Lasem berada di pesisir pantai utara pulau Jawa dengan suasana tropis, tanah yang subur, hutan, pegunungan serta bentang pantai yang memanjang. Di Lasem terdapat banyak teluk – teluk yang melatarbelakangi daerah Lasem berkembang menjadi daerah pelabuhan yang besar pada masanya. Hal inilah yang kemudian menjadikan kawasan laut Lasem berkembang menjadi lalu lintas perdagangan antar kerajaan pada masa lampau. Selain garis pantai yang membentang, di Lasem juga terdapat daerah dataran serta lembah yang terletak di selatan garis pantai. Sedangkan di sisi timur Lasem terdapat sebuah gunung bernama Gunung Argopuro.( https://idsejarah.net/2016/10/kerajaan-lasem-1351-1479.html#google_vignette ).
Lasem adalah kota kelahiranku. Kota tua yang dikenal dengan sebutan Kota Batik. Batik yang terkenal dengan sebutan Tiga Negeri, bermotif cina dengan warna dominan merah mahagony. Banyak home industri Batik di kota ini, baik yang diproduksi Cina atau pribumi. Kota ini termasuk kota tua, alun-alun yang dibangun seperti kota Yogya Malioboro, dan Pecinan yang patut disinggahi, Rumah Merah atau Omah Oei.
Batik Lasem memiliki ciri khas yang unik dan kental dengan nuansa budaya Tionghoa dan Jawa. Tema Tionghoa sama dengan Burung Hong (Lok Can), Naga, Kilin, Ayam Hutan dan sebagainya. Sedangkan motif non Tionghoa identik dengan Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, Grinsing, Kricak/Watu Pecah, Pasiran dan lain-lain. Menariknya lagi, batik Lasem dibuat dengan cara tradisional. Hal ini, karena dulunya para pengusaha batik Lasem adalah keturunan Tiongkok, dan dikonsumsi pula oleh kalangan Tiongkok itu sendiri. Motif dari batik jenis Lasem ini masih terus berkembang. Belakangan ini muncul motif beragam seperti motif latohan, Sekar Jagad Tiga Negeri, dan Gunung Ringgit.(https://www.womanindonesia.co.id/mengenal-30-motif-batik-lasem)
Salah satu ciri khas dari batik ini adalah didominasi dengan warna merah. Warna merah tersebut dikenal dengan warna Pithik atau Abang Getih Tingtur Darah Ayam Pewarna ini terbuat dari akar Mengkudu dan akar Jiruk ditambah air Lasem dengan kandungan mineral yang sangat terasa. Warna ini bahkan tidak bisa dilakukan di laboratorium. Batik Lasem tidak hanya cantik, tapi juga kuat. Semakin sering dicuci, semakin banyak warna yang muncul. Teridentifikasi warna merah sebagai warna merah terbaik, yang tidak bisa ditiru di daerah sentra batik lainnya.
**Cerita ini dimuat dalam Antologi Babad Bumi, “Jelajah Nusantara)

BATIK LASEM CAP MAWAR
Di Desa Dorokandang ada rumah produksi Batik Tulis Mawar. Sekarang nama diganti dengan Real Asto, dari kata cedak Reel Sepur. Karena rumah ini dekat bekas stasiun kereta jaman dulu. Rumah produksi ini dimiliki orang pribumi (karena biasanya Cina). Ada bermacam variasi: 2 warna, tiga warna, dan yang mahal Batik Tiga Negeri (batik asli Lasem, campuran jawa, cina). Batik ini diproduksi sendiri dengan bantuan buruh batik.
Di sini kalian bisa melihat proses membatik mulai dari menggambar, melalui cucuk canting di atas kain untuk membuat motif. Selanjutnyak kain yang sudah dibatik dengan canting itu diwarnai dengan pewarna batik. Proses pewarnaan diulang sebanyak warna yang diinginkan. Jika satu warna proses menggambar satu kali, jika dua warna proses mewarnai dua kali dan seterusnya. Tingkat kesulitan menggambar sesuai dengan kerumitan desain, klasik. Pembatiknya sangat ramah-ramah. Jika kalian datang berkunjung, kalian bisa melihat-lihat langsung dan bertanya-tanya. Batik yang dibuat rumah ini kualitas standar dengan harga terjangkau.
BATIK LASEM NINGRAT
Batik Lasem adalah batik legend yang estetik. Batik Tiga Negeri yang terkenal dari dulu hingga kini, harganya mencapai 2-5 jutaan. Variasi harga tergantung motif dan warna. Jika yang reguler dipatok harga 2 warna : 250 K, tiga warna 350 K. Inilah Batik Ningrat yang ditulis tangan, dan diproses manual. Dengan tangan perempuan desa Lasem, dan pewarnaan yang awet tidak luntur meski dicuci mesin cuci. Batik Ningrat termasuk batik yang halus dengan pewarnaan yang estetik, berada di desa Sumbergirang Lasem.
Nah Batik Ningrat ini kualitas premium jadi9 harganya juga lumayan mahal. Namun sepadan dengan kehalusan dan warna kainnya sangat bagus. Rumah produksinya sangatlah besar, depan ada joglo tempat gallery memajang kain-kain batik. Di rumah belakang adalah tempat produksinya. Ada dua tempat produksi : Batik tulis dan Batik cap. Pemiliknya Pak Rifai juga sangat ramah, welcome jika ditanya-tanya tentang proses membatik.
Lasem juga dipandang sebagai kota tua yang eksotik. Kota ini memiliki banyak peninggalan Sejarah, yaitu Petilasan Sunan Bonang dan Makam Wali “Mbah Sambu”, dengan nama asli Sayyid Abdurrahman Basyaiban. Lasem juga kota santri, tempat pondok pesantren dan para kyai dan Gus. Gus Zaim Maksum, Pondok Al Mansur, Gus Qoyyum dll. Lasem merupakan kota yang masyarakatnya perpaduan Jawa, Cina, dan Arab.
GUS BAHA
Yang paling terkenal adalah Gus Baha mengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, yang terletak di Desa Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan untuk melanjutkan tradisi keilmuan Al-Qur’an dari sang ayah, KH. Nursalim al-Hafizh. Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) dikenal sebagai ahli tafsir brilian dengan pendekatan fiqih yang sederhana dan mendalam. Pondok pesantren ini memiliki gaya pendidikan yang unik dan sangat lekat dengan ciri khas keilmuan Gus Baha. Berbeda dengan pesantren modern yang sering menerapkan seleksi ketat seperti syarat hafalan, LP3IA terbuka bagi siapa saja untuk belajar agama dan ilmu Al-Qur’an secara mendasar.
Gus Baha tidak kerso menerima tamu. Namun jika kalian ingin mengaji dipersilahkan ikut jadwal mengaji. Gus Baha juga virall di youtube. Beragam kajiannya dapat ditemui di cannel Youtube.
GUS QOYYUM
Gus Qoyyum adalah putra dari KH. Mansur Kholil yang merupakan pengasuh pondok pesantren An-Nur Lasem, Kabupaten Rembang. Setelah wafatnya sang Ayah, KH. Mansur Kholil pada tahun 2002 Ponpes tersebut diasuh langsung oleh Gus Qoyyum.
Gus Qoyyum adalah teman sepermainan penulis. Semasa sekolah dasar Gus Qoyyum dikenal bayak tingkah, hingga akhirnya diberhentikan sendiri oleh Ayahanda. Gus Qoyyum belajar sendiri dari ayahnya, lama menghilang kabarnya dapat ilmu laduni. Sekarang Gus Qoyyum menjadi kyai yang kharsimatik dan diandalkan di kota Lasem. Rumah kediaman beliau ada di RT 07 Desa Soditan. Desa yang banyak memiliki pondok pesantren, selain An-Nur (Pondok milik Gus Qoyyum), Pondok Al Islah, Pondok Al Hidayat.
Dimasyarakat, kiprah Gus Qoyyum sangat banyak, tidak sekadar mengisi pengajian rutin di pesantrennya, tetapi beliau juga memberikan nasihat pernikahan, pengajian umum, tabligh akbar, diberbagai penjuru kota di Jawa, luar jawa bahkan diluar negeri. Saat melakukan tausiyah, Gus Qoyyum selalu memikat hadirin yang mendengarnya. Daya pikatnya tidak hanya pada gaya penyampainnya yang khas, tetapi kualitas materi yang disampaikan juga sangat berbobot.
GUS ZAIM
KH. Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem (Gus Zaim) adalah pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Kauman di Lasem, Jawa Tengah. Beliau juga menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah. Gus Zaim dikenal luas sebagai figur yang merawat harmoni, toleransi, serta sejarah multikultural Gus Zaim: Lasem Kota Multietnik.
Keunikan lain dari sosok dan pemikiran beliau meliputi: Pendiri Ponpes di Pecinan: Gus Zaim mendirikan pesantrennya di tengah kawasan Pecinan Lasem dengan memanfaatkan bekas rumah Tionghoa Ponpes Kauman. Pesantren ini menjadi pusat pendidikan karakter yang menekankan akhlak dan iman Gus Zaim: Ilmu Wasilah menuju Akhlak. Tokoh Pluralisme: Beliau aktif mempromosikan nilai toleransi antarumat beragama dan etnis, menjadikan Lasem sebagai contoh bagaimana komunitas Jawa, Arab, dan Tionghoa dapat hidup berdampingan secara damai.
