ISI KEPALAKU “LIBRARY AND COFFE, SUGAR DADDY”

SERPIHAN CORETAN

Sebagai founder Rumah Baca Sampun Maos aku memiliki banyak mimpi. Mimpi jangka pendek atau jangka panjang. Aku membesarkan Rumah Baca Sampun dengan penuh perjuangan dan lika-liku. Mulai dari berdiri pada tanggal 16 Agustus 2016,  bersamaan dengan Malam tirakatan Hari Kemerdekaan Indonesia, di Pulesari 1 No. 52 Jabungan Banyumanik Semarang.

Awalnya Rumah Baca Sampun Maos berdiri didatangi 20 murid taman bacaan, yang belajar setiap hari Rabu sore. Selanjutnya hari Jumat belajar BTAQ, dan hari Sabtu ada musik Angklung. Rumah Baca kemudian berkembang dengan adanya Band RBSM, yaitu Band Sholawat. Band ini didirikan dengan tujuan menyebar sholawat ke semesta raya. Lalu kami memiliki satu kamera, dan kami memproduksi film pendek. Film pendek  pertama adalah film yang dilombakan dalam Lomba Video Ragam Budaya Indonesia, Kementrian Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2019. Film yang berjudul “Warisan”, tentang “Lumpia”, “Tari Saman”, dan “Angklung”.

Mulai pandemi Tahun 2020 kegiatan temu kelas mulai berkurang. Pemerintah melarang pertemuan-pertemuan yang melibatkan banyak orang. Kegiatan aku kompres dari yang semula tiga kali pertemuan, jadi satu kali pertemuan.  Kelas berlangsung menggunakan masker, BTAQ belajar membaca Qur’an dan Wudhu menggunakan masker (tentunya ketika praktik wudhu, masker dibuka).

Setelah pandemi selesai, orientasi anak-anak didik mulai berubah. Peserta belajar mulai menyusut satu per satu. Mulai berkurang jadi lima anak, bahkan kadang dua, atau malah satu anak. Untuk ini saya pergi ke rumah penduduk, dari satu rumah ke rumah untuk menjemput anak-anak. Saya jemput anak-anak dan saya bonceng pake motor keliling.

Di tahun 2023 setelah pandemi, Rumah Baca benar-benar krisis, sudah tidak ada lagi murid yang hadir. Bisa jadi anak sebelumnya sudah pada gede-gede, SMP dan SMA. Generasi berikutnya tidak ada yang berminat yang datang. Ada satu anak tetangga yang saya bujuk untuk menjadi peserta Taman bacaan, agar Rumah Baca Sampun Maos tetap eksis. Saya ajak read aloud satu minggu sekali. Kegiatan read aloud yang satu minggu sekali dengan satu murid ini saya post ke media sosial. Saya promosikan ke Instagram Sampun Maos dan face book. Eh tiga bulan kemudian, muridku yang satu-satunya itu sekarang di rumah nenek.

Kemudian tepat di bulan Agustus 2024 saya bertemu dengan aktivis relawan Sampun Maos generasi pertama. Dia datang dan bercerita, hendak mendirikan taman bacaan juga. Kemudian kami berkolaborasi membentuk Lapak Baca Taman Tirto Agung, yang kegiatannya di Taman Tirto Agung Banyumanik Semarang. Kegiatan ini meliputi: Read aloud, bookish play, dan ice breaking. Dari kegiatan ini kita promosikan di media sosial, sekarang memiliki 15 murid tetap. Ada lima ibu-ibu yang aktif dan rutin mendukung kegiatan Lapak Baca ini. Pada tanggal 8 Agustus 2026, kami merayakan Hut Lapak Baca 2 TH, dan Rumah Baca Sampun Maos 10 TH. Setelah ini harapannya Lapak-Baca semakin maju dan berkembang.

Kegiatan Lapak Baca Taman Tirto Agung ini selain read aloud, juga recording sholawat , membuat video klip sholawat. Kita pun memproduksi film pendek anak, kerja sama dengan Rumah Produksi Sampun Maos. Ada dua film yang sudah kita produksi: Merangkai Kata, dan The Queen Jodha and The Kingdom. Film pendek ini diupload di Youtube Sampun Maos. Harapannya ditonton orang banyak, dilike dan bermanfaat. Film ini dapat menginspirasi Masyarakat tentang literasi terhadap anak.

Membangun taman bacaan adalah semangat saya. Jiwa saya! Mimpi saya ada di sini. Saya bermimpi Rumah Baca Sampu Maos tidak hanya menjadi taman bacaan biasa. Tapi berkembang menjadi Taman Bacaan yang memiliki rumah produksi (studio), Gedung perpustakaan sendiri, dan Café Coffe. Gedung lantai tiga yang berdiri megah di pinggir jalan.

Lantai satu adalah perpustakaan yang ramah anak, lengkap dengan buku-buku anak. Kotak buku soft cover, Kotak buku hard cover, buku dipilah-pilah ke lemari Fiksi dan non fiksi. Kemudian Kumpulan novel-novel best seller. Di depan pintu pengunjung disuguhkan novel-novel terbaru. Selanjutnya ada buku remaja dan umum. Buku Pengetahuan umum, sains, agama, dan referensi kuliah bagi mahasiswa. Karena sejak dulu Rumah Baca ini didukung oleh tiga PTN besar di Kota Semarang, Universitas Diponegoro, Politeknik Negeri Semarang, dan Universitas Negeri Semarang.

Lantai dua tersedia coffee shop, yang menyediakan kopi dari Nusantara dan camilan kekinian. Pengunjung bisa memesan minuman dan baca buku di sini. Lalu di atas lantai tiga terdapat Studio Produksi Sampun Maos. Studio rekaman super lengkap dengan alat musik. Studio Produksi Sampun Maos juga menyediakan alat shooting dan edit foto dan video. Kami dapat memproduksi video musik lagu dan film pendek yang dilombakan ke events nasional.

Sekarang ini saya menulis beberapa buku karya sendiri, dan antologi. Jika jalan-jalan ke Gramedia Jalma, kulihat terdepan adalah deretan buku-buku best seller: “Seorang Lelaki yang Mengobati Lukanya dengan Mencuci Piring”, “Seporsi Mie Ayam sebelum Mati”, atau “Rumah”, yang dicetak berulang-ulang. Daftar cetak itu tertulis berderet di cover dalam. Saya suka memandangi daftar best seller itu sambil tak elus-elus, berharap suatu hari nanti buku saya ada di Gramedia Jalma, dan Best Seller dicetak berulang-ulang.

Kemudian aku berkhayal, seandainya ada Sugar Daddy yang mencintaiku dan mengusahakanku. Syaratnya hanya dua:

  1. Menjalankan sholat lima waktu;
  2. Mencintai Sholawat Nabi Muhammad SAW.

Dia mampu mengusahakan membangun Gedung tiga lantai: Library and Coffee , dan Studio .

Aku bisa memiliki sekolah Elementary School “Sampun Maos Elementary School” , sekolah dasar yang berbasis literasi dan seni.

Ah, yang terakhir itu aku hanya Menghayal. He he…

oplus_1059

Cerita ini dimuat di Antologi Isi Pikiranku, Alineaku

Nikmah Yuana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *