YANG HILANG  DAN TIDAK DICARI

Cerpen

By Nikmah Yuana , dimuat dalam Antalogi “Separuh Jiwa yang Hilang” Penerbit Alineaku

Aku kehilangan seseorang yang kucintai. Bukan hilang tepatnya, dianya pergi dan menjauh. Dia pergi memilih yang lain dan sudah menikah dengan gadis pilihannya. Aku mencintainya sekaligus membencinya. Batas antara mencintai dan membenci tipis.

Aku mencintainya hingga habis perasaan ini, kosong. Karena dia sudah menghancurkan rasa ini pelan-pelan. Sehingga tidak ada yang kuceritakan lagi. Tidak ada yang dapat kuceritakan lagi.

Yang panjang adalah proses sembuhku, aku patah hati! Aku marah, jengkel, kalau tahu ditinggal, memilih yang lain, mengapa dia buat aku jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya. Aku mencintainya sangat dalam, hingga tak sadar siapa diriku. Dia membuat aku persepsi mencintainya begitu dalam, seolah-olah ini cinta romanze yang indah. Yang ada aku sebenarnya sudah diabaikan, dan ditinggal lama. Aku masih ngotot untuk menarik perhatiannya, yang nyatanya aku tersadar aku salah. Aku tidak pantas, aku dibuat merasa tidak pantas.

Sekarang perasaanku aku tak pantas, seorang Jendes dan sudah berumur. Masa gemilangku sudah habis. Perasaanku yang mencintainya dengan sesungguhnya, sudah dihancurkan dengan label,” Mencintai suami orang”.

Hingga aku membencinya, aku kadang begitu membencinya, dan muak. Rasa cinta yang murni ini dimentahkan dengan mencintai “Suami orang”, atau “Cinta seorang Jendes”.

Hingga aku tak mencintai siapa-siapa lagi.

Bangun pagi malasnya bukan main, apalagi hujan di bulan Oktober ini. Rasanya hampa, tidak ada gairah. Aku juga mulai malas pasang status di story WA atau IG. Tidak ada yang kupamerkan, tidak ada yang menarik perhatianku.

Kasus ini membuat aku berbeda. Aku jadi lebih pendiam. Tidak lagi seceria dulu waktu aku masih caper, atau menarik perhatiannya.

Apalagi yang bisa aku ceritakan? Tidak ada lagi yang dapat aku ceritakan.

Bila melihat story istrinya rasanya aku sedih sekali. Tiba-tiba saja air mata ini berlinang. Mereka bahagia sekali, biar aku tak melihat atau posting apa-apa. Aku tidak mau lagi bersaing, aku mundur, dan mengalah. Aku tahu diri, Diri ini sudah tidak pantas.

Aku hanya “marah” dengan mbrebes mili. Kalau dari dulu memang aku ditinggal, mengapa perasaanku dibangun dengan megah, lalu dihancurkan pelan-pelan. Aku malu, sangat malu!

Apa yang dapat aku ceritakan? Tidak ada lagi yang dapat aku ceritakan.

Dia masih  berkirim pesan lewat postingan di IG atau youtube. Dan ini jadi sangat menyebalkan, karena aku jadi teringat. Sebenarnya aku tidak akan mencintai dengan sangat, bila tidak dibangun perasaanku.

Aku jadi jarang buka story IG atau scroll IG. Aku sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Apalagi yang dapat aku ceritakan? Tidak ada lagi yang dapat aku ceritakan.

Namun kadang dilanda rasa rindu. Atau bila rebahan di kasur, tiba-tiba saja senyap dilanda rindu. Bila rindu aku coba scroll Tiktok atau IG, kadang ada pesan-pesan yang disampaikan dari dia. Walau sudah berpisah dan dia sudah miliki orang lain, kadang dia masih suka kirim pesan. Tujuannya baik sih, untuk mengembangkan diriku, dengan mengikuti kelas menulis, atau mengikuti webinar-webinar pengembangan Diri.

