Simulasi Bercerita untuk Melatih Keterampilan Berbicara Publik pada Anak-anak di Rumah Baca Sampun Maos Banyumanik

Event Spesial

Sabtu, 2 Mei 2026, Rumah Baca Sampun Maos menjadi ruang belajar kolaboratif bagi mahasiswa Semester VI Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang melalui kegiatan belajar bersama yang diselenggarakan sebagai bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Berbicara Publik. Kegiatan ini merupakan hasil koordinasi awal antara mahasiswa dengan pendiri Rumah Baca Sampun Maos, Ibu Nikmatuniyah, yang juga dikenal sebagai dosen Politeknik Negeri Semarang.

Sejak pagi hari, para mahasiswa berangkat dari Universitas Negeri Semarang pada pukul 07.00 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 07.45 WIB. Setibanya di Rumah Baca Sampun Maos, mereka segera melakukan berbagai persiapan guna memastikan kelancaran acara yang dijadwalkan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pemenuhan akademik, tetapi juga merupakan wujud pengabdian mahasiswa melalui praktik berbicara publik secara langsung di lingkungan masyarakat.

Acara dimulai dengan doa bersama, diikuti dengan ice breaking untuk mencairkan suasana. Selanjutnya, sekitar 10 anak dibagi menjadi dua kelompok melalui cara berhitung yang menyenangkan. Kelompok satu menerima cerita bertema “dunia serangga dan isi kulkas”, sementara kelompok dua diberi materi tentang keuangan, makanan sehat, dan ekspresi wajah. Setelah pembahasan materi kelompok selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking “tebak hewan” yang interaktif. Pada penutup, anak-anak diminta menceritakan kembali apa yang telah mereka pelajari hari itu, dan mereka pun menerima reward atas partisipasi serta pemahaman yang ditunjukkan.

Sejak awal kegiatan dimulai, suasana di Rumah Baca Sampun Maos terasa hangat meskipun anak-anak sempat terlihat malu-malu. Ice breaking menjadi momen pembuka yang efektif untuk mencairkan suasana. Melalui tepuk-tepuk sederhana yang dipadukan dengan gerakan, anak-anak mulai tersenyum, tertawa, dan berani berinteraksi. Beberapa anak bahkan saling mengajak temannya untuk ikut bergabung. Perlahan, jarak antara panitia dan anak-anak memudar, berganti dengan suasana akrab yang membuat mereka lebih nyaman mengikuti kegiatan.

Memasuki sesi literasi, interaksi semakin terasa hidup. Dalam kelompok kecil, anak-anak menunjukkan karakter yang beragam, ada yang aktif membaca dengan suara lantang, ada pula yang masih ragu dan memilih membaca pelan sambil sesekali bertanya kepada kakak pendamping. Mereka saling berdiskusi, berbagi pendapat tentang isi cerita, hingga tertawa bersama saat menemukan bagian yang menarik.

Suasana semakin dinamis saat kegiatan bermain media pembelajaran dan berlanjut ke panggung cerita. Anak-anak bekerja sama menyusun dan menempel gambar sambil berdiskusi, bahkan berdebat kecil dengan penuh semangat. Ketika sesi panggung cerita dimulai, anak-anak yang awalnya ragu mulai berani tampil di depan, didukung oleh tepuk tangan dan semangat dari teman-temannya. Kegiatan diakhiri dengan permainan tebak gaya yang dipenuhi tawa dan keceriaan. Interaksi yang terbangun terasa begitu alami, menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang belajar, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk berekspresi, berkomunikasi, dan merasakan kebersamaan dalam suasana yang menyenangkan.

Hal yang paling berkesan dari kegiatan ini adalah antusiasme anak-anak yang begitu terasa sejak awal. Mereka terlihat aktif dan sangat ekspresif dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Bahkan, beberapa anak yang masih berusia sekitar dua tahun pun turut serta dengan penuh semangat, menunjukkan bahwa minat terhadap kegiatan literasi dapat tumbuh sejak usia dini.

Suasana yang tercipta pun terasa hangat dan menyenangkan, tidak hanya karena partisipasi anak-anak, tetapi juga karena keterlibatan orang tua yang turut mendampingi. Ibu dan bapak yang hadir tidak sekadar mengawasi, melainkan juga ikut terlibat dalam kegiatan, sehingga tercipta interaksi yang lebih hidup dan mendukung proses belajar anak-anak.

Bagi kami, pengalaman ini menjadi momen yang sangat berarti, tidak hanya sebagai wadah untuk berbagi, tetapi juga sebagai pengingat bahwa semangat belajar dan literasi dapat tumbuh dari lingkungan yang sederhana selama ada dukungan dan kebersamaan di dalamnya.

Melalui kegiatan ini, kami sebagai fasilitator bagi adik-adik di Rumah Baca Sampun Maos merefleksikan bahwa kegiatan berjalan dengan cukup kondusif dan tidak ada kendala yang berarti. Awalnya kami merasa khawatir apabila adik-adik yang hadir hanya sedikit, tetapi syukur alhamdulillah ternyata banyak yang datang sekaligus ditemani oleh orang tua mereka sehingga suasana menjadi semakin meriah. Kami pun belajar dari pengalaman ini untuk mengemas kegiatan literasi menjadi pembelajaran yang menyenangkan.

Kami percaya pengalaman berharga ini membawa dampak positif bagi kami dalam melatih dan mengembangkan keterampilan berbicara publik. Begitu pula dengan adik-adik yang telah menuliskan kesan dan pesan di penghujung kegiatan pada selembar kertas. Beberapa di antaranya menyampaikan bahwa kegiatan ini seru, meskipun ada juga yang merasa bosan, yang kemudian menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk dapat lebih baik lagi ke depannya. Mereka mulai belajar meningkatkan kepercayaan diri untuk berbicara di depan banyak orang, terutama saat sesi bercerita, meskipun usia mereka masih tergolong anak-anak.

Kami berharap adik-adik di Rumah Baca Sampun Maos semakin rajin membaca dan terus belajar. Sebab, sebagaimana slogan “Kita Membaca, Kita Kuasai Dunia”, hal tersebut dapat menjadi semangat yang terus tumbuh dalam diri mereka. Sukses dan semoga semakin berkembang untuk Rumah Baca Sampun Maos sebagai wadah kegiatan positif yang berdampak baik bagi anak-anak dalam upaya menumbuhkan literasi sejak dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *