CINTA SEDERHANA
(AKU INGIN MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA)
Penulis : Nikmah Yuana & Joti D Kartikasari
Adelia merupakan reporter di salah satu Lembaga Pers Mahasiswa Kampus, kegemarannya menulis membuat dirinya akhirnya memutuskan untuk terjun dalam pers kampus. Hal tersebut ia lakukan dengan harapan dapat ia jadikan tempat refreshing di tengah kesibukan perkuliahan.
Rangga adalah mahasiswa senior yang memegang Pimpinan Umum LPM SEMESTA. Rangga seorang yang cool, cerdas, lumayan ganteng, dan … kadang galak soal kerjaan.
LPM SEMESTA adalah lembaga pers mahasiswa Fak Ekonomi Universitas Merdeka Semarang. Sebuah kampus swasta yang bonafide dan berkualitas. LPM SEMESTA adalah tempat berkumpulnya para mahasiswa yang suka menulis dan fotografi.
Scene 1:
Di markas LPM SEMESTA.
Di sudut ditunjukkan kesibukan kru Semesta dalam menyiapkan berita. Ada yang mengetik, ada yang membaca referensi, ada yang menyiapkan dokumentasi. Lalu ditunjukkan dengan rapat umum brainstorming berita. Rangga sebagai PU memimpin rapat.
Take 1
Rapat :
Rangga : Ok gaes kita mulai rapat koordinasi penerbitan Semesta yang akan datang. Bismillahirrohmanirrohiim. Alhamdulillah dalam pengurusan kita telah menerbitkan tiga edisi majalah (sambil menimang-nimang majalah dan ngomentari satu-satu). Kita patut bangga edisi kita yang terakhir “ E-Commerce di Pasar Bebas” mendapat pujian dari Pak Rektor. Keren! Semoga kita dapat meningkatkan kualitas penerbitan. Ok, saya mulai apa tema untuk terbitan yang akan datang?
Dara : Bagaimana kalo tentang Koperasi, “ Koperasi soko guru ekonomi nasional”
Crew 1 : Oh itu kan mirip dengan tema kemarin, UMKM menyokong ekonomi nasional, gimana sih.
Dara : Tapi ini kan UMKM bukan Koperasi
Crew 1 : samalah
Dara : beda lah
Rangga : Sudah-sudah malah debat. Gimana kalo tentang “Good Governance BUMN di Indonesia”. Nanti sudut pandangnya Pajak, dan perusahaan Negara atau BUMN. Sekarang kan lagi marak penyimpangan yang dilakukan oleh oknum pejabat BUMN.
Adel : Ok Kak setuju. Tema ini sangat menantang untuk diangkat. Pasti trending .
Lalu ditunjukkan dengan cinematik Rangga memimpin Rapat , menulis di papan tulis, lalu menerima usulan, dan pembagian tugas.
########
Take 2
Menjelang penerbitan, karena seorang crew yang tiba-tiba sakit maka tugasnya harus dialihkan. Rangga sedang memonitor naskah yang masuk. Adelia yang berniat mampir hanya untuk mengaso jeda kuliah, langsung dipanggil.
Rangga : Adelia sini! ( tangan melambai)
Adel : Ya Kak Rangga ada apa?
Rangga : Lagi jeda apa sudah pulang?
Adel : Jeda Kak. Barusan mau ngaso nih ( sambil selonjoran dan kipas-kipas kepanasan).
Rangga : Gini , itu si Anto tiba-tiba lagi sakit di Rumah Sakit ?
Adel : Hah, sakit Kak. Sakit apa?
Rangga : Dengerin dulu. Tunggu aku selesai bicara,” Nah si Anto ini sakit tahu badan segede Gajah bisa kena tipus. Nah, Anto ini sukanya ngaret nunda kerjaan, jadilah belum ditulis sama sekali reportasenya, keburu tumbang. Busyet Antok itu, bikin pusing.
Adel : Kasihan lah Kak, sakit.
Rangga : Yah kasihan lah, tapi tugasnya selesein dulu baru boleh sakit. Ini mah sakit tugas ditinggal, busyet! Kamu ya yang kerjain!
Adel : Lho kok aku Kak? Aku kan reporter yunior? (dalam hati ngelus dada, uff niat mau ngaso malah dikasih tugas)
Rangga : Ya kamu. Tulisanmu kubaca bagus. Kamu pasti bisalah.
Adel : Tapi .. kan banyak yang lain yang lebih kompeten Kak. Ada Kak Reza, Umi masa aku.
Rangga : Ini perintah! Yang lain banyak job. Nih bahan-bahan yang harus ditulis: rekaman, dokumentasi ada diflash ini semua.
Adel : yah (angkat tangan) sambil menatap Rangga dan nyimak (dalam hati ganteng juga kakak ini tapi galak amit-amit)
Rangga : artikel ini ditulis lebih dalam ya. Ditulis lebih ke deep news, karena aku mau beritanya bisa memuat segala fakta, tanpa ada satupun yang tertinggal.
Adel : Siap, Kak. Insyaallah
Rangga : Kok Insyallah ?
Adel : Insyaallah artinya siap Kak
Rangga : Insyaallah biasanya tidak ..
Adel : Yang ini siap kak he he. Kakak nggak percaya insyaallah? Dosa lho Kak he heh (becanda)
Rangga : Percaya Percaya. Nah, Besok pagi artikelnya aku mau udah bisa terbit, jadi maksimal nanti subuh kamu udah setorin artikel ke aku buat koreksi, sebelum di-up beritanya.
Adel : Kak, tapi kalau besok kayaknya aku nggak bisa. Nggak sempet.
Rangga : Del, ini kan udah tugas kamu. Temen-temen kamu dari kemarin udah dapet job nulis, lagi pula semua hasil wawancara ada, kamu tinggal nulis. Aku nggak mau denger banyak alasan dari kamu.
Adel : Baik, Kak. (dengan muka pasrah akhirnya Adel mengiyakan tugas satu ini)
Akhir-akhir ini memang seringkali Adel absen dalam penulisan berita. Hal tersebut tak lain karena ia masih kesulitan mengatur waktu antara tugas perkuliahan dengan tugas di organisasinya. Tapi ia juga menyadari, bahwa hal tersebut tak bisa ia jadikan alasan terus-menerus.
Scene 2
Kos Adel. Pukul 22.00 WIB
Adel : Duh. Alamat nggak tidur sampe pagi. Masak jam segini baru dapet satu paragraph. Lagian si kak Rangga yang bener aja, masak berita kayak gini disuruh nulis aku sendiri, nggak ada partner-nya. (gerutu Adel sembari tangannya masih fokus pada layar laptop, untuk menulis)
Adel : Mentang-mentang tinggal nyuruh. Lebih-lebih mau bantuin. Ini mana, nggak ada tanya ada kesulitan atau enggak. (muka Adel kian masam)
Sari : Del, kamu ngapain sih? Ngomel-ngomel terus dari tadi? (Sari teman satu kamarnya yang sedari tadi mencoba tidur, terganggu dengan ocehan Adel)
Adel : Ini nih, Sar. PU aku di SEMESTA. Yakali ngasih deadline berita besok.
Sari : Oh si Rangga Rangga itu?
Adel : Iya, Sar. Dia, sebel banget sama dia. Mana maksa.
Sari : Mending buruan kamu kerjain deh. Cepet selesai, biar bisa cepet tidur hahaha. Aku tidur dulu ya. Fighting, Adel. Jangan berisik lagi, ngantuk nih. (Sari buru-buru menarik selimut untuk menutup kepalanya, sebelum Adel kembali mengoceh tentang Rangga)
Adel : Dasar, nggak setia kawan (Adel melempar bantal kea rah Sari. Lalu kemudian kembali menatap takzim layar laptopnya)
Scene 3
Tempat Kos
Pukul 05.00
Adel : (Adel mengirim hasil tulisannya kepada Rangga)
Setelah hasil tulisannya terkirim, akhirnya dia tertidur. Kebetulan hari ini dia kuliah siang, jadi ia bisa mengganti hutang tidurnya semalam yang tersita untuk menulis berita.
Scene 4
Lokasi : Kantor LPM SEMESTA
Adel : (Muka Adel tegang setelah menerima pesan dari seseorang)
Dara : Del, kenapa?
Adel : (Adel masih terdiam, pikirannya entah memikirkan apa, mukanya kian pucat)
Dara : Del, kenapa? (kali ini Dara memanggil Adel, dengan suara yang lebih keras sambil tangannya menepuk pundak Adel untuk menyadarkan Adel dari lamunannya)
Adel : Dar gimana nih? Kayaknya salah deh beritaku kemarin? Dar gimana? Aku takut? (mata Adel berkaca-kaca, raut wajah takut benar-benar tak hilang dari dirinya)
Dara : Coba pelan-pelan ceritanya. Kenapa sih? Muka kamu kok ketakutan gitu? (Dara mencoba menenangkan Adel)
Adel : Kak Rangga bakal marah nih pasti sama aku. Dar gimana nih? (Adel benar-benar tak fokus sekarang, pertanyaan-pertanyaan dari Dara, teman reporternya di LPM SEMESTA, tak digubris sama sekali)
Dara : Oke kamu tenang dulu ya. Aku chat kak Rangga, biar dia ke sini.
Beberapa saat kemudian, Rangga datang.
Dara : Kak itu Adel di situ. Dari tadi dia belum mau cerita, katanya nunggu kakak. Coba kakak tanya dia.
Rangga : Oke, makasih ya ra.
Dengan hati-hati Rangga mendekati Adel yang tengah terduduk di pojok kantor.
Rangga : Del, ini aku udah dateng. Kamu kenapa? (Rangga mencoba berkomunikasi dengan Adel selembut mungkin. Sungguh di luar kebiasaan, karena Rangga dan Adel di organisasi terkenal seringkali berselisih paham)
Adel : Kak maafin Adel ya, kak Rangga jangan marah. Aku takut, Kak.
Rangga : Enggak, coba cerita. Kenapa?
Adel : Aku tadi dapet pesan dari salah satu pihak yang kita angkat di berita, Kak. Pak X kak, pak X tadi ngechat aku. Bapaknya nggak terima kak, soal berita yang kita up. Katanya aku bakal dituntut karena telah mencemarkan nama baiknya. Bahkan aku diancam bakal dikeluarin dari kampus kalo berita yang udah kita upload nggak ditarik, dan kita nggak melakukan klarifikasi permohonan maaf terkait berita itu kak. (Adel berusaha cerita dengan terbata-bata, ia takut. Sebagai kru junior di LPM SEMESTA, ia sudah mendapatkan ancaman seberat ini)
Rangga : Tenang dulu ya, Del.
Adel : Aku takut, Kak. Gimana kalau beneran hal ini bakal dibawa sampai jalur hukum? Gimana kalau aku di-DO?
Rangga : Enggak akan. Kita punya narasumber, berita yang kita terbitin juga berdasarkan riset yang udah kita lakukan. Kalau pak X nggak terima, karena mungkin beliau takut. Kita punya bukti, Del. Kita nggak perlu takut. (Rangga mencoba menenangkan Adel)
Adel : Beneran, Kak? Aku nggak salah nulis kan kak berarti?
Rangga : Enggak, udah kamu jangan nagis lagi. Aku kan disini PU, aku akan bertanggung jawab atas setiap berita yang diterbitkan. Masalah ini, juga tanggung jawabku. Jadi kamu jangan khawatir, kamu nggak sendirian.
Adel : Makasih, Kak. (Adel menyeka air matanya, ia sudah berangsur tenang mendengar penjelasan Rangga)
Scene 5
Lokasi Lab Gedung Baru
Rangga dan Crew 1 dan 2 pergi ke kantor. Suasana Kantor sibuk: Farhan mengerjakan tugas di mejanya, Darisman (Mr X) mengerjakan tugas . Crew 1 menelpon Farhan untuk mengalihkan perhatian.
Crew 2 mengajak bicara tentang pemuatan berita profil pejabat BUMN teladan tahun ini.
Crew 2 : Permisi Pak Darisman, saya dari media Suara Independen, hendak mewawancarai bapak tentang usulan Bapak sebagai pejabat BUMN teladan tahun ini.
Darisman (merasa senang dan sombong , memegang kerah): Oh itu betul sekali saya orangnya. Ha hah
Crew 2 : Bisa bicara dilobby Pak, biar lebih nyaman?
Darisman : Ok
Lalu keduanya bicara di lobby. Cinematic
Rangga menyelinap , mengendap, membuka laptop lalu menyalin data tentang penyelewengan yang telah dilakukan Mr X. Cepat dicopy dalam flasdish …………..
##############
Rangga : Del, ini kamu pelajari juga ya. Ini bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Mr X memang terbukti korupsi, kita juga punya saksi, nanti kita bisa wawancarai saksi itu. Tapi identitas dari saksi tidak berkenan untuk diberitahukan, tapi itu nggak masalah. Itu hak dari saksi. Kita juga berkewajiban untuk melindungi saksi. (Rangga menyodorkan setumpuk bukti-bukti yang berkaita dengan berita tentang Mr X)
Adel : Baik, kak. Aku bakal pelajarin ini semua.
Rangga dan Adel hanyut dalam tumpukan bukti itu, mempelajari dengan seksama tumpukan-tumpukan kertas yang berisi penuh dengan tulisan itu.
Scene 6
Lokasi Lab Gedung Baru : Lobby
Hari di mana Adel dan Rangga menemui Mr X, guna menjelaskan sekaligus menunjukkan segala bukti yang telah mereka kumpulkan.
Rangga : Permisi, Pak. Saya Rangga, saya Pemimpin Umum di LPM SEMESTA, dan ini Adel, reporter di LPM SEMESTA yang kemarin menulis berita tentang bapak.
Mr X : (Menggebrak meja) saya nggak mau tau, hapus berita itu. Dan berikan klarifikasi bahwa apa yang telah kalian tulis itu salah. Kalian ini telah mencemarkan nama baik saya, kalian tau? (ucap pak X dengan penuh emosi)
Rangga : Maaf pak sebelumnya. Kami tidak bisa menarik berita yang telah kami tulis, apalagi membuat video klarifikasi apabila berita yang kami tulis sudah berdasarkan fakta.
Mr X : (memotong penjelasan Rangga) apa kamu bilang? Fakta? Jelas-jelas itu semua fitnah, saya akan bawa ini ke jalur hukum jika kalian keras kepala.
Rangga : Silahkan, pak. Kami tidak takut, karena kami benar. Kami punya cukup bukti terait artikel kami, jika bapak tidak berkenan dan merasa artikel ini fitnah, silahkan bawa ini ke jalur hukum. Kami tidak takut.
Mr X : Sok sekali kalian anak kecil, anak kemarin sore berani-beraninya melawan saya. Pergi kalian dari sini, tunggu saja, kalian akan dikeluarkan dari kampus. (usir Mr X pada Rangga dan Adel)
Rangga : Kami permisi, pak. Terima kasih.
Scene 7
Lokasi lab gedung baru
Take 1
Suasana di kantor terasa kurang nyaman, dari tadi Mr X gelisah dan marah-marah, membolak balik dokumen. Berjalan maju mundur gelisah.
Farhan : Kenapa sih Kamu Dar dari tadi mondar mandir kaya kena pelet.
Darisman (MR X) : Pelet gundulmu! Nggak usah ikut campur urusan gue, baru mau cari wangsit nih.
Farhan : Mau cari wangsit? Aku ada kenalan Mbah Dukun, ampuh lho, bisa ngerjain segala macam amalan. Pelet, Jaran Goyang, Pitik Walik, Ilmu mendem…… terus… (sambil mikir tertawa ngerjani)
Darisman : Nggak lucu! Ini masalah politik dalam negeri. Diam! Nggak usah ikut campur .
########
Take 2
Selang kemudian , datang petugas keamanan
Security : Selamat siang bisa bertemu dengan Mr X? Atau dikenal dengan Pak Darisman.
Darisman : Yah ada apa ya ? (sambil garuk-garuk , kemudian tenang )
Security : Anda kami tangkap. Saya bawa surat penangkapan dari komandan, tentang kasus korupsi yang dilaporkan media mahasiswa. Bukti-bukti menunjukkan Anda bersalah. Anda harus ikut saya ( sambil memborgol ke dua tangan)
Darisman : Eh apa-apaan ini kok saya ditangkap. Asem! Woy saya tidak bersalah, saya punya bukti-bukti yang lebih lengkap dibanding anak-anak sialan itu. Jancuk!!
Security : Nanti bisa diselesaikan di kantor Pak. Sesuai prosedur yang berlaku.
#################
Take 3
Setelah pertemuan itu, Mr X diciduk oleh polisi karena terbukti telah melakukan korupsi, dan LPM SEMESTA dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik kepada pak X.
Adel : (menangis terharu karena LPM SEMESTA memang)
Rangga : udah nggak usah nangis, kan kita menang.
Adel : (menatap Rangga penuh haru) makasih kak Rangga.
Scene 8
Tempat nongkrong mahasiswa / Gazebo
Setelah kasus artikel pak X, hubungan Rangga dan Adel cukup akrab. Sudah jarang berselisih paham dalam organisasi. Tapi Rangga sudah jarang sekali ke kantor, kesibukannya sebagai mahasiswa tingkat akhir benar-benar menyita waktunya. Berbanding terbalik dengan Adel, yang sekarang leboh semangat menjalani perannya sebagai reporter di LPM SEMESTA. Ia begitu semangat sekarang.
Adel : Ra, kak Rangga jarang keliatan ya sekarang. Kemana ya dia?
Dara : Kangen pasti hahaha (Dara meledek Adel)
Adel : Enak aja, ya sepi aja di markas. Biasanya kana da yang ngomel-ngomel.
Dara : Hahaha, percaya. Dia tu lagi sibuk skripsian Del setauku. Kemarin aku papasan sama dia aja, aku panggil nggak nengok, serius banget mukanya. Mahasiswa tingkat akhir hahaha
Adel : ohhhh (Adel hanya meng-oh kan pernyataan dara, padahal sebenarnya dia memang sedikit rindu dengan Rangga)
Scene 8
Lokasi : Tempat Kos
Adel : Hi kak, kakak sibuk ya? Hehehe. (pesan singkat Adel kirimkan kepada Rangga)
1 jam kemudian
Adel : (tersenyum sumringah) iya nih haha. Nggak sempet nengokin markas.
Adel : Kalau kak Rangga butuh bantuan, jangan sungkan buat bilang ya kak. Itung-itung balas budi. (balas Adel cepat, merespon pesan Rangga)
Scene 9
Lokasi : Markas LPM SEMESTA
Adel : Kak Rangga (sapa Adel sumringah mendapati Rangga tengah berada di dalam markas)
Rangga : Eh, Del. Hai, lama nggak ketemu.
Adel : Kak Rangga lagi apa di sini?
Rangga : Nggak papa tadi dari perpustakaan, mampir. Kangen juga sama markas. Heheh
Adel : ohhhh hehehe
Rangga : oh iya, Del. kemarin kan nawarin bantuan ke aku. Masih berlaku nggak sekarang?
Adel : Masih dong, Kak.
Rangga : Jadi aku diminta buat jurnal soal skripsiku….. (Rangga menjelaskan bantuan yang ia perlukan kepada Adel)
Adel : Oke siap, aku bisa bantu kak.
Semenjak itu, Rangga dan Adel sering bersama. Adel merasa senang karena bisa sering bertemu dengan Rangga, yang ternyata Rangga pula merasakan hal yang sama, tapi Rangga tak menunjukkannya kepada Adel.
Scene 10
Kampus : Gazebo / Lapangan Basket
1 bulan kemudian
Adel : Kak aku besok harus berangkat ke Bangka Belitung jadi aku nggak bisa bantuin kak Rangga dulu. Aku mau liputan ke sana kak, mungkin 2 atau 3 hari aku di sana.
Rangga : Oh gitu, iya Del gapapa. Sama siapa? (perasaan Rangga sedikit tidak enak mendengar ucapan Adel, enatah rasanya ia khawatir)
Adel : Sendiri kak.
Rangga : kamu yakin sendirian? Berani? (Rangga semakin khawatir mendengar penjelasan Adel)
Adel : hehe beneran kak. Lagian Cuma mau wawancara narasumber kak, jadi insyAllah bisa sendiri. Kalau bareng-bareng nanti dananya membengkak juga hehe.
Rangga : hati hati ya, Del yang penting.
Adel : siap kak.
Scene 9
Lokasi : Bandara Ahmad Yani
Take 1
Rangga mengantarkan Adelia ke Bandara. Keduanya bercakap-cakap dan bergandengan tangan. Tiba saat mau tak off
Adelia : Kak sudah waktunya aku dipanggil, aku pamit dulu ya Kak. Jaga baik-baik ya Kak.
Rangga : Adelia ….. ( seperti mau mengungkapkan sesuatu “ aku cinta padamu” tapi tertahan tidak jadi.)
Adelia : Ya Kak ( menunduk sibuk menyiapkan barang, dan koper , berkas-berkas)
Rangga : Adelia….. eee eehmm sebenarnya selama ini aku….. aku…..
Adelia : Mendongak… ya Kak? Apa Kak ( menatap dan tersenyum )
Rangga : (ditatap jadi gemetar. Padahal tadi malam sudah latihan) Eeh sebentar di kerudungmu ada semut tuh . Sini aku buang (disentak sedikit), nanti gigit kamu lagi bengkak he heh (tertawa sambil garuk-garuk tidak gatal)
Adelia : Eh Kak Rangga bisa aja. Sudah ya Kak aku siap menjalankan tugas. Doain aku ya Kak.
Rangga : Ya aku pasti doain kamu Dek ..eh Adelia ( suaranya bergetar) Dalam hati berkata,” Aku sangat mencintaimu, aku pasti akan menunggumu. “
Take 2
29 Oktober 2018
Lokasi : Kampus ( lapangan hijau – tribun)
Kecelakaan pesawat tersiar di stasiun televisi, pesawat yang dinaiki Adel, yaitu pesawat Lion Air JT 610 terjatuh di karawang, dan naasnya seluruh penumpang pesawat dilaporkan tak ada yang selamat.
Dara : (Dara berlari, mencari keberadaan Rangga saat itu)
Dara : Kak, kak Rangga (Dara menangis sejadinya-jadinya saat itu)
Rangga : Kamu kenapa, Ra?
Dara : Adel kak Adel (tangis Dara semakin pecah)
Rangga : Adel berangkat hari ini kan ke Bangka Belitung? Kenapa Ra?
Dara : Pe… pesawat Adel Kak. Pesawat yang dinaikin Adel kecelakaan.
Rangga : (Rangga terduduk mendengar penjelasan Adel, buru-buru ia mengecek handphone memastikan berita itu, betapa kagetnya ia saat membaca berita, ternyata benar berita itu, dan seluruh penumpang dilaporkan tak ada yang selamat)
Dara terus menangis di sebelah Rangga. Sementara Rangga, terduduk, diam, hati dan pikirannya benar-benar kacau.ia masih tak percaya, dengan apa yang barusan ia ketahui.
Rangga : Adel…… (lirih Rangga pelan)
Scene 10
Lokasi Hutan Karet Ungaran
1 minggu kemudian
Rangga memutuskan untuk muncak (naik gunung), mencoba naik gunung, melupakan kesedihannya yang sama sekali belum sedikitpun berkurang karena kepergian Adel
Sesampainya di puncak, ia mengeluarkan selembar foto, iya potretnya bersama Adel, gadis cantik yang beberapa waktu terkahir menemaninya. Gadis cantik yang ternyata diam-diam ia sukai.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Semaga kamu bahagia disana Adel……
Puisi dibacakan sambil ngorek-ngorek api unggun yang hampir mau padam.
Lagu : Membujuk Cinta – Imam Aldi RBSM (Scene Rangga)
Sejujurnya Cinta – Roza Berlyana (scene Adelia)