Gus Zaim adalah tetangga kampung penulis. Kediaman beliau waktu kecil di Desa Soditan RT 05. Rumah kakek beliau Mbah Maksum berada tepat di depan rumah penulis. Semasa kecil penulis mengaji Bersama dengan ibunda beliau. Setelah menikah Gus Zaim mendirikan pondok sendiri, di Desa Karang Turi, desa yang banyak penduduk peranakan cina.
LASEM KOTA PANTAI
Lasem juga kota pantai utara, banyak pantai di sini, ada pantai Ndasun, pantai Mbinangun, Pantai Karang jahe dll. Lasem penghasil garam, dan Bandeng. Di sepanjang jalan ada Tambak di kanan kiri, yang mana tempat produksi garam, dan Bandeng.
PANTAI NDASUN
Pantai Ndasun berada di Kota Lasem, yang merupakan kota pantai. Banyak pantai di kota Batik ini, Pantai Ndasun, Pantai Karangjahe, Pantai Mbinangun, Pantai Caruban dll. Di sini Pantai Ndasun terbilang masih baru dibuka, baru satu tahun. Pantainya lumayan lebar, ada batu batu besar yang menahan air ombak. Banyak pohon cemara yang mengelilingi pantai ini.
Di sini juga mulai ada banyak penjual atau warung, kelapa muda, pecel, dan gorengan. Melihat pemandangan sambil duduk duduk di kursi-kursi yang tersedia, enak banget. Pantainya juga landai aman untuk bermain anak-anak. Ada ubur-ubur , kerang, atau kelomang. Lokasinya ada di Dukuh Ndasun. Dari Alun-alun Lasem, masuk gang jalan Soditan, lalu melewati kampung Pecinan. Melewati Omah Candu, belok kiri terus lurus, ikuti panah sampai ke Pantai Ndasun.
Pantai Ndasun termasuk Pantai baru dibuka oleh warga, masih perawan. Jalannya masih makadam, dan pantainya belum dibangun Gedung-gedung. Hanya ada warung gedek (bambu) yang berbaris rapi sekitar ada empat warung. Warung ini melayani nasi pecel, gorengan, Es Kelapa muda dll. Lumayan sudah ada kamar mandi tempat bilas dan ganti. Hanya Namanya masih perawan, jadi belum terlalu luas dibandingkan Pantai Karang Jahe yang sudah lebih dulu komersil.
Pantai ini baru dibuka satu tahun. Saya juga baru tahu tahun 2025. Arah ke pantai dari Desa Soditan berjalan ke arah Ndasun melalui kampung Cina, lalu Kali Babagan, dan jalan lurus sampai Dusun Ndasun. Dari sini masih lanjut mengikuti arah panah jalan makadam, sampai ke jalan yang berpasir, menuju Pantai Ndasun. Parkirnya cukup luas, kalau bawa mobil, semisal dari luar kota masih bisa masuk.

PANTAI KARANG JAHE
Pantai Karang Jahe adalah objek wisata alam berupa pantai berpasir putih yang terletak di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Pantai yang membentang sepanjang 3 kilometer ini memiliki khas, yaitu memiliki banyak karang kecil yang berbentuk seperti tanaman jahe sehingga dinamakan pantai Karang Jahe. Pantai ini memiliki ombak yang tenang. Pantai ini dapat dicapai dengan kendaraan selama 3 jam (125 KM) dari pusat Kota Semarang ke arah Kota Surabaya jika memakai kendaraan pribadi.( https://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Karang_Jahe)
Pantai Karang Jahe ini Pantai yang paling terkenal dan paling komersil di Kota Lasem. Jalan masuknya sudah dibangun bagus, Lokasi parkir juga sangat luas. Selain Pantai dengan pasir putih, Pantai Karang Jahe juga dilengkapi dengan aneka permainan motor boat.
Jika kalian berminat ke Pantai, mampirlah sini. Selanjutnya kalian bisa beli oleh-oleh kain batik di aloon-aloon Lasem. Aloon-aloon Lasem pun sudah dibangun rapi, mirip kota lama di Semarang. Ada lampu tua (lampu teplok), duduk bundar , dan kursi Panjang untuk bersantai. Setelah Lelah berjalan-jalan di Rumah Oei atau Rumah Merah, kalian bisa menjalankan ibadah sholat di Masjid Jami Lasem. Masjid yang sangat besar dengan ornament kayu jati, dan lampu jadul. Bisa juga kalian mampir takjiah ke Makam Waliyullah “Mbah Sambu” di sayap kanan Masjid Jami’ Lasem.

Daftar Pustaka:
Womanindonesia.co.id. Mengenal 30 Motif Batik Lasem Perpaduan Budaya Tiongkok – Jawa, https://www.womanindonesia.co.id/mengenal-30-motif-batik-lasem/