin menjemput Lesty tepat waktu.
Lesty masuk mobil dengan bergairah, “Affin habis ini ngga pulang dulu. Aku mau ketemuan sama Roy, hari ini shooting libur so kita mau dating. Aah sudah tak sabar gue.”
Dalam hati Affin merasa teriris melihat mata Lesty yang bercahaya. Lesty emang cantik alami, bahkan tanpa make up pun dia terlihat cantik. Hidungnya bangir, matanya mata kucing, dan bibirnya seksi. Affin sering membayangkan Lesty bila saja Lesty dapat diciumnya eh he.
“Nggak pulang dulu, mandi makan biar wangi gitu Nona.”
“Nggak gaas aja aku sudah tak sabar.”
Sementara menunggu Lesty selesai ngedate, Affin menunggu di parkiran. Bosan menunggu dia berjalan ke Lapak depan cari kopi. Dia menyeruput kopi tak sadar dia tertidur.
“Affiiin bangun!” bahunya dicolek Lesty. Kepala Lesty menunduk mendekati bahunya, sampai pada mata Lesty begitu dekat dengan matanya.”
Affin salah tingkah, tergeragap. Sejenak dia memandang mata coklat itu dengan sarat, kagum. “Eh ya ya Nona. Nona lama sih, ngapain aja sih.” Affin mengusap mata lalu bangun. Dia bergegas menuju mobil Brio merah, dengan Lesty yang mengekor dari belakang.
Setelah duduk dengan nyaman, Lesty bercerita datingnya dengan penuh bunga-bunga.
“Affin hatiku serasa terbang melayang…… hmm hmm.”
“Why …”
“Tadi Roy menciumku , ini ciuman pertamaku Affin. Tak kusangka rasanya senyaman ini, serasa terbang ke awan ah ah.” Lesty bercerita dengan gembira .
“Haaah! Tak boleh Nona Lesty. Nona masih kecil kuadukan Papa lho.”
“Jangan-jangan please. Aku ngga anak kecil lagi, sudah 18 tahun lebih.”
“Tapii bahaya Nona. Papa Haris berpesan supaya aku menjaga Nona termasuk pacaran.”
“Please-please .. Affin ini rahasia kita berdua ya. Aku mau temani kau kemana asal kau ngga ngadu Papa.”
“Beneran..?” Affin tersenyum nakal. “okay temani aku ke Pasar Malam weekend nanti.”
“Ya ya.. deal.”
Malam minggu ini Affin mengajak Lesty ke pasar malam, tepatnya di Aloon-Aloon Johar Semarang bawah. Sepekan ini ada pasar malam yang disponsori Bank Indonesia, di hari ulang tahun Kota Semarang.
Affin menggandeng Lesty masuk ke gapuro Masjid Kauman, lalu menuju lokasi aloon-aloon. Banyak wahana digelar, Dermolen, Kuda Poni, Bianglala, Tong setan, dan Histeria. Lesty yang semula takut naik Histeria, dibujuk jadi mau. Mereka berdua naik Histeria bersama pasangan lain. Sekilas mereka seperti pasangan, orang lain pasti mengira mereka pacaran. Lesty berteriak amat kencang.
Lalu mereka berdua naik Bianglala. Di atas Bianglala mereka bisa melihat lampu-lampu kota berpendar. Warna-warni seperti ditumpahkan tinta dari langit.
“Lihat Affin Bintang itu indah sekali.” Lesty menunjuk-nunjuk satu Bintang yang mirip biduk.”
“Oh itu Bintang biduk, bentuknya mirip biduk. Itu menunjukkan arah utara.”
“Yang bener?”
“Beneran , yang itu Bintang Kejora. Kau bisa lantunan permintaan kepada Tuhan.”
“Ya aku mauuu.” Lesty berteriak,” Tuhaan… tolong kirimkan aku kekasih yang baik hati.”
“Amiin!” Affin berteriak pula.
Sejenak Affin melihat sosok si Roy, tampaknya si Roy tidak sendirian. Tunggu -tunggu apa benar itu si Roy. Diam-diam Affin berjingkat mengikuti si Roy yang belok kanan. Lesty tidak melihat , dia asyik menjilati es cream hadiah berani naik Histeria.
“Tunggu di sini ya Nona, aku mau ke toilet sebentar. Janji ya jangan kemana-mana, tunggu aku datang.”
Affin bergegas mengikuti Roy yang lagi berduaan dari belakang, dengan menjaga jarak. Roy merangkul cewek dengan erat. Berjalan menepi ke pojok yang sepi, belakang toilet umum. Di sini sepi ngga ada orang yang lewat.
Dari tempat persembunyiannya Affin melihat Roy berciuman dengan ceweknya dengan liar. Mereka lagi indehoy, setengah birahi.
Tak sabar Affin mendekati Roy, dijambaknya kerah baju Roy,” Woy kamu bangsat. Jadi gini lakumu dibelakang Nona Lesty. Awas jauhi Lesty. Bajingan kau tak layak deketin dia!” Affin mengepal tangan.
“Hei ngapain ikut campur. Syuka-syuka gue dong. Dasar jongos!”
Plak…! Affin menampar dagu Roy dengan telak. Tanpa berucap apa-apa , dia bergegas balik . Tentunya Lesty sudah tak sabar menunggunya.
Weekend berikutnya…
Lesty sibuk berdandan menukar gaun yang cocok.. Dari tadi dia mengepas gaun ngga ada yang cocok.
“Affin bagus mana yang hitam apa biru?”
“Mau kemana Nona?”
“Dating sama Roy, jawab dulu dong?”
“Biru…” Jawab Affin malas.
Sempurna Lesty tampak cantik dengan gaun biru, mirip putri cinderela eh he.
Di perjalanan Affin menjelaskan siapa sebenarnya si Roy.
“Ah fitnah! Aku ngga percaya, Roy baik cakep lagi. Dia udah janji sama aku, mau ngenalin gue ke ortunya.”
Susah emang menjelaskan sama orang yang lagi kasmaran. Bukannya percaya malah dikira fitnah.
“Nona boleh ikut Roy, tapi ijinkan aku ikut dari belakang ya.”
“No no kayak anak kecil aja. Orang mau pacarana diikuti nggak jaman.” Tolak Lesy mentah-mentah.
“By the way Papa Haris minta janji sama Affin untuk menjaga Nona. Piis janji Affin ngga bakal ganggu acara Nona.”
“Hm hm.. baiklah… dari pada ngga boleh.” Gumam Lesty sambil bercermin. Dia memperbaiki make up , oles bibir biar ranum. Dia sudah membayangkan bakal dicium lagi sama Roy .
Di meja Roy sudah memesan dua cocktail . Dia menyambut Lesty dengan antusias. Roy sengaja berdandan celana krem, kaos putih, dan hoodie coklat. Keren maksimal, Lesty sampai terperdaya.
Roy minum cocktailnya, dia mempersilahkan Lesty minum juga. Tak berapa lama pandangan Lesty serasa berkunang, kabur. Sempurna seperti rencana Roy. Dia memapah Lesty yang pandangannya mulai kabur, dibawanya Lesty ke atas. Di koridor Lesty mulai lemas hampir pingsan, Roy membopong ke kamar atas. Room ini sudah dibooking semalam, dan dia sudah berpesan pada Room Boy, tidak boleh ada satu pun orang lewat. Ruang atas disterilisasi. Roy membopong Lesty yang sudah lemas ke ranjang. Dia menutup pintu, tak dikunci toh dia sudah pesan ini ruang steril.
Baru saja dia menepis tangan , menekuk pergelangan, sampai bunyi preketek. Dipandanginya Lesty yang manis di tengah ranjang. Dia sudah siap malam ini, Lesty akan menjadi miliknya seutuhnya. Bodyguardnya tidak akan mendapat apa-apa. Dia masih ingat malam itu, dagunya retak berdarah. Dia akan balas dendam, Roy tahu betapa Affin sangat mencintai Lesty. Affin akan menjaga Lesty mati-matian, kalau perlu taruhan nyawa.
Tiba-tiba saja Duk Dess Bak Buuk! Affin sudah berada dihadapannya, tangannya mengepal menjotos perut tepat ulu hati. Seketika dia limbung, Affin menghajar habis-habisan, kali ini dia tak bisa mengelak. Dagu, pelipis, kena! Darah berleleran.
Affin berdiri dihadapanya, dia tersungkur jatuh.
“Jangan coba-coba lagi dekati Lesty. Lesty milik Gue!” Teriak Affin kenceng.
Bergegas dia menggendong Lesty dan membawanya turun ke bawah. Tak peduli orang-orang melihat tanda tanya. Dibawanya Lesty ke mobil dan dibawa pulang.
Lesty sudah siuman,” Aaaku di mana?”
“Tenang Lesty kamu aman sekarang. Roy si Bedebah sudah mengganggumu. “
“Maafkan Lesty Kak Affin”, baru kali ini Lesty memanggil dia Kak. Hati Affin terasa sejuk. Di sebelahnya Bik Amah sudah siap dengan gelas air putih. Diminumkannya air segar itu ke Lesty pelan-pelan. Anak gadis kesayangannya yang sudah seperti putri sendiri.
“Lesty sekarang kamu aman. Gue siap menjagamu,” Affin tersenyum penuh cinta, memandang mata Lesty lekat-lekat tepat dimanik mata.
Titimangsa: Semarang, 19 September 2026
BIONARASI
Nikmatuniayah adalah Dosen negeri di Politeknik Negeri Semarang. Nama pena, Nikmah Yuana ini juga founder Rumah Baca Sampun Maos ( sejak 16 Agustus 2016), dan Lapak Baca Taman Tirto Agung (sejak Agustus 2024). Nikmah Yuana menulis Blog di sampunmaos.com, seorang Conten creator Youtube Sampun Maos, music dan film. Nikmah Yuana adalah penulis scenario Film, Puisi, Cerpen, dan Antologi. Nikmah Yuana membuka Class Room buat anak-anak belajar akting dan film. Nikmah Yuana bertekad memberdayakan budaya Nusantara Indonesia, dengan musik angklung .
Buku yang sudah terbit : Dosen Kentir Belajar Nyetir; Cinta dibalik Hemodialisis; Ayo Mondok. Nikmah Yuana sudah menulis 14 buku Antologi ber ISBN. Dua di antaranya Cernak “Pulang kampung” dan Cerpen Thriller “Rekontruksi Terakhir” dari Penerbit Babad Bumi. Ibu berputra dua ini memiliki motto: Hidup untuk berjuang, Berjuang untuk Hidup.
FOTO