Mengenai webinar-webinar ini awalnya bayar murah sih, hanya 99 rupiah. Namun semua webinar itu semua tipenya sama, bisnis belaka. Selanjutnya anggotanya akan dibujuk untuk jadi member dengan membayar sekian, mengikuti pelatihan yang lebih intensif dengan membayar 4 juta. Aku tidak melanjutkan, karena 4 juta itu satu kali gajiku. Masa hanya untuk menambah value aja, mengikuti kelas Pelatihan dengan 4 juta. Atau dengan membeli file-file pengembangan diri atau Motivasi, Law Attraction dengan membayar 300 K.

Apalagi yang dapat aku ceritakan tentang kehilangan ini? Tidak ada lagi yang aku ceritakan tentang dia.

Yang tidak habis aku pikir. Kalau memang dia sudah bersama yang lain, mengapa juga masih kirim-kirim pesan. Atau akun saya tidak diblokir saja!

Karena aku jadi mengingat dia. Aku masih sayang sama dia. Sementara aku tidak bisa menghubunginya.

Apa yang dapat aku ceritakan tentang dia? Tidak ada lagi yang dapat aku ceritakan tentang dia.

Dia sudah mengikis habis rasa cintaku. Dia sudah menghancurkan aku dengan cerita tentang film “Norma”. Aku merasa tidak ada harganya!

Aku menangis sampai keluar air mata. Padahal waktu itu posisi aku belanja di Superindo. Selanjutnya aku menyepi di pojokan mencari yang sepi. Aku menangis sejadi-jadinya! Aku berjanji, kali ini adalah tangisku yang terakhir. Aku berjanji pada diriku untuk tidak menangis lagi!

Sekarang aku tidak lagi seexcited dulu, biasa saja, ndandan natural. Aku malu bila ingat aku selfie untuk menarik perhatiannya dengan ndandan maksimal. Tidak ada guna!

Sekarang aku coba dengan menyenangkan diri sendiri, memasak dan menyanyi. Memasak untuk anak-anakku bila sore hari. Rasanya Bahagia melihat anak-anakku makan masakannku dengan lahap. Kadang aku juga post masakanku di story WA maupun IG.

Aku menyanyi dengan mengikuti lomba-lomba karaoke. Senangnya ketika berproses Latihan, menghafal lirik, atau mengepaskan nada.

Apalagi yang dapat aku ceritakan? Tidak ada lagi yang dapat aku ceritakan tentang dia.  

Kehilangan ini membuat aku rugi. Aku salah! Kadang aku malas sholat atau sholat kuundur-undur, karena aku hendak protes pada Tuhan.

Bila hendak mau wudhu, aku duduk-duduk dulu makan camilan atau minum kopi, yang akhirya sholat di detik tarakhir. Atau bacaanku jadi kacau, mbelibet karena kurang konsentrasi.

Aku berdoa pada Tuhan untuk tidak malas sholat atau lupa waktu. Aku minta sama Tuhan untuk membangunkan aku sholat malam. Kadang badan ini dibangunkan berat sekali. Apa aku diikuti jin, he he. Kubayangkan ada jin yang menduduki pundakku, hingga aku malas sholat, malas ambil wudhu.

Akhirnya kukuatkan untuk bangun, dan melepas jin itu dari pundakku. Ambil wudhu lalu sholat malam. Sekali lagi, mengapa ketika berdoa atau zikir, rasanya ngantuk sekali. Aku sampai ketiduran sambil duduk setelah sujud. Kepalaku terantuk-antuk karena ngantuk!

Kadang aku lupa, sudah sholat Isya belum ya? Bangun tengah malam, sambil ingat-ingat. Akhirnya sekarang kutandai, bila aku belum sholat isya, sajadah masih digelar selepas sholat Maghrib. Dan jika sudah sholat Isya, mukena aku lipat dan ditutup sajadah.

Sekarang kukuatkan harus sholat isya sebelum tidur. Yang masalah jika aku ketiduran, selepas sholat Maghrib karena kecapekan. Aku bisa tidur bablas tanpa sholat Isya, dan bangun tengah malam, atau bangun pas subuh. Yang menyesal jika bangun subuh dan perasaan aku belum sholat Isya. Rasanya hidupku kacau!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *