KOTA KECIL BERWARNA PANTAI  

Puisi

Sebuah Kota Kecil yang tak terdengar, Lasem. Kota pesisir beralaskan Pantai dan Tambak. Tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Bertetangga dengan orang-orang Cina sudah dari dulu. Rajin mengaji ke surau di sore hari. Bermain petak umpet di malam purnama. Kota berbudaya dengan pesona batiknya.

Hanya bisa berbangga dengan Batik Tiga Negerinya. Batik kualitas bagus dan warna yang cerah. Merah Mahogany, Coklat kayu, Biru laut, dan daun asem Jawa. Warna dan buah kearifan local. Warna yang tidak pudar dimakan jaman. Mencanting itu seperti proses menggambar kehidupan. Kehidupanku yang berdua sekarang sendiri.

Pantai Lasem sangat indah, meski berwarna coklat, bukan putih seperti Pantai Selatan Yogya. Pantai yang ramah anak karena landai dan sedikit curam. Karang yang meski sedikit, namun batu ini cukup nyaman buat duduk santai. Seperti diriku ketika dimarahi oleh kamu, aku duduk di sini. Memandang langit merah dan batas cakrawala. Melihat pucuk perahu yang timbul tenggelam di batas cakrawala. Aku suka cakrawala. Batas cakrawala mengingatkan aku akan takdir. Takdir yang sudah digariskan Tuhanku, bahwa aku kini sendiri setelah kehilangan dirimu.

Pantai ini tempat aku bermain, mengayuh ombak, berenang dan mencari kerang. Meminjam perahu Nelayan, ikut sekali-kali berburu ikan. Rajungan adalah makanan favorit keluarga. Namun, kabarnya sekarang Rajungan itu sudah diekspor. Ikan-ikan yang bagus diekspor, kami tinggal makan ikan-ikan yang kecil. Sediihnya…

Lautku yang Biru kini tak lagi Biru. Coklat kecoklatan mirip kopi susu. Aku berharap pada Indonesiaku: Penghijauan dikerahkan, Bibit-bibit pohon disemai. Hutan yang gundul ditanami pohon-pohon rimbun. Air Sungai tak lagi dipenuhi sampah. Sungai mengalir jernih kebiruan hingga sampai Hilir. Bibir Pantai yang mempertemukan Sungai dan Laut. Lautku jadi biru lagi, dihiasi langit biru bak permadani dari India. Kelak di atas batu karang ini, aku bisa memandang cakrawala yang Biru. Ada Harapan aku bisa bertemu kembali denganmu.

oplus_34

Prosa ini dimuat di Prosais Babad Bumi , Letter of Hope for INDONESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